Blog

PERTUALANGAN SERU FULL NILAI-NILAI BERMUTU

Pertualangan seru full nilai-nilai bermutu. Sebagian orang beranggapan cerita fiksi (novel) bukanlah sesuatu yang patut dibaca, itu hanya sebuah rekayasa yang menghabiskan uang dan waktu saja. Hmm, saya kurang sependapat dengan anggapan seperti ini, guys. Sebab semua bergantung pada isi Novelnya dan siapa pengarang Novel tersebut. Bisa jadi, di pasaran sana banyak beredar novel yang menjual cerita picisan, atau sekedar imajinasi yang tidak memberi nilai apapun bagi pembacanya selain selesai membaca saja. Namun tidak halnya dengan Novel-Novel berikut ini, guys; “Ceroz dan Batozar, Komet, dan Komet Minor.”

Ketiga Novel tersebut adalah karya penulis beken Tere Liye, yang menceritakan pertualangan seru tiga remaja; Ali, Raib dan Seli ke dunia yang tidak biasa, yakni dunia Paralel. Dunia yang bisa jadi ada di sekitar kita, namun tidak terlihat secara kasat mata dan juga tidak terbaca oleh orang biasa.

 

Sebuah imajinasi pertualangan yang tertuang apik dan menarik. Menegangkan, mengharu biru, memberi inspirasi, dan mengajarkan mu sesuatu yang baru, serta nilai-nilai hidup yang harus kamu pegang kuat-kuat dimana pun kamu berada.

 

Fiksi memang sebuah karya imajinasi, namun tetap saja ia ilmiah. Walaupun tempat, alur cerita, dan tokoh-tokoh didalamnya diuraikan berdasarkan khayalan, namun semua itu bisa saja dikaji secara ilmiah, dan karakter tokohnya pun bisa saja ada dalam dunia nyata. Dan bisa jadi semua uraian dalam novel tersebut ada, hanya ilmu kita yang belum sampai kesana, atau pengetahuan/teknologi kita yang masih terbatas. Dan yang paling penting dari semua itu adalah, ada nilai-nilai dan prinsip-prinsip kehidupan yang bisa kita ambil untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sebab mengajarkan sesuatu tidak selalu harus berdiri di ruang kelas, namun bisa juga dengan membaca alam, dan melalui sebuah Novel pun kita bisa mengajarkan banyak hal pada pembaca, untuk kemudian hal-hal tersebut direnungi, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang akan kamu dapati dari kisah-kisah pertualangan dalam Novel-Novel ini, guys.

 

Resensi Novel

Judul: Ceros dan Batozar

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Mei 2018

Jumlah Halaman: 376 Halaman

ISBN: 9786020385914

 

 

Ceroz dan Batozar misalnya, berawal dari perjalanan karyawisata bersama teman-teman sekolah mereka ke sebuah bangunan kuno bersejarah di sebuah kota, justru monument kuno tersebut menjadi pemicu pertualangan baru Ali, Raib dan Seli. Perjalanan yang mengantarkan mereka bertiga ke sebuah tempat rahasia di bawah laut yang tak pernah diketahui oleh banyak orang ribuan tahun lamanya.

Setelah memisahkan diri dari rombongan karyawisata, Ali, Raib dan seli terbang mengunakan ILY ke tempat rahasia tersebut, yang tak lain berada di bawah bangunan kuno tempat mereka berkaryawisata. Untuk bisa kesana mereka harus menyelam ke dasar lautan, melewati lorong-lorong gelap dalam laut dengan perasaaan menegangkan, sebab mereka tidak tahu apa yang akan menunggu mereka di ujung lorong, dan daya tarik kuat apa yang membuat sensor Ali bergetar hebat saat mereka di bangunan kuno di atas permukaan bumi.

Ali terus saja mengerakkan tuas kemudi ILY secara perlahan melintasi lorong-lorong hingga bertemu bangunan setengah bola berukuran besar. Ruangan tersebut kosong, mereka terus melintasi lorong dengan kecepatan penuh. “Sepertinya ruangan kosong tadi dekat sekali dengan permukaan bumi’, ucap Seli.

Ali mengangguk. “Iya. Pembuat lorong-lorong ini mengunakan trik fisika sederhana, Seli. Pintu utama lorong sengaja dibuat di dasar laut, lorong naik ke atas hingga melewati ketinggian permukaan laut sehingga air laut tidak bisa mengenanginya, di pos terdepan ruangan tadi. Kemudian lorong kembali menuju ke bawah. Itu trik agar air laut tidak masuk ke ruangan raksasa di bawah bangunan kuno. Mungkin mulut pos terdepan tadi berada di perut salah satu gunung atau bukit dekat situs kuno tempat karyawisata.” Hal. 39

ILY terus meluncur ke bawah, turun menembus atap sebuah ruangan raksasa berbentuk kubus dengan sisi tak kurang dari dua puluh kilometer. Separuh dasar ruangan itu adalah danau, dengan hutan lebat berbentuk gunung-gunung berselimutkan salju di tepi-tepinya. Simistris empat sisi. Mereka tiba persis saat matahari bersiap tenggelam di dinding sebelah timur. Langit terlihat jingga. Awan putih laksana kapas kini tampak memerah.

Di bawah sana, di tengah danau, bangunan kuno besar itu menyambut anggun. Seperti bunga teratai elok di tengah danau berair sejernih Kristal. Ada empat jembatan penghubung di atas permukaan danau yang sepertinya terbuat dari kayu menuju bangunan itu dari sisi hutan. Pepohonan di hutan sedang berbunga warna-warni, terlihat menawan.

ILY terus turun ke dasar ruangan, semakin dekat dengan bangunan kuno pemandangan semakin mempesona. “Ini indah sekali,” Seli berbisik pelan. Dari jarak seratus meter, dasar danau terlihat. Koral, terumbu karang, ikan-ikan berenang. Itu bukan danau biasa, itu danau paling indah yang pernah ku lihat. Bangunan-bangunan berbentuk setengah bola memantulkan cahaya lembut matahari senja. Matahari siap terbenam dibalik pergunungan bersalju. Aku belum pernah melihat sunset seindah ini di dunia paralel. Hal. 41.

“Ini lebih keren dibanding Pulau Pesisir Timur di Klan Bintang,” gumang Ali. Ia melepaskan sabuk pengaman, mengaktifikan kemudi otomatis. Ali berdiri di dekat jendela transparan kapsul, menatap sunset. Raib dan Seli mengangguk setuju. Mereka juga melepas sabuk pengaman dan berdiri di dekat Ali. Sejenak mereka mengabaikan tujuan mereka ke tempat tersebut, yakni mencari sesuatu yang terdeteksi oleh sensor Ali.

Saat matahari benar-benar menghilang di dinding timur, di balik pergunungan salju, menyisakan siluet cahaya tipis. Ali bergerak, “aku hendak memeriksa sensorku.”. Namun belum habis kalimat Ali, persis saat gelap membungkus ruangan, sesuatu menghantam ILY.

Seperti bola kecil yang ditendang, kapsul perak ILY terpelanting jauh. Pertempuran pun terjadi. Dua moster badak meyerang mereka. Nyaris dititik terakhir disaat segala daya upaya sudah dilakukan dan ketiganya pasrah pada keadaan. Mereka terselamatkan.

 

Adalah dua sauadara kembar, Ngglanggeran dan Ngglanggeram yang membantu mereka. Dari kedua saudara kembar itu juga, Ali, Raib, dan Seli mendapat informasi lengkap tentang tempat rahasia tersebut. Namun sayangnya mereka justru terkurung di tempat itu, tidak bisa lagi kembali kepermukaan bumi. Sebab ruangan tersebut memang dirancang demikian adanya. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menembus lapisan mulut lorong atap ruangan. Itupun hanya bisa dilakukan dengan kekuatan penuh. Jika kedua saudara kembar tersebut masih memiliki sarung tangan mereka, tentu mereka bisa membantu, namun sarung tangan mereka telah dicuri oleh si Tanpa Mahkota, tokoh antogonis utama dalam pertulangan Ali, Raib dan Seli.

Ali yang diam sejak tahu tentang sarung tangan si kembar akhirnya bicara, “Ini milik kalian. Ambillah.” Ali mengulur sebuah sarung tangan. Si kembar terkejut bagaimana sarung tangan mereka ada pada Ali. Ah ini cerita yang sangat panjang. Kurang seru jika diceritakan sekarang, saat kalian membaca sendiri nanti tentu akan lebih seru.

Ali meminta si kembar untuk membawa ILY, Raib, dan Seli ke mulut lorong di atap ruangan agar mereka bisa kembali ke bumi, sedangkan ia memutuskan untuk tinggal di tempat rahasia bawah laut itu. Tanpa sarung tangan tersebut Ali tidak bisa kembali ke permukaan. Namun kekuatan ketulusan selalu datang di detik terakhir. Di mulut lorong, si kembar memutuskan mengembalikan sarung tangan tersebut pada Ali, sehingga mereka bertiga bisa menembus mulut lorong, dan si kembar menjatuhkan diri kembali ke bawah lorong. Persahabatan yang tulus bisa mengetuk hati siapa pun disaat jalan terasa sudah buntu.

 

Sekembalinya dari petualangan bawah laut itu, Ali, Raib dan Seli mendapat sebuah informasi penting tentang seorang buronan dari Klan Bulan yang paling dicari. Dan diduga sosok itu sedang berkeliaran di Bumi. Tanpa sengaja, Ali, Raib dan Seli lah yang pertama kali bertemu dan melihat buronan tersebut di rumah makan padang saat Raib ingin membeli nasi pesanan ibunya. Naluri pertualangan kembali menghantui mereka, bukannya membeli nasi padang, mereka bertiga justru mengikuti buronan tersebut. Wajah sang buronan terlihat menakutkan, namun tidak dengan hatinya. Itu yang dirasakan Ali saat berpura-pura duduk disamping sang buronan yang sedang melahap nasi di depan sebuah mall. Di tambah lagi sang buronan tersebut memberi beberapa bungkus nasi yang dibelinya untuk para pengemis disana.

Dalam hidup, terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar tidak sepenuhnya benar. Waktu selalu memberikan jawaban yang jelas kemudian, mungkin itu sebabnya kita perlu bersabar dan tetap berprasangka baik pada siapapun. Nilai-nilai apa yang kamu dapatkan sejauh ini, guys? Hmm, sebenarnya siapakah Ceroz dan Batozar itu? Temukan jawabanya di novel ini ya.

 

Resensi Novel

Judul: Komet

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Mei 2018

Jumlah Halaman: 384 Halaman

ISBN: 9786020385938

 

 

Komet, inilah novel ke-5 serial Bumi, lanjutan dari Ceroz dan Batozar. Disini, Ali, Raib, dan Seli melakukan perjalanan ke Kota Ilios, ibu kota dari Klan Matahari. Misi mereka kali ini adalah menemukan Klan Komet sebelum si Tanpa Mahkota menemukannya terlebih dahulu.

Satu-satunya jalan menuju kesana adalah dengan memetik bunga matahari pertama mekar. Si Tanpa Mahkota diduga akan menggunakan bunga matahari pertama mekar tersebut untuk membuka jalan menuju pulau kecil itu, yakni Klan komet.

Ada vestival tahunan di Klan Matahari, yakni perlombaan memetik bunga Matahari pertama mekar. Namun siapa sangka kalau vestifal tahunan yang awalnya ceria itu akhirnya berubah menjadi pertempuran sengit. Sebuah portal besar telah terbuka di atas rumput stadion. Dari sana keluarlah ratusan pasukan Tamus dan pasukan Fala-Tara-tana IV. Beberapa detik kemudian keluar juga si Tanpa Mahkota. Pemilik kekuatan besar dunia paralel itu muncul di tengah khalayak ramai. Ia ingin memetik bunga matahari pertama mekar tersebut. Pertempuran besar pun terjadi.

 

Setelah bertempur melawan Faar dan Raib yang mencoba menghalanginya memetika bunga matahari pertama mekar, akhirnya si Tanpa Mahkota berhasil. Ia mengangkat bunga itu lalu memberi perintah. Selarik cahaya keluar dari bunga matahari dan membentuk lingkaran kecil yang terus membesar di atas rerumputan. Dalam hitungan detik, lingkaran tersebut telah sempurna. Sebuah portal entah menuju ke mana telah terbuka. Tanpa menunggu lagi, si Tanpa Mahkota melompat ke dalamnya. Lingkaran itu pun mulai mengecil, saat itulah entah apa yang ada di kepala Ali, ia juga melompat dalam lingkaran tersebut, akhirnya Raib dan Seli pun ikut melompat menyusul Ali. Dunia pertualangan mereka yang sesungguhnya dimulai.

Mereka terdampar di sebuah pulau, dimana disana semua benda elektromanetik tidak berfungsi. Ali tidak bisa menggunakan alat-alat canggih miliknya. Mereka pun tidak bisa menggunakan kekuatan yang mereka miliki. Badai terus menerpa. Mereka sudah berkeliling namun tidak juga menemukan pemukiman penduduk. Akhirnya kembali ke tepi Pantai lagi. Ali didera kelaparan, perutnya benar-benar butuh makan. Lalu ia menghampiri perahu yang tertambat di pinggir pantai, berharap menemukan makanan disana. Di salah satu perahu, Ali menemukan bungkusan makanan berisi buah-buahan. Baru saja ia membuka bungkusan tersebut dan hendak memasukkan salah satu buah Apel ke mulutnya. Raib datang menyambar buah Apel tersebut lalu memasukkan kembali dalam bungkusan, dan mengembalikannya dalam peti penyimpanan perahu. “Aku lapar Raib!” kata Ali. “Kelaparan bukan berarti kita boleh mencuri, Ali.” Ucap Raib.

 

Raib menatap badai yang terus mengamuk. Ia teringat kata-kata Hana, “Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Namun ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah perbuatan baik.” Dalam pertualangan kali ini ternyata itulah satu-satunya kekuatan yang bisa digunakan untuk menemukan pulau dengan tumbuhan aneh itu.

Seseorang tiba-tiba muncul menghampiri mereka, usianya sudah tua, tujuh puluh tahun atau lebih. Ia mengenakan pakaian yang terbuat dari kain, dengan topi jerami lebar, seperti pakaian nelayan. Orang tersebut mengajak Ali, Raib, dan Seli ke perkampungan nelayan. Ternyata perkampungan nelayan berada di bawah permukaan tanah, mereka harus menuruni tangga bawah tanah setelah membuka lempengan besi yang merupakan pintu masuk ke kampung tersebut. Pantas saja sebelumnya mereka tidak menemukan kampung nelayan saat berkeliling pulau.

Akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah kayu, orang tersebut mendorong pintu sambil berseru, “Nay, hei, kita kedatangan tamu.” Seorang nenek muncul dari ruangan belakang. “Tamu? Hei, sudah lama sekali rumah ini tidak kedatangan tamu.” Nenek itu tersenyum ramah. “Mari masuk, jangan malu-malu. Anggap saja rumah sendiri.”

 

“Hei, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Kay, itu istriku Nay. Kalian bisa memanggilku Paman Kay dan bibi Nay. Tetangga kami memanggil kami demikian. Silahkan duduk dimana pun kalian mau. Ali, Raib dan seli juga memperkenalkan diri.

“Tempat apakah ini?” Tanya Ali kemudian. “Perkampungan Nelayan Suku Laut Jauh.” Paman Kay menjawab. “Apa nama pulau ini?” Tanya Ali lagi. “Pulau Hari Senin.” Jawab Paman Kay. Raib dan Seli saling tatap. Nama yang cukup unik. “Aku tahu apa yang kalian cari.” Paman Kay menatap mereka bertiga lamat-lamat, ikut duduk di kursi sembarang meja. “Hei, semua orang yang datang dari langit selalu mencari tempat itu. Pulau dengan tumbuhan aneh. Selalu bertanya di manakah pulau itu. Tidak sabaran. Ada yang memaksa, mengancam. Ada yang menawarkan harta benda sebagai imbalan informasi. Lantas bergegas berangkat lagi.” Ucap paman Kay kemudian.

Paman Kay menyarankan mereka untuk pergi ke Pulau Hari Selasa, siapa tahu mereka bisa mendapat informasi lebih lanjut disana. “Dimana Pulau Hari Selasa?” Tanya Seli. “Enam jam naik perahu dari sini.” Jawab paman Kay. Perjalanan itu jelas tidak mudah, karena mereka bertiga tidak tahu bagaimana mengemudikan perahu, ditambah lagi kekuatan mereka tidak berfungsi di pulau ini. Namun mereka tidak punya pilihan lain selain mencobanya.

 

Pertualangan di laut pun dimulai, mereka menggerakan perahu dengan pukulan berdentum, Ali dan Raib bergantian melakukannya agar perahu mau melaju, namun kekuatan mereka di pulau ini sungguh tidak seberapa, enam jam itu waktu yang cukup lama. Akhirnya mereka terapung-apung di tengah lautan karena Ali dan Raib kehabisan tenaga. Seli yang tidak bisa melakukan pukulan berdentum memilih untuk berjaga sepanjang malam, ia tidak tega membangunkan Ali dan Raib yang kelelahan walaupun waktu giliran berjaga kedua telah tiba. Ia memilih untuk tidak membangunkan mereka. Bukan hanya itu, Seli pun menahan rasa laparnya sepanjang hari dengan senang hati dengan tidak memakan jatah makanannya sama sekali, ia justru memberikannya pada Ali dan Raib tanpa sepengetahuan mereka. Di pulau ini, kebaikan sekecil apapun bekerja.

 

Singkat cerita, mereka sampai ke Pulau Hari Selasa. Pulau ini jauh lebih besar dari Pulau Hari Senin. Bentuknya bukan hamparan pasir dan deretan pohon kelapa, melainkan hutan tropis lebat dengan pepohonan tinggi. Pulau ini dikelilingi gunung, kaki-kaki gunung dibasuh oleh lautan, dengan batu-batu karang besar mengelilingi. Ada sebuah teluk kecil, menjorok ke dalam lereng-lereng gunung. Persis di depan teluk itu terlihat benteng setinggi tiga puluh meter.

Begitu benteng terbuka, perkampungan nelayan Suku Laut Jauh terlihat. Ini lebih mirip kota kecil dibanding kampung. Rumah-rumah kayu tersusun rapi di jalanan. Karena kontor tanahnya terjal, maka rumah-rumah itu berderet-deret terus naik hingga ke lereng gunung. Selintas lalu mirip bangunan bertingkat, seperti lukisan. Puluhan perahu tertambat di dermaga besar.

 

Ali melangkah menuju pasar dan disusul yang lainnya. Ia mencari tempat makan, perutnya sudah kelaparan. Mereka masuk ke sebuah rumah makan melewati meja-meja panjang dengan kursi diisi oleh pengunjung. Rumah makan ini terlihat menyenangkan. Bangunannya dari kayu, dengan atap dari anyaman daun kelapa. Bagian depannya terbuka. Mereka bisa melihat keluar dari tempat duduknya, termasuk melihat kapal-kapal yang tertambat, juga dinding benteng setinggi 30 meter yang gagah melindungi perkampungan itu dari apapun.

‘Hei, selamat datang di rumah makan ini.” Seorang lelaki tua menyapa ramah. Usianya mungkin tujuh puluh tahun dengan rambut memutih. Dia mengenakan pakaian rapi, ada celemek besar di dadanya. Dia membawa kertas catatan dan alat tulis. “Paman kay!” Seli berseru. Separuh riang, dan separuh bingung. Kakek itu mirip sekali dengan paman Kay, hanya pakaiannya saja yang berbeda. “Paman Kay? Ah kalian pasti sudah bertemu dengan saudara kembar ku di Pulau Hari Senin.” Pemilik Restoran balas berseru dan terkekeh.

 

Selesai makan dengan lahap mereka pun berniat mencari informasi ke penduduk di sekitar, namun perkampungan kosong melompong, tidak ada yang bisa ditanyai. Semua menuju ke tempat pertemuan. Luar biasa partisipasi penduduk di pulau ini saat meeting, semua bergegas untuk hadir, berbeda halnya dengan di tempat kita, pertemuan RT atau pun RW yang hadir sedikit, bahkan persidangan MPR aja banyak kursi yang kosong, hehehe.

Well, pertemuan itu adalah pertemuan warga untuk membahas tentang keluhan, masalah, kritik, juga saran warga pulau, agar mereka bisa hidup dengan damai dan sentosa ribuan tahun lagi. Ada satu permasalahan yang belum mendapat solusinya selama ini, seorang anak perempuan bernama Cindanita yang sudah setahun kehilangan boneka singa laut miliknya. Namun belum ada juga yang menemukan dan mau membantu mencarinya. Adalah Raib yang tergerak hati untuk membantu Cindanita mencari boneka tersebut, sehingga sempat berdebat dengan Ali mengenai misi penting mereka mencari pulau dengan pohon aneh. Alhasil setelah mengintip dimana markas bintang laut bersembunyi dan bertarung dengan bintang laut raksasa akhirnya boneka Cindanita diketemukan.

 

Pertualangan mereka masih berlanjut ke pulau Hari Rabu, Pulau Hari Kamis, Pulau Hari Jum’at, dan Pulau hari Sabtu. Setiap pulau memiliki kisah tersendiri dengan ujian tersendiri. Mulai dari ujian kejujuran, ujian keperdulian, ujian kesabaran, ujian kecerdasan, ujian ketulusan, dan ujian ketangguhan, hingga akhirnya mereka sampai di pulau terakhir yakni Pulau hari minggu. Di pulau ini mereka harus melewati ujian melepaskan untuk bisa menuju ke pulau yang ingin mereka tuju, yaitu pulau dengan tumbuhan aneh. Bukan hanya itu, mereka pun mendapat sebuah kejutan berupa pengkhianatan dari seorang teman perjalanan. Cerita lengkapnya seru banget, rugi deh kalau ga dibaca. 🙂

 

Resensi Novel

Judul: Komet Minor

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: 376 Halaman

ISBN: 9786020623399

 

 

The last, Komet Minor, merupakan lanjutan cerita dari Klan Komet. Ali, Raib dan Seli tidak bisa bergerak, tubuh mereka terikat jaring perak. Sedangkan si Tanpa Mahkota sudah membuka portal menuju Klan Komet Minor. Dua kilometer lagi seekor ikan raksasa sedang menuju ke Pulau Hari Minggu. Itu artinya ikan tersebut juga akan menelan kapal dimana Ali, Raib, dan Seli terjerat jaring perak. Satu kilometer lagi, sebuah benda terjatuh di samping Ali, sebuah cermin yang terbuat dari berlian. Dan tidak lama kemudian, Batozar pun muncul. Dengan cepat Batozar menilai situasi. Ikan raksasa itu sudah separuh jalan menelan Pulau Hari Minggu. Mulutnya mulai menutup, diiringi debum air yang membuat kapal bergoyang keras.

Jemari Batozar menjentik tiga kali, dan jarring perak yang mengikat Ali, Raib, dan Seli seketika terurai. Kaki Batozar mengentak ke lantai kapal, mengaktifkan teknik teleportasi. Plop! Ali, Raib, Seli dan Batazor menghilang, kemudian muncul persis di atas Pulau Hari Minggu. HAP! Mulut ikan raksasa itu sempurna tertutup. Suasana menjadi gelap gulita. Air laut yang masuk ke dalam mulut ikan seperti hujan deras. Dalam sekejap, seperti dihentakkan oleh sesuatu, Pulau Hari Minggu meluncur ke kerongkongan ikan raksasa.

Si Tanpa Mahkota menggeram. Bagaimana kamu bisa sampai di sini, heh? “Tidak ada Teknologi Portal yang bisa langsung menuju Pulau Hari Minggu.” Bataozar menggeleng. “Tidak juga. Aku punya satu-dua trik kecil dengan cermin. Dan kabar baiknya, ada titik penerima untuk melintasi cermin menuju ke sini. Sekali ada titik penerimanya, portal cermin bisa menuju Pulau hari Minggu.”

“Tidak pernah ada titik penerima di Pulau Hari Minggu.” Batozar melambaikan tangan. “Itu benar, namun itu sebelum Ali, anak di belakang ku yang supergenius membuatnya. Dia menyimpan cermin berlian milikku. Beberapa detik lalu cermin itu memanggilku. Cermin itu special, bisa mengetahui situasi darurat yang memegangnya. Aku sebenarnya sibuk, sedang melukis, namun memutuskan segera datang. Lihatlah, kita sekarang berada persis di kerongkongan ikan raksasa, meluncur menuju Klan Komet Minor.

 

Pertarungan dalam mulut ikan pun terjadi. Batozar meladeni si Tanpa Mahkota menggunakan jurus perfettu, teknik bela diri yang ia kuasai di keheningan pagi hari. “Siapa kamu sebenarnya, wahai si bukan siapa-siapa? Dua ribu tahun aku tidak pernah melihat teknik yang kamu gunakan.” Si Tanpa Mahkota menggeram. Dia jelas marah melihat serangan-serangannya dimentahkan begitu saja. Tapi rasa ingin tahunya membuatnya berhenti sejenak. Tatapannya menyelidik. Bola matanya yang bercahaya terlihat makin mengesankan.

Batozar melambaikan tangan. “Aku bukan siapa-siapa. Berapa kali harus ku bilang, Nir. Dan itu hanya satu-dua trik biasa, tidak ada spesialnya. Mungkin kamu terlalu lama di dalam penjara, jadi kudet perkembangan di Klan Bulan.” “Kudet?” “Ya. Kurang update. Aku belajar gaya bicara anak muda di Klan Bumi. Kamu tidak tertarik belajar bahasa_” Si tanpa Mahkota menyergah, “Diam!” Batozar hanya meladeni si Tanpa Mahkota sesaat saja. saat ia berhasil menotoknya dan tubuh si Tanpa Mahkota lunglai, dengan cepat ia menyambar tubuh Ali, Raib, dan Seli lalu melakukan teknik teleportasi. Splas! Mereka muncul beberapa kilometer meninggalkan pulau itu. Dan terus berteleportasi. Hampir satu jam Batozar tanpa henti membawa Ali, Raib, dan Seli melesat meninggalkan Pulau Hari Minggu, setelah itu baru ia mengurangi kecepatan teknik teleportasinya.

 

Pertualangan di pulau ini dimulai dari pertarungan melawan cacing pasak, yaitu cacing yang hidup di kedalaman tanah, puluhan kilometer di perut tanah. Jarang muncul dan tidak pernah tertarik muncul kepermukaan jika tidak ada yang menganggunya. Latihan adu kekuatan yang dilakukan Ali, Raib, Seli, dan Batozar telah menganggu kenyamanan cacing-caing tersebut sehingga ia muncul kepermukaan dan marah. Namun mereka berhasil menanganinya dan bahkan mengoleksi taring cacing pasak tersebut. Ternyata taring cacing itu bernilai mahal ketika di jual di kota.

Setelah berjalan jauh mereka bertemu dengan sebuah kota yang baru saja mendarat. Di kota tersebut mereka bisa memperoleh uang dari hasil penjualan taring cacing pasak, dan juga memperoleh HTP (Hologram Tanda Penduduk), alat yang cukup berguna sebagai pengenal, menyimpan informasi, transaksi keuangan, semuanya melalui HTP. Dari kota ini juga mereka mendapatkan informasi tentang sosok yang bisa mereka jumpai untuk ditanyai tentang senjata yang sedang dicari oleh si Tanpa Mahkota.

Perjalanan mereka awali menuju rumah Tuan Entre, awalnya orang ini enggan untuk bicara bahkan mengusir mereka pergi. Namun akhirnya mereka dipersilahkan masuk walau hanya sesaat, beruntung sakit Seli kumat karena bisa cacing pasak membuat tubuh Seli menghijau tak sadarkan diri, sehingga Tuan Entre mempersilahkan mereka menginap, dan keesokan harinya membocarkan sedikit rahasia, yang menjadi kunci pertualangan mereka selanjutnya.

 

Mereka harus menjumpai Achi di Pengunungan Jauh, lokasi itu penuh dengan rintangan. Potongan senjata pertama ada padanya. Namun mencari tempat dimana Archi berada tidak mudah, hingga akhirnya Raib harus bicara dengan alam dan mereka harus berhadapan dengan kadal-kadal raksasa dengan bola api hingga akhirnya sampai ke tempat tersebut. Sesampainya disana pun mereka tidak bisa mendaki ke puncak, selalu terhempas lagi ke kaki bukit. Hingga akhirnya Batozar mampu mendaki dan menjumpai Arci. Potongan senjata pertama pun mereka dapatkan dari Achi sekaligus petunjuk tentang potongan senjata keduanya. Namun dalam perjalanan menuju tempat senjata potongan kedua berada, mereka dihadang oleh si Tanpa Mahkota. Pertempuran sengit pun kembali terjadi. Si Tanpa Mahkota mengambil potongan senjata itu lalu pergi.

Ali, Raib, dan Seli serta Batozar melanjutkan perjalan menuju kota Archantum. Orang yang paling terkenal di kota tersebut, dialah Kulture, potongan senjata kedua ada padanya. Mereka berhasil menemui Kulture, namun harus melewati test terlebih dahulu baru kemudian potongan senjata kedua akan diberikan. Mereka pun berhasil melewati test tersebut dan mendapatkan senjata potongan kedua. Dari Kulture mereka menemukan petunjuk untuk mencari Finale, pembuat sekaligus pemegang senjata potongan ketiga. Namun lagi-lagi dalam perjalanan menuju kesana mereka dihadang lagi oleh si Tanpa Mahkota, dan ia pun mengambil potongan kedua dan nyaris membunuh Batozar.

 

Mereka selamat dari si Tanpa Mahkota, lalu kembali menyusun rencana bagaimana bisa ke tempat Finale sebelum si Tanpa Mahkota. Melalui portal cermin di ruang bawah tanah yang merupakan markas para pemburu dahulu, mereka bisa menuju kediaman Finale lebih cepat. Tidak lama setelah mereka sampai disana, suara berdentum pun terdengar hebat. Rupanya si Tanpa Mahkota sedang berusaha menghancurkan gerbang menuju kediaman Finale. Dan ia berhasil melakukannya. Pertempuran sengit kembali terjadi, rumah Finale hancur lebur. Didetik terakhir, saat si Tanpa Mahkota merasa diri telah menang. Ali justru tertawa dan mengeluarkan potongan-potongan senjata, menyatukannya dan mengarahkannya ke si Tanpa Mahkota. Si Tanpa Mahkota terlempar, tak berkutit, potongan yang diambil oleh si Tanpa Mahkota sebelumnya ternyata adalah hasil tiruan Ali. Mereka bisa saja membunuh si Tanpa Mahkota, namun memilih memaafkannya. Si Tanpa Mahkota diikat dengan jaring perak, mereka memutuskan untuk membawanya ke tempat si kembar.

Novel ini kategori bacaan remaja, namun siapa saja saya pikir layak membacanya, karena nilai-nilai yang ada didalamnya bisa menjadi renungan buat siapa saja. Inilah kisah tentang persahabatan, tentang pengorbanan, tentang ambisi, dan tentang memaafkan.

#LombaResensiTereLiye

 

 

Baca juga behind the view

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *