Blog

SARMA

SARMA. Hmm, Sarma apaan sich? Mau tahu banget or mau tahu aja? Hehehe. Yang pasti, Sarma bukanlah nama orang guys, apalagi nama apotik seperti Kimia Farma, hihihi. Baik, sebelum kita bahas tentang Sarma. Izinkan saya mengajak kita semua untuk mundur ke belakang sejenak ya. Sebab kisah ini ada benang merahnya.

 

Sekitar 14 tahun yang lalu, waktu di mana pertama kalinya saya menginjakkan kaki di ibu kota Indonesia, Jakarta. Tepatnya di daerah Bekasi. Saya selaku Menteri Infokom PEMA (Pemerintahan Mahasiswa) Unsyiah pada waktu itu dan kedua teman saya yang merupakan anggota dari Biro Infokom, kami di utus sebagai perwakilan dari Universitas Syiah Kuala untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Nasional yang diselenggarakan oleh Majalah Al Izzah di Islamic Center Bekasi selama hampir 2 pekan lamanya.

 

Bertemu dengan teman-teman di seluruh Indonesia dari universitas yang berbeda tentu saja sangat seru. Pada pekan pertama kegiatan kami full dengan teori di dalam ruangan, apa itu 4 W + 1 H, bagaimana membuat feature dan article yang menarik, apa itu tugas dan peran sebuah media, bagaimana sepak terjang pemred dan wartawan serta editor, etc. Pada pekan kedua kami harus terjun ke lapangan untuk praktek ilmu yang diberikan. Untuk itu kami di bentuk menjadi kelompok-kelompok kecil. Dimana kelompok-kelompok kecil ini diharapkan bisa menjadi cikal bakal media dan dituntut bisa bekerja selayaknya sebuah media profesional. Jadi dari tiap kelompoknya harus ada Pemred, editor, wartawan, dan layuoter. Kami pun harus memutuskan kelompok kami nama medianya apa, sasarannya siapa serta visi misinya apa.

 

Dalam sebuah kelompok harus ada 3 orang wartawan, di kelompok kami, saya salah satunya. Deadline time kami dalam mencari berita hanyalah setengah hari saja, yakni dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 12.00 WIB. Pukul 12.00 WIB harus sudah kembali ke Islamic Center kota Bekasi. Bekal kami hanyalah sebuah bed identitas diri plus peta kota Bekasi ala kadarnya di sekitar Islamic Center.

Saya bingung waktu itu mau meliput apa dan kemana, menjadi wartawan harus peka membaca keadaan di sekitar katanya. Semua bisa jadi berita jika kita peka. Saya memilih berjalan kaki saja menelusuri jalan, tidak berani naik angkot. Sebagai orang baru saya tidak mau mengambil resiko kesasar dan tujuan liputan menjadi kacau. Kasian team saya nanti, kehilangan berita dan harus direpotkan mencari saya juga. Lumayan jauh saya berjalan kaki, menelusuri trotoar di tengah panasnya mentari. Sempat terbersit untuk wawancara seorang pemilik toko yang saya lewati bagaimana usahanya bisa sukses. Hmm, jadi wartawan itu nyalinya harus besar dan tahan banting ya. Wawasan saya tentang dunia usaha masih minim, dari pada entar bingung sendiri. Saya urungkan niat tersebut. Saya memasuki pasar, bingung siapa dan apa yang mau saya jadikan berita di tempat tersebut. Akhirnya saya tinggalkan tempat itu dan berjalan kaki lagi.

 

Tidak lama kemudian, disaat saya menghela nafas panjang melihat jam di tangan sudah terlewati satu jam, namun objek berita belum ada bayangan. Mata saya tertuju pada seorang nenek tua renta yang berjualan sayuran di atas trotoar dekat sebuah jembatan. Entah kenapa nenek itu seakan menjadi medan magnet bagi saya. Di usianya yang sudah senja, berjualan di tengah teriknya mentari itu cukup menyentuh hati saya. Bagaimana dialog saya dengan sang nenek dan pelajaran apa yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut serta apa yang akhirnya saya tuliskan, bisa dibaca disini ya. Inspiring story: A brave woman

 

Well, apa kaitannya cerita di atas dengan Sarma? Erat kaitannya guys. Sebab Sarma (Sari Kurma Mangga) adalah minuman yang tercipta dari sebuah perjalanan. Hari itu, saya harus keluar rumah untuk suatu urusan. Karena saya tinggal di desa, jika mau ke kota semua urusan saya sekaliankan. Saya perlu ke ATM waktu itu untuk menyelesaikan beberapa transaksi, begitu saya mendekati sebuah ATM di kawasan Lambaro, Aceh Besar, dari arah belakang saya melihat seorang nenek duduk di atas trotoar di depan sebuah toko.

 

Awalnya saya bingung itu nenek ngapain duduk di situ di tengah cuaca panas begini, begitu saya memarkirkan motor di dekat ATM, baru saya tahu kalau beliau sedang jualan buah-buahan. Ya Rabb, melihatnya ingatan saya langsung terkonekasi dengan peristiwa 14 tahun yang lalu. Bedanya nenek yang dulu jualan sayuran, sedangkan nenek yang ini jualan buah-buahan. Setelah urusan saya di ATM kelar, saya menyapa si nenek, namun karena saya buru-buru masih ada janji yang harus dipenuhi saya tidak sempat dialog banyak dengan nenek tersebut, hanya sebatas bertanya harga buah lalu pergi. Harapannya jika suatu hari bertemu lagi ingin wawancara beliau. Entahlah, saya selalu percaya bahwa setiap pertemuaan memiliki makna yang dalam. Allah ingin mengajarkan sesuatu lewat makhlukNya. Entah itu tentang rasa syukur, rasa sabar, etc.

 

Sarma, minuman segar untuk menu anda berbuka. Cara buatnya cukup mudah dan sederhana. Potong-potong buah mangga yang sudah masak sesuai selera, lalu tuangkan dalam botol, selanjutnya tuangkan sari kurma ke dalamnya sesuai selera juga kadar manisnya mau gimana. Baru kemudian tuangkan air putih secukupnya. Simpan di kulkas. ini bisa menjadi infus water yang menyegarkan di saat berbuka, guys. Segarnya itu sampai ke relung hati, indeed! Trust me. Ini menjadi minuman favorite saya di bulan puasa ini. Resep baru yang terlintas di kepala karena melihat si nenek jualan buah-buahan. 🙂

Minuman ini juga aman bagi penderita maag, namun jika kamu ragu-ragu, buah mangganya bisa diganti dengan buah semangka, guys. Met mencoba ya. semoga menjadi minuman favorite kamu juga.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *