Blog

MENU SHALAT

Menu shalat. Hmm, Apa maksudnya menu shalat? Biasanya di bulan Ramadhan begini, bahkan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Orang-orang sudah pada sibuk simpan resep untuk dipraktekkan buat menu sahur atau pun menu berbuka puasa. At least begitulah postingan yang berseliweran di dinding FB saya. Begitu juga di beberapa group WA, bertebaran sharing resep menu-menu untuk berbuka puasa.

What’s wrong with that? Nothing sich. Tidak ada yang salah, tiap orang punya orientasi masing-masing bagaimana mengisi Ramadhannya. Baik mengasah kemampuan memasak, kemampuan menulis, kemampuan berbenah, kemampuan mendekor/design, kemampuan berbisnis, kemampuan menghafal Qur’an, etc. Namun entah kenapa hati saya tiba-tiba tergelitik tentang menu shalat. Bisa jadi karena hafalan Qur’an saya yang masih sedikit.

Saya teringat dialog yang diceritakan Bu Septi di kelas Ibu Profesional beberapa tahun yang lalu, saat beliau berdiskusi dengan Elang, putra bungsunya di meja makan. “Bu, ibu memasak sudah bertahun-tahun kan, seharusnya sudah jadi Master cooking. Kan tiap hari memasaknya bisa beberapa kali, belum lagi dalam sepekan, sebulan dan tahun demi tahun.” Kata-kata Elang itu menohok Bu Septi banget. Benar juga, kata hati beliau. Kenapa belum jadi master ya? Mungkin selama ini memasaknya dilakukan sekedarnya saja, sebatas menunaikan kewajiban memasak untuk anggota keluarga. Tidak berniat untuk melatih skillnya menjadi ahli, walaupun koki ahli di rumah sendiri.

Bisa jadi juga saat memasak pun menu yang dipraktekkan itu-itu saja, hanya beberapa resep yang akhirnya itulah yang menjadi menu dalam sepekan, yang kemudian diulang-ulang setiap bulan dan tahunnya. Sudah di luar kepala, sehingga saat ingin membuatnya tidak perlu melihat resep lagi. Diantara sekian banyak simpanan resep hanya beberapa saja yang dipraktek dan itulah juga yang kemudian jadi menu masakan keluarga. Walau terkadang ada anggota keluarga yang protes, ini lagi menunya? Ga ada yang lain?

Saya jadi berfikir, jika untuk urusan dapur, yakni memasak kita rajin benar nyimpan resep, dan bikin list menu. Kenapa kita tidak berfikir untuk bikin Menu Shalat? Terutama untuk shalat fardhu yang sehari 5 waktu, belum lagi shalat sunnatnya. Apalagi di bulan Ramadhan seperti ini ada tambahan shalat tarawihnya. Bagaimana dengan menu shalat kita? Adakah kita tergerak or terbersit untuk membuat menu shalat, guys? Membuat list surat apa saja yang hendak dibaca atau dimuraja’ah saat melakukan shalat, sehingga tidak membaca surat yang itu-itu saja setiap waktu shalat tiba. Yang bisa jadi kita malah sering membaca surat yang sama dalam satu waktu shalat karena bingung mau baca apalagi. Pernah begini?

Bukan karena kita tidak menghafal surat-surat lainnya, namun itu tadi, seperti memasak. Banyak menyimpan resep memasak, namun yang diesekusi hanya resep-resep yang itu-itu saja. Jadi itu lagi. So ini pun demikian, hafalan kita bisa jadi lumayan, namun karena jarang dimuraja’ah, atau dibaca dan diulang-ulang jadinya banyak hafalan kita yang hilang. Surat-surat yang sudah kita hafal jarang kita muraja’ahkan dalam shalat, sehingga hafalan itupun tidak mulqin, akhirnya menguap dan terlupakan. Padahal kita sudah bertahun-tahun shalat.

 

 

Pentingkah menu shalat bagimu, guys? Bagi saya penting. Tepatnya mulai dari Ramadhan ini saya merasa perlu membuat menu shalat. Sebagai jalan untuk murajaah hafalan, sekaligus acuan plan surat yang ingin dihafalkan kemudian. At least jika sudah dibikin list begini, jadi termotivasi untuk mengeksekusi. Hasilnya lihat nanti, yang penting coba dulu. Bukankah metode yang baik itu lahir dari eksekusi demi eksekusi? Jika kita ingin berbenah ya harus berbenah. Jika tidak pernah berbenah, terus apa yang mau kita benahi dikemudian hari, right?

Jika untuk urusan tubuh, baik gemuk atau pun kurus kita galau banget tanya resep disana disini, begitu pun untuk urusan wajah mau putih dan ga jerawatan ajaaja panik minta ampun gimana caranya. Namun kenapa untuk urusan hati kedekatan denganNya kita sering abai? Kalau berdoa kita maunya minta cepat-cepat Allah kabulkan, right? Namun bagaimana dengan urusan kita menghadap selama ini, pernahkah kita renungi. Sudah benarkah cara kita bercumbu denganNya? Sudah sepenuh hatikah kita saat bicara padaNya? Sudah yakinkah kita akan pertolonganNya? Seberapa kuat hati kita bergetar saat namaNya disebut? Adakah shalat mampu menjadikan kita menjadi hamba yang benar-benar berserah?

 

Memperbaiki hubungan dengan ilahi Rabbi. Menemukan kembali spirit yang pergi, ketenangan yang hilang, dan juga mendapatkan kembali komitmen diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Shalat adalah kunci. Karena dari-nya lah kita bisa merasakan energi yang Allah beri untuk siap menghadapi hari. Are you ready be better, guys? Semoga Ramadhan ini menjadi momentum untuk kita menjadi hamba yang bertaqwa. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *