Blog

PULAU PENANG: ANTARA BISNIS DAN TKW

Pulau Penang: antara Bisnis dan TKW. Hmm, membaca judulnya terkesan ini bisnis per-TKW-an yah. Hehehe πŸ˜› No, sama sekali bukan begitu, guys. Well, biar ga salah persepsi, here the story.

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menginjakkan kaki di Pulang Penang, Malaysia. Terus terang, ini bukan perjalanan pertama saya kesana, melainkan ini trip yang ketiga kalinya. Tujuan utama trip saya kali ini memang untuk penguatan jaringan bisnis, guys. Yakni melakukan Home Sharing (HS) dengan mitra-mitra saya disana. Ahaa, Home sharing? Yup. Ini bisnis apaan sich? Mau tahu aja or mau tahu banget? πŸ˜€

Home sharing itu edukasi bisnis, guys. Segala sesuatu kan perlu ilmu untuk bisa berkembang dan membangun jejaring. Nah, bagi teman-teman yang pingin tahu lebih dalam tentang bisnisnya boleh kok chat saya langsung disini yah https://bit.ly/2GKwuf2 or ke langsung nomor WA yang ini 08972142338.Β Siapa tahu kita bisa kerjasama dan membangun jejaring bersama, bukankah together we can do everything, guys? πŸ™‚ You never know until you try, right?

Home sharing itu memungkinkan kita untuk belajar lebih dalam tentang bisnis yang kita geluti, menjadi sarana konsolidasi untuk menanyakan hal-hal yang belum kita mengerti dan ketahui, memupuk kekompakan antar anggota team agar bisa bersinergi dalam tiap actionnya, serta membuat beberapa racikan dari product kita sendiri sebagai bahan promosi saat kita syiar ke orang-orang yang ingin kita ajak untuk hijrah bersama disini. Selain bisa chat dengan saya langsung tentang bisnisnya, teman-teman juga bisa mengakses blog saya yang satu lagi sebagai brainstorming semenarik apa sich bisnis ini, lifestyle.

Di blog berkahlahirbatin.com ini, saya hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang kehidupan kota Penang sambil menyelami sekilas jejak para TKW disana, guys. Semoga menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, menjadi pelecut diri bagi saya juga untuk tak pernah menyerah, dan menjadi hamba yang tak pernah lelah untuk terus bersyukur atas segala anugerahnya.

 

Setiap pertemuan Allah yang merancang, bukan? Begitu pun kenalnya saya dengan seorang pengusaha wanita di Pulau Penang, kak Susi. Beliau owner restoran (rumah makan) Restu Ibu di kawasan Relau 88.

Allah mempertemukan kami di sebuah group bisnis. Dimana dalam group tersebut setiap hari Jum’atnya, tiap membernya boleh promosi bisnisnya masing-masing. Nah, hari itu saya posting tentang sebuah note bisnis. Tak lama setelah itu kak Susi PM me bertanya tentang bisnis yang sedang saya geluti dan langsung mengajukan diri untuk bergabung. Masya Allah! Begitulah rezeki guys, datang tak terduga, suka-suka Allah memberinya kapan dan dengan cara yang bagaimana. Tugas kita just percaya dan ikhtiar semampunya saja. Selanjutnya menjadi urusanNya. Terkadang kita jungkir balik mencari, namun hasilnya jauh dari prediksi. Sebaliknya ketika kita sekedar melakukan hal-hal kecil saja sambil memperbanyak doa dan berserah kepadaNya. Hasilnya justru diluar dugaan.

Ikhtiar itu perbuatan, sedangkan rezeki itu kejutan. Rezeki adalah hak pakai, halalnya dihisab, haramnya diazab. Terkadang ia datang bukan dari apa yang kita kerjakan. Begitulah cara Allah memberi kita pemahaman. Bahwa segala yang ada hanya akan berjalan sesuai dengan qodarNya. Allah membagi rezeki, jodoh, serta usia hambaNya (maut) tanpa bisa tertukar satu dengan yang lainnya.

Lantas apa yang kita risaukan, guys? Jika yang menjadi hak kita tak akan pernah menjadi milik orang lain? Cukuplah kita belajar berbenah diri sehingga pantas Allah beri apa yang kita ingini, dan terus bersyukur atas nikmatNya yang bertubi-tubi dari pagi hari hingga pagi lagi. Sudahkah kita bersyukur hari ini?

 

Kak Susi adalah orang yang kesekian yang saya kenal via dunia maya yang akhirnya menjadi mitra dan saudara. Jarak usia kami yang terpaut cukup jauh, sekitar 12 tahun lebih membuat hadirnya beliau dalam hidup saya membuat saya bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak. Harap maklum, guys. Saya anak pertama dalam keluarga, terbiasa bercerita kepada Allah dan angkasa saja. Hadirnya kak Susi, menambah tempat saya berbagi sekaligus belajar untuk terus berdaya. Sebelum beliau, Allah juga mengenalkan saya dengan teman-teman lainnya yang tinggal diberbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Awal kenalnya juga via dunia maya, baru kemudian berjumpa di dunia nyata. Kesemuanya rata-rata perempuan, dan Alhamdulillah semuanya adalah orang-orang baik.

Saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini. Berfikirlah yang baik-baik, lakukan hal-hal baik. Ucapkan hanya kata-kata yang baik. Insya Allah akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Faktanya begitulah yang saya alami. Kemana pun saya pergi dan melangkahkan kaki serta bergabung dalam hal apapun. Alhamdulillah selalu Allah hadirkan sosok-sosok baik yang dari mereka saya bisa belajar banyak untuk terus tumbuh menjadi lebih baik.

 

Penang adalah kota pekerja, guys. Ini kota Industri dengan beragam cabang perusahaan dari brand-brand terkenal. Jangan heran jika kota ini seperti tak ada matinya. Sebab shift para pekerjanya memang 24 jam non stop. Bagi yang masuk shift pagi, maka ia mulai bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 19.00 malam. Dan yang masuk shift malam, maka ia mulai bekerja dari pukul 19.00 malam hingga pukul 07.00 pagi. Lelah? Tentu saja, hal itu bisa dengan jelas saya lihat dari raut wajah mereka.

Ini kota pekerja, maka bekerja adalah aktivitas utamanya. Namun gilanya lagi dengan jam kerja yang seperti itu para pekerja ini masih sempat juga melakoni kerjaan sampingan lainnya yakni berdagang, guys. Yeah, mereka berbisnis, mengambil peluang bisnis disela-sela waktu kerjanya. Dasyat, bukan? Jadi, jika kita disini masih punya cukup waktu luang, namun enggan mengambil peluang bisnis, dipertanyakan keberdayaannya, hehehe.

 

Tahukah kamu? Kebanyakan pekerjanya rata-rata perempuan, dan status mereka mayoritasnya adalah janda, hanya beberapa saja yang berstatus single. Begitulah status para TKW yang sempat saya jumpai. Dominannya adalah janda, baik itu karena ditinggal suami yang menikah lagi dengan orang ketiga lalu ia diceraikan, ada juga yang di madu namun ianya dan anak-anak tidak dinafkahi, ada yang bercerai saat umur pernikahannya masih sangat dini, serta ditinggal mati suaminya sehingga mau ga mau harus menjadi tulang punggung keluarga demi anak-anaknya.

Siap-siap tisu yah, saya tidak bertanggung jawab ya guys jika butiran bening di mata mu mengalir lalu membasahi pipi, kemudian tumpah ke baju mu yang keren itu. Dan pastikan juga saat kamu membaca note ini dan mata mu berkaca tak ada yang melihatnya yah, repot entar jika dikira kamu lagi dilanda rindu berat, hahaha.

 

Well, saya awali dari kisah kak Susi. Beliau awalnya juga seorang TKW, bekerja di sebuah perusahaan eletronik, dan disana pula beliau berkenalan dengan suami pertamanya. Bekerja satu perusahaan dengan pasangan hidup itu menyenangkan ya guys, bisa pergi kerja bareng, bisa diskusi banyak hal bersama-sama serta bisa menghabiskan banyak waktu bersama-sama pula. Setelah menikah kak Susi resign karena tidak boleh pasangan suami istri bekerja di satu perusahaan.

Saat itulah beliau mulai merintis usaha dari rumah, menjual apa saja yang bisa dijadikan bisnis. Ketika mempunyai anak, maka jualannya pun semakin ligat agar bisa membantu suami mendapat income tambahan untuk keluarga. Uang hasil jualannya tersebut ditabung untuk keperluan dadakan yang bisa datang kapan saja. Kehidupan beliau bisa dibilang bahagia serta serba berkecukupan. Persis seperti keluarga yang diidaman-idamkan oleh banyak orang.

Hidup ini tidak pernah menjanjikan jalan yang kita lalui akan selalu mulus, guys. Dalam tiap canda tawa pasti akan ada air mata juga, begitu pula sebaliknya. Itulah yang terjadi pada kehidupan kak Susi. Seperti roda yang terus berputar, terkadang ada diatas lalu ke bawah. Maka roda itu menghampiri hidup kak Susi melalui suaminya yang terindikasi penyakit diabetes.

Cukup banyak uang yang dikeluarkan untuk berobat kesana kemari hingga harus disuntik insulin, namun diabetes suaminya tak kunjung sembuh, hingga kakinya bengkak penuh luka-luka dan akhirnya terpaksa berhenti bekerja. Jadilah kak Susi sebagai tulang punggung keluarga sejak saat itu, mengurus suami yang terbaring lemah di rumah plus dua orang anak yang masih kecil.

 

Waktu itulah tabungan bisnisnya menjadi senjata beliau untuk merintis usaha baru yang lebih serius. Kak Susi meng-hire seorang pekerja untuk membantunya, lalu mereka jualan keliling. Beberapa bulan terus demikian sambil menerima delivery ke berbagai tempat. Mengantar orderan sambil membawa anaknya yang masih kecil, sorenya pulang ke rumah mengurus suaminya yang sakit, dan malam harinya bergadang menyiapkan keperluan dagang untuk esok harinya.

Klimaksnya saat suaminya meninggal dunia. Separuh hidupnya terasa pergi. Siapapun pasti sedih jika belahan jiwanya tiada, bukan? Walaupun semasa hidupnya hanya terbaring sakit, itu jauh lebih baik karena kita bisa melihat pasangan hidup kita tersenyum, dan itu merupakan sumber energi untuk terus berjuang. Namun saat pasangan hidup tiada, semangat hidup pun terasa sirna, Alhamdulillah kak susi punya dua buah hati yang bisa membuat beliau kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan.

Buah kesabaran itu manis, guys. Alhamdulillah berkat kesabaran dan kegigihan yang panjang itu sekarang ini kak Susi memiliki sebuah restoran dengan 12 orang pekerja dari Indonesia yang kisah hidupnya juga cukup miris untuk didengar.

Usaha yang sudah autopilot itu hanya beliau kontrol sebulan sekali ke penang. Setelah empat tahun kak susi menjanda, akhirnya beliau dilamar oleh seorang lelaki yang dulu memang mencintai beliau, namun belum punya nyali untuk melamarnya karena waktu itu laki-laki tersebut belum punya pekerjaan & penghasilan yang memandai. Begitu ia punya pekerjaan dan hendak melamar kak Susi, eh kak Susinya sudah duluan dilamar oleh orang lain. Namun begitulah jodoh, akhinya pasti bertemu dan bertamu.

Saat mendapat kabar kak Susi sudah lama menjanda. Tepatnya dua tahun yang lalu, saat lebaran haji kak susi di lamar oleh lelaki tersebut, dan awal tahun lalu beliau menikah dengan lelaki yang dipanggil ustad itu. Mereka kembali dipertemukan setelah terentang jarak 18 tahun lamanya. Dan setelah keduanya menikah dengan orang lain terlebih dahulu, so sweet banget deh kisahnya. Terharu saya, adakah yang mencintai ku dalam diam seperti itu, namun berani bertamu cepat tanpa harus menunggu 18 tahun lamanya? πŸ˜€ #Baper

Lain cerita kak susi, lain pula kisah kak Sur. Pernikahan beliau awalnya baik-baik saja. Kata orang ujian lima tahun pertama pernikahan itu adanya di komunikasi. Belajar saling memahami antar dua pribadi dan dua keluarga. Namun ujian sepuluh tahun pertama adalah adanya orang ketiga.

Inilah ujian yang melanda pernikahan kak Sur. Hadirnya orang ketiga dalam mahligai rumah tangga beliau membuat suaminya berubah dan meninggalkannya, padahal mertua dan keluarga suami semua mendukung kak sur, namun sang suami memang sudah tergila-gila dengan perempuan ketiga, tak perduli lagi dengan norma-norma yang ada. Suaminya lebih memilih menikahi perempuan ketiga tersebut, sedangkan kak Sur dan anak-anaknya ditelantarkan.

Status kak sur menjadi tidak jelas, minta cerai dari suaminya diabaikan, nafkah untuk anak-anak juga tidak pernah dikirimkan, demi keluarganya akhirnya kak Sur menjadi TKW. Dengan status tidak jelas begitu kak Sur terkukung dalam lembaran kelam. Mau membuka lembaran baru statusnya masih istri orang walaupun sudah bertahun-tahun tidak lagi tinggal serumah. Minta cerai ga pernah diproses. Bisa banyangin beban batin kak Sur gimana, guys?

Ada juga kak Tari, janda dengan satu orang anak. Bercerai dengan suami karena ketidakcocokan, lebih kurang 19 tahun sudah beliau menjanda hingga anaknya kini tumbuh remaja. Masya Allah perjungannya bertahan hidup sebagai single parent. Ada juga kak sri yang juga bercerai dengan suaminya hanya dalam hitungan 12 bulan. Saya bertanya, kenapa kak? Lagi-lagi jawabannya ketidakcocokkan.

Hmm, saya jadi berfikir guys, apa sich landasan seseorang memutuskan untuk menikah jika kemudian bercerai karena ketidakcocokkan? Bukankah saat kita memutuskan untuk menikah dengan seseorang, kita sudah siap lahir dan batin dengan segala kelebihan dan kekurangannya?

Bisa jadi juga karena dari awal tidak pernah mengupas tentang mindset berumah tangga, sehingga visi hidup bersamanya tidak seiya sekata. Namun sebenarnya jika niat keduanya menikah karena Allah SWT dan untuk beribadah kepadaNya, tentu segala perbedaan insya Allah akan menemukan titik temunya, bukan? Namun jika rupa, harta, dan tahta yang menjadi acuan utamanya, maka wajar saja jika ujung-ujungnya bahtera itu goyang dan akhirnya tumbang.

Masih banyak kisah TKW yang serupa, guys. Tak mungkin saya kupas satu persatu disini, cukuplah beberapa kisah diatas sebagai gambarannya. Jika ditanya, tak ada seorang pun yang ingin hidup jauh dari keluarga. Terlebih meninggalkan anak-anak di tanah air tanpa bisa mebimbing mereka langsung, namun kerasnya kehidupan dan pahitnya perjalanan hiduplah yang membuat para TKW itu harus menjalani apa yang harus mereka jalani, bekerja di negeri orang agar kehidupan bisa terus berjalan. Menikmati apapun yang bisa dinikmati, walau untuk beribadah sedikit sekali waktunya. Adanya siraman ruhiyah sepekan sekali cukup sebagai pelepas jeritan jiwa bagi mereka yang butuh kedekatan denganNya, serta mensyukuri apapun yang telah Allah beri baik rasa pahit maupun rasa manis dengan tetap tersenyum.

Dari mereka saya belajar tentang keteguhan dan kegigihan, belajar untuk terus melangkah dan menyongsong hari depan, belajar untuk terus menjadi pribadi yang kuat, belajar ikhlas dengan segala ketentuanNya, serta belajar untuk tak pernah menyerah demi orang-orang tersayang.

Guys, jika engkau pernah menangis karena di-PHP oleh seseorang, nasib mu masih lebih baik dari kisah kak Sur yang statusnya tak jelas hingga sekarang. Kamu bisa langsung move on dari orang tersebut. Lalu membuka lembaran hidup baru, namun tidak dengan ka Sur yang masih terkatung-katung entah sampai kapan. Jika kamu sedih dan air mata mu tumpah karena ta’aruf mu yang terus gagal dan gagal, nasib mu masih lebih baik dari kisah kak Tari dan kak Sri, guys. Lebih baik gagal sebelum berlabuh, dari pada sudah berlabuh kemudian cerai dalam hitungan bulan. Pilih mana coba? Sejatinya apapun yang terjadi dalam hidup kita, itulah yang terbaik untuk kita, guys. Adakah yang tahu apa yang lebih baik untuk kita selain Rabb kita?

Jika engkau masih memiliki keluarga yang utuh dan tinggal seatap, bersyukurlah! Pertengkaran kecil hanyalah bumbu-bumbu agar rasa cinta antar kalian menjadi semakin kuat. Jangan pernah biarkan mahligai itu runtuh karena gengsi atau dalih ketidakcocokan, guys. Jangan biarkan syaitan tertawa girang karena berhasil membuat kalian terpisahkan.

Jika engkau berniat untuk menikah dan telah menemukan orang yang engkau cari, bersegeralah guys! Jangan biarkan syaitan membisikan keraguan yang membuat langkah mu surut dan akhirnya nyalimu menciut. Sungguh! Tak ada ibadah yang bisa mengetarkan semesta selain pernikahan. Jangan pernah mencari yang sempurna, sebab hingga ke ujung dunia pun engkau tidak akan pernah menemuinya. Cukup cintai ia yang bisa menerima mu apa adanya, dan temukan dibagian mana engkau dengannya bisa saling mengisi dan melengkapi untuk saling membaik bersama serta bersinergi menuju surgaNya.

Jika engkau lelah dengan perasaan mu sendiri antara rasa takut dan harap, tumpahkan saja semuanya dalam sujud panjang dan bait-bait doa, guys. Sebab tak ada yang paling mengerti dirimu selain IA yang Maha Mencintai. Hanya itu yang mampu engkau lakukan sebagai perempuan selain menunggu ia yang Allah takdirkan untuk mu datang bertamu. Namun jika engkau laki-laki, milikilah nyali untuk meminta dan bertanya, sebab waktu yang tepat dan orang yang tepat untuk mu hanya akan ada saat engkau berani berkomitmen dengan menjumpai wali dari perempuan yang engkau cintai.

 

Pulau Penang: antara bisnis dan TKW, Allah bukan hanya memberi saya kesempatan membangun jejaring, namun juga memberi saya pelajaran kehidupan tentang berkeluarga. Dari sana saya berkaca betapa beruntungnya saya dibandingkan mereka. Alhamdulillah saya masih bisa berkumpul bersama keluarga, sedangkan mereka terpisah oleh jarak yang belum tentu setahun sekali bisa pulang menjenguk orang-orang tercinta karena terikat kontrak kerja dan permit kerja. Alhamdulillah saya memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan apapun yang diri ini mau, and free to go anywhere I want to go, sedangkan mereka untuk menghadapMu saja terbatasi oleh waktu karena ikatan jam kerja yang cukup ketat untuk sekedar menarik nafas bermunajat.

Alhamdulillah hati ini masih utuh untuk ia yang akan Engkau kirimkan menjadi partner hidupku ya Rabb, namun kebanyakan dari mereka dihinggapi trauma dan rasa takut untuk kembali merajut mahligai hidup berumah tangga. Ya Rabb, hamba bersyukur Engkau masih memberi diri ini kesempatan untuk memilih, akan diri ku bawa kemana hidup ku ini, sedangkan mereka tak lagi punya waktu untuk berfikir tentang itu, sebab rutinitas kerja telah mencabut nikmat mereka untuk bermimpi lebih.

Bicara rezeki adalah bicara tentang harapan. Saya yakin semua orang berharap akan keberkahan dan keberlimpahan. Maka yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menjalani, menikmati, dan mengsyukuri saja, guys. Itulah kata yang pantas kita ingat setiap hari. Ada banyak yang datang dan pergi dalam hidup kita, namun yang benar-benar tulus tak akan pernah berjalan menjauh. Sebaliknya, ia akan selalu dekat di hati dan dekat dalam ingatan melalui bait-bait doa. Karena hanya Allah saja yang mampu mempersatukan hati yang terpaut karenaNya.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *