Blog

MY RED SWEETIE

My Red Sweetie. Hi Angkasa! Kamu pasti sudah kenal kan  dengan teman setiaku yang satu ini? Alhamdulillah 9  tahun yang lalu ia hadir dalam hidupku, hingga kini masih setia menemaniku kemana saja. Namanya My Red Sweetie, sesuai dengan warna bodynya. Hihihi. Aku masih ingat saat hari itu aku dan ayah ke sebuah shorum di kawasan Jambo Tape untuk lihat-lihat, hanya dia yang tampil berbeda, dan aku langsung jatuh cinta. Satu-satunya sepeda motor yang  menurutku lebih elengan dari yang lainnya, simple dan menawan.

Ada banyak kisah yang sudah kami rajut bersama, dalam teriknya matahari maupun derasnya hujan mengunyur bumi. Telah banyak tempat yang kami tapaki dan lewati bersama, baik dekat maupun jauh. Dan dalam tiap perjalanan itu terkadang duka juga menghampiri kami tak terduga. Aku tidak begitu ingat berapa kali kami kecelakaan, yang terparah adalah saat kaca depan my red sweetie pecah dan aku harus dikusuk lebih dari dua kali. Ada tetangga yang menimpali saat menjenguk ku waktu itu. Katanya hal ini terjadi karena aku tidak mengizinkan my sweetie red dipeusijuk, makanya kecelakaan. Aku hanya tersenyum sambil berucap, “ada begitu banyak motor yang ku lihat dispeusijuk oleh pemiliknya, namun itu motor kecelakaan juga. Jadi apa hubungannya kecelakaan dengan peusijeuk?” Tetangga tersebut akhirnya diam.

Hal-hal yang mengarah pada kesyikirikan aku cukup berhati-hati. Karena aku ingin semua benda yang ku miliki mendekatkan ku pada Illahi Rabbi, bukan justru sebaliknya menjadikan ku menyekutukanNya. Mungkin aku terlihat cukup keras dalam hal ini, at least yang berurusan dengan diriku sendiri aku memegang teguh prinsip ini. Namun jika berkaitan dengan orang lain, itu terserah sama kepercayaan orang yang bersangkutan sich, paling aku hanya menyampaikan saja, orangnya mau mendengar atau tidak, Allah know best.

My red sweetie hadir dalam hidupku buah dari hasil kerja ku di NGO Asing pada waktu itu. Memang sich ada fasilitas motor dari kantor, namun punya motor sendiri lain rasanya. ketika ku lihat tabunganku sudah cukup. Bismillah, ku sampaikan pada ortu dan akhirnya proses pencarian motor pun dimulai. Waktu itu harga my Red Sweetie sekitar Rp. 14 juta rupiah, tabungan ku hanya sekitar Rp. 12 jt, so 2 juta lagi ditambahin oleh oarng tuaku. Namun demikian kepemilikan motor tersebut tetap atas namaku.

Kenapa membeli Jupiter Z? Sebelum membeli motor, aku bertanya dulu pada orang rumah, termasuk adikku, ia suka pakai motor apa. Aku kasih brosure motor padanya, ada dua jenis yang ia suka, salah satunya Jupiter Z. Setelah ku pikir-pikir, selain karena body jupiter Znya slim menurutku, simple dan elengan, mudah juga untuk ayahku mengendarainya nanti. Jadi walaupun ini motor ku, saat membelinya aku mempertimbangkan juga apakah orang rumah mudah untuk memakainya atau tidak.

Alhamdulillah, kebersamaan kami mengukir cukup banyak cerita. Saat adik ku beli motor juga, ia membeli motor metic yang tampilannya cocok untuk dikendarai oleh perempuan. Kamu pasti tahulah motor MIO, guys. Jadi pernah ada yang berseloroh begini; “Ini sudah terbalik bawa motornya nih, masak yang perempuan bawa motor Jupiter Z, sedangkan yang laki-laki malah naik MIO?”  Aku hanya senyum saja :D. Toh dari kebermanfaatan, motor ku jauh lebih bermanfaat. Setiap ayah ingin ke Banda Aceh, ga mungkin pakai motor bututnya yang suara nyaring itu, selalu motor ku yang ayah pinjam, sebab beliau ga bisa bawa motor metic. Sesuai dengan niat awal beli motornya. Motorku ini harus mudah dipakai oleh orang rumah, terutama ayah.

Waktu berjalan begitu cepat, beragam model motor muncul, beberapa teman dan kerabat mulai bertanya, kok ga ganti motor, na? Sudah bisa ganti baru, lagian perempuan kok naik Jupiter Z. Yang laki-laki malah naik metic. Lagi-lagi aku hanya senyum saja. Motor ini banyak sejarahnya ucapku. Banyak kenangan indah tercipta antar kami, lagian mesinnya masih okay, justru motor adik yang metic lebih sering masuk bengkel ketimbang motor ku ini. My red sweetie masuk bengkel just jika kelacakaan saja plus servis sebulan sekali. jadi mana motor yang paling kuat dan tahan banting? Hehehe. Baca juga Takziah Berujung Piknik

Aku bangga dengan my Red Sweetie, ia tak pernah mengeluh kemanapun aku membawanya. Mendaki gunung yang terjal, melewati anak-anak sungai, menuruni bukit demi bukit dan bahkan berlumpur, ia jalanin semuanya. Ia membersamai ku saat ke Air Terjun Kuta Malaka dengan jalanan mendaki yang terjal plus berbatu. Ia membersamaiiku saat ke Krung Raya, pasir putih yang lumayan jauh jarak tempuhnya. Ia juga membersamai ku saat ke Lhok Sedu, Lepung yang jaraknya kadang bikin pegel, hehehe. Bahkan ia menemaniku beberapa kali ke Jalin, Jantho. Dari ujung ke ujung, dari gunung ke gunung, dari pantai ke pantai, dari tempat ke tempat, ia selalu membersamaiku. Bagaimana mungkin aku bisa pindah ke lain hati sedangkan ia masih setia menemani, masih terlihat cantik diajak kemana-mana, masih good looking disanding dengan motor lainnya. Keren kan… 🙂

Ah my Red Sweetie, tanpa hadir mu ruang gerakku terbatas. Tanpa mu disisi langkah kaki ku terhenti. Tanda engkau membersamiku tak banyak tempat yang bisa ku lihat di bumi. Terima Kasih ya Allah, telah Engkau hadirkan my Red Sweetie dalam hidupku. With my Red Sweetie the more I go the more I see. I love you my Red Sweetie! Baca juga The power of together

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *