Blog

THE POWER OF TOGETHER

The power of together. Guys, adakah yang lebih indah dari kebersamaan bersama keluarga? Saya rasa tidak ada. Khususnya bagi saya pribadi, keluarga adalah segalanya. Banyak momentum dalam hidup saya yang mampu saya lewati karena dukungan mereka. Termasuk salah satu bisnis yang saya jalani saat ini. #HNI.

Disaat-saat genting dalam hidup, keluarga selalu hadir, ga perduli bagaimana pun adanya kita. Bahkan walaupun waktu-waktu yang kita habiskan lebih banyak diluar sana bersama dengan orang lain, namun pada akhirnya keluarga juga yang tak pernah pergi dari kita bagaimana pun keadaan diri kita.

Saya beruntung memiliki keluarga yang sederhana, saya bahagia memiliki keluarga yang kompak dan saling menyayangi. Saya bersyukur terlahir ditengah-tengah mereka. Alhamdulillah untuk anugerah yang luar biasa ini ya Rabb.

Keluarga tidak selalunya tinggal dekat atau di tempat yang sama dengan kita, karena terkadang beberapanya justru tinggal di perantauan, jauh dari kampung halaman. Namun hubungan itu terjalin abadi, tak hanya melalui telepati, namun juga via jaringan telekomunikasi. Apalagi di zaman canggih seperti sekarang ini. Adanya Group Family membantu sekali untuk saling kabar-kabari.

Sejak akhir tahun lalu, ada kebiasaan baru di keluarga besar saya. Yakni PIKNIK bersama. Piknik ini bermula sejak paman pulang karena seorang anggota keluarga kami berpulang kepangkuan ilahi Rabbi. Hampir 20 tahun lebih paman tidak pernah pulang kampung. Dan hari itu walaupun pulangnya bertujuan untuk melayat kerabat yang lagi berduka, namun akhir kisahnya justru menjadi awal dari traveling keluarga besar.

1. KOTA JANTHO

Traveling pertama waktu itu adalah ke Kota Jantho, yang merupakan ibu kota dari kabupaten Aceh Besar. Dan tujuan utama dari perjalanan ini adalah rumah kerabat kami yang terletak dikawasan Trans Jalin. Sudah lama sangat paman tidak pernah ketemu dengan teman yang juga sekaligus kerabat ini. Silaturahmim plus urusan bisnis juga tentunya serta kerinduan mencoba kuliner ikan khas kawasan gunung jalin. Alhamdulillah sampai juga di rumah kerabat kami, sayang rambutannya masih hijau. Hahaha.

Paman saya ini statusnya saja PNS, namun pikiran dan jasadnya lebih sering di kebun ketimbang di kantor. Alhamdulillah beliau memiliki lahan yang cukup luas untuk perkebunan kopi, dan mulai produksi kopi Gayo sendiri. Kalau mau kopi gayo PM me yah. 😀 #Iklan. Namun ternyata lahan yang luas tersebut tidak menyurutkan langkah paman untuk melirik tanah dikawasan Jalin Jantho.

Pergilah kami ke kota Jantho hari itu dengan menggunakan 4 motor. Jadi ini PIKNIK 4 MOTOR namanya. Baca My Red Sweetie. Saya dengan sepupu perempuan, paman dengan anak pertamanya, bibi (istri paman) dengan anak bungsunya, dan anak tengah paman sendirian, hehehe…

Sesampainya disana langsung aja survey tanah, dan bukan bibi saya jika tidak selfie, hihihi. Usia boleh tua, namun sebagai pemilik salon tampil gaya anak muda sudah jadi ciri khas beliau plus foto sana sini. Apalagi melihat air sungai yang jernih dengan banyak ikan yang berenang disana sini. Daerah Jalin ini masuk ke pedalaman sedikit, saya kurang tahu tepatnya berapa jauh jaraknya dari kota Jantho sendiri. Ini kawasan transmigran. Banyak pendatang hidup disini, terutama suku Jawa.

2. LHOK SEDU

Esok harinya piknik kedua pun berlanjut dengan personil yang lebih banyak lagi. Paman saya sudah lama tidak melihat laut, jadi sebelum kembali ke Gayo Lues beliau pingin banget menikmati view laut selain misi pikniknya mencari ikan asin di daerah Leupung.

Jangan tanya soal tenaganya dari mana, guys. Kebayangkan ya naik motor dari my village, Aneuk Galong Titi ke Jantho berapa jauh jaraknya pulang dan pergi. Jika anda orang Aceh pasti tahu, namun jika bukan orang Aceh, gambarannya itu sekitar 50.60 km (pulang pergi), kawan. Sampai di rumah sore hari dan esok paginya kudu ready dengan piknik lanjutan, ke Lhok Sedu. Yang tidak pergi ke Jantho tentu tenaga masih full prima, namun kami yang ke Jantho kudu minum vitamin extra sebelum menempuh perjalanan piknik ke Lhok SEDU yang juga tidak kalah jauhnya. Andalan saya buat stamina yah Sevel/HC. Here Sevel and HC if you wanna more 🙂 and here we go…

Jika sebelumnya piknik 4 motor, maka Ini namanya PIKNIK 8 MOTOR, guys. Ibu saya boncengan dengan saya, sepupu yang perempuan dengan bibi saya, paman masih dengan anak pertamanya, dan istri paman dengan anak bungsunya, plus sepupu saya lainnya yang semuanya didominasi oleh lelaki. Begitulah keluarga besar kami, mayoritasnya anak laki-laki.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30,6 km dari Banda Aceh. Atau Jika ditambahkan dari jarak desa saya ke kota, 15 km, maka bisa dibilang jaraknya sekitar 45,6 km. Beti-lah ya jauhnya dengan jarak ke kota Jantho, right?

Well, menariknya kali ini adalah ibu saya dan kakak ibu saya (my aunty) juga ikut piknik selain paman (adik ibu). Ya iyalah kapan lagi kakak beradik bisa ngumpul begini. Saya awalnya kepikiran apa para orang tua ini sanggup duduk lama diboncengi pakai motor, bukan apa-apa guys. Tahu sendiri kan yah orang tua, apalagi jalannya sedikit berliku dan mendaki walaupun full aspal. Alhamdulillahnya bisa, yes! The power of together makes everything is easy.

Bagi saya dan keluarga yang terpenting kebersamaan, memang nyamannya pergi dengan mobil, namun mengingat yang pergi banyak, tentu mobilnya ga muat. Jadi disinilah kami belajar menepis keterbatasan. Keterbatasan mobil tidak boleh menjadi penghalang kebersamaan kami, ga ada mobil naik motor pun jadi. 😀

Begitu pun soal budject, jika mikir piknik bakal habisin banyak anggaran. Ya ga jadi-jadi pikniknya. Dan kami mengsiasati soal budget ini dengan membawa makanan sendiri dari rumah, jadi sesampainya di tempat yang dituju just order minuman sebagai ganti sewa tempat.

Kami memilih Glee Cafe di kawasan Lhok Sedu ini karena cafe tersebut terletak diatas bukit. Dan dari bukit ini kita bisa melihat view yang cantik. Enaknya lagi toiletnya bersih dan tempat shalatnya walaupun sederhana, nyaman banget. Shalat menghadap lautan dengan view yang menawan plus angin sepoi-sepoi. Aduhai nikmatnya. Lepas shalat rasanya enggan beranjak pergi, pingin duduk lama-lama memandang jauh kedepan sambil berdzikir. Namun apa boleh buat antrian panjang, guys. So kudu segera hengkang lepas kewajiban ditunaikan.

3. LAMPUUK

Piknik tidak mandi, bukan piknik namanya bagi sepupu-sepupu saya. So karena di Lhok Sedu ga bisa mandi. Maka lepas makan dan shalat Dzuhur perjalanan kami lanjutkan ke Lampuuk. Jadi hari itu pikniknya di dua tempat. Asyik kan? 😀

Inilah enaknya jika dalam keluarga banyak anak mudanya, kemana aja okay, toh yang paling penting kalau kemana-kemana itu supirnya, hahaha.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan, guys? Sungguh! Kebahagiaan itu sederhana kawan, melihat senyum merekah diwajah orang-orang yang kita cintai itu kebahagiaan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak selamanya kebahagiaan itu diukur dengan yang namanya materi. Sebab keluarga kami adalah keluarga sederhana, kami menikmati apa yang bisa kami nikmati dan mengsyukuri tiap nikmat yang Allah beri.

Mungkin diluar sana ada banyak keluarga besar lainnya, yang piknik mereka lebih berkelas, dimana tempat yang mereka datangi juga lebih wah, walau pun mungkin hanya hitungan tahun hal itu terjadi.

Alhamdulillahnya kami bisa menikmati momen kebersamaan ini tiap bulannya. Karena sejak hari itu, tanpa terencana dan direncanakan tiap bulannya kami piknik keluarga. Tiba-tiba ada saja yang bertanya, “bulan ini kita kemana enaknya?”. Kadang pertanyaan itu muncul dari saya, dan kadang dari sepupu-sepupu saya. Inilah THE POWER OF TOGETHER.

Biasanya tidak pakai waktu lama, pasca pertanyaan tersebut diajukan maka dalam pekan itu terus tereaslisasi, or pekan depannya hajat tersebut kami tunaikan jika waktunya ada yang tabrakan. Dan tanpa terbahasakan pun jika piknik kali ini minumannya sepupu saya yang bayarin, maka piknik selanjutnya minuman saya yang bayarin. Begitu seterusnya. Kalau makanannya tetap kami bawa dari rumah masing-masing. Saling berbagi, memberi dan melengkapi tanpa beban. Allahu Akbar!!!

5 Respon

  1. Enny-dudukpalingdepan berkomentar:

    Piknik dan jalan jalan itu investasi memori, jalan jalan sama keluarga investasi kebersamaan dan cinta. Keduanya sangat berguna untuk asupan jiwa agar terus bahagia 😀

    Seru banget, mba. Kalau diingat-ingat, semenjak nikah dan ikut suami jadi jarang piknik keluarga besar begini.

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Alhamdulillah mba masih Allah kasih nikmat jalan2 bareng keluarga besar.

      Segala sesuatu ada masanya. Masih bisa jalan2 dinikmati. Entar jika udah masa di rumah, blm tentu bisa pergi-pergi. Hihihi…

      Apalagi msh sendiri begini, masih bebas kemana aja. Entar jika udah nikah semua harus seizin suami. Bersyukur saja atas segala nikmat yang Allah beri. Alhamdulillah…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *