Blog

PEREMPUAN BERKELAS

Perempuan berkelas. Bagaimanakah perempuan berkelas itu? Apakah ia yang memiliki rupa jelita sehingga banyak mata terpesona karenanya? Tentu tidak, guys. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, namun IA melihat kepada hati kalian.” (HR. Muslim).

Hadits ini senada dengan firman Allah dalam surat Al Hujarat ayat 13,

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Guys, Rasulullah saw juga bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia.” Inilah kisah Ummu Mahjan, begitu namanya disebutkan dalam Ash Shahih. Perempuan berkulit hitam yang tinggal di Madinah ini adalah seorang perempuan miskin dan lemah. Karenanya ia tidak luput dari perhatian Rasulullah saw selaku pemimpin yang selalu mengayomi orang-orang miskin, dan bertanya tentang keadaan mereka serta memberikan makanan kepada mereka.

Dengan kondisi dirinya yang miskin dan lemah, Ummu Mahjan bertanya kepada dirinya, “Apa yang bisa ia lakukan untuk membantu Rasulullah saw dalam berdakwah” Maka beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari Masjid  dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Beliau senantiasa menjaga kebersihan rumah Allah, sebab masjid memiliki peran yang sangat urgent dalam Islam. Disanalah berkumpul para pahlawan dan para Ulama. Masjid ibarat parlemen dimana dalam sehari lima kali pertemuan diadakan disana untuk bertemu Sang pemilik kehidupan, dan masjid juga merupakan Universitas Tarbiyah Amaliyah, disanalah pusat dasar pembinaan umat dilakukan.

Ummu Mahjan mengambil peran dan tanggung jawab tersebut, sesuatu yang ia pikir bisa ia lakukan untuk berkontribusi untuk Islam dengan kondisi dirinya yang lemah. Namun demikian semangatnya tidak pernah kendor. Ia senantiasa berusaha membuat masjid terasa nyaman bagi Rasulullah saw dan para sahabat. Dan pekerjaan itu terus menerus ia lakukan hingga dirinya menghembuskan nafas terakhir, wafat.

Ketika Ummu Mahjan wafat, para sahabat membawa jenazahnya setelah malam menjelang, mereka mendapati Rasulullah saw masih tertidur. Mereka tidak ingin membangunkan tidurnya, sehingga mereka langsung mengshalatkan dan menguburkannya di Baqi’ul Gharqad.

Pagi harinya, Rasulullah saw merasa kehilangan perempuan itu. Kemudian beliau bertanya kepada para sahabat, mereka menjawab, “beliau sudah dikubur wahai Rasulullah, kami sudah mendatangi mu dan mendapati engkau  masih tertidur, jadi kami tidak ingin membangunkan mu.”

Maka beliau bersabda, “Marilah kita pergi” Lantas bersama para sahabat Rasulullah saw pergi menuju kubur Ummu Mahjan. Rasulullah Saw bediri dan para sahabat mengikuti bershaf-shaf dibelakangnya. Lantas Rasulullah mengshalatkannya dan bertakbir empat kali.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra dikatakan, “bahwa ada seoramg perempuan berkulit hitam yang biasa membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah saw merasakan kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata, “beliau telah wafat.”

Lalu Rasulullah saw bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepada ku?” Abu Hurairah berkata, “seolah-olah mereka mengangap kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah saw bersabda, “Tunjukkan kepada ku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah saw dan beliau menyalatkannya.”

Ummu Mahjan bisa menjadi cermin bagi kita, guys. Secara rupa dan harta ia bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, namun apa yang dilakukan selama masa hidupnya telah menujukkan kelasnya yang tidak biasa. Inilah Perempuan berkelas yang membuat Rasulullah saw merasa kehilangan dan mendatangi kuburnya untuk kemudian menyalatkannya. Bagi yang lainnya kematiannya mungkin sepele, namun tidak halnya bagi Rasulullah saw.

Hari ini, apapun kondisi diri kita, pernahkah kita bertanya kepada diri kita sendiri apa yang bisa kita beri untuk umat? Mungkin kita bisa belajar menjadi perempuan berkelas dari Ummu Mahjan.

Jika status kita masih seorang anak, maka apa yang bisa kita lakukan untuk membuat kedua orang tua kita atau keluarga kita bahagia. Dan apa yang bisa kita lakukan untuk Islam serta kontribusi apa yang kita bisa beri untuk umat ini. Jika status kita seorang istri, apa yang bisa kita lakukan untuk senantiasa menyenangi hati suami dan anak-anak kita serta keluarga besar kita, serta peran apa yang bisa keluarga kita berikan untuk Islam.

 

Perempuan berkelas tidak tercipta dari kemewahan ataupun pendidikan yang tinggi, semuanya berawal dari prilaku dan mindset. Semua perempuan insya Allah bisa menjadi perempuan berkelas jika ia mau, karena ini pilihan, bukan keturunan. Dari beberapa literatur yang saya baca, poin-poin berikut ini bisa menjadi ukuran bagaimana seseorang itu bisa dikatakan perempuan berkelas;

Pertama, Ikuti aturanNYA. Dalam Islam semua sudah diatur, apa saja yang perlu diperhatikan oleh seorang perempuan Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bersikap dan bergaul. Tinggal kemudian diimani dengan sepenuh hati. Jangan habiskan waktu mu memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirin, guys. Percaya saja padaNya, apa yang menjadi milik mu akan tetap mendatangi mu sejauh apapun jarak terbentang dan lamanya waktu berlalu.

Kedua, Fokus saja padaNya dan pada diri mu. Dari pada kamu menghabiskan waktu mengomentari sesuatu yang bukan urusan mu atau wewenang mu, akan lebih baik jika kamu fokus meningkatkan ibadah kepadaNya dan mengasah skill kamu agar menjadi lebih baik. Membicarakan orang lain atau isu-isu diluar dari kendali mu hanya akan menghabiskan energi mu saja. So cerdaslah memilah dan memilih.

Ketiga, Berani dan Percaya Dirilah. Tiap orang itu unik, jadi kamu tidak perlu takut atau minder untuk melakukan apapun selama hal itu masih dalam koridor syariah. Jadilah diri mu sendiri, kamu punya sesuatu yang istimewa yang bisa jadi orang lain tidak memilikinya. Kamu hanya perlu sedikit waktu untuk menemukan jati diri mu. Jangan biarkan orang lain memegang kendali hidup mu.

Keempat, Tahu cara berdandan yang pas. Berdandan disini bukan berarti tabaruj ya guys, karena dalam Islam sangat dilarang seorang perempuan berdandan berlebihan. Tetaplah sederhana, namun elegan sesuai pada tempatnya. Dan yang harus sangat diingat, terutama bagi seorang istri nih, pandai-pandailah merawat diri, karena suami mu menahan diri dengan sangat extra dari banyak godaan di luar sana. Jika kamu di rumah penampilannya bikin ia sesak nafas, wassalam deh.

Kelima, Milikilah Hobby dan minat. Hal ini penting agar kamu bisa memanfaatkan rasa bosan dan kegalauan mu pada hal-hal yang lebih positif. Luangkanlah waktu untuk mengasah ketrampilan dan melakukan hobby mu itu. Ini cara yang cukup ampuh guys untuk mengendalikan emosi yang kadang hadir tak menentu, atau bad mood mu yang tiba-tiba datang menghantui.

Itu saja tipsnya. Perempuan berkelas tahu bagaimana menempatkan diri, menjaga izzah dirinya dan keluarga sesuai dengan kaidah-kaidah syariah. Memegang teguh prinsip hidup dalam ketaatan dan kebermanfaatan karena Lillahi Ta’ala. Semoga kita bisa ya, guys. Insya Allah.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *