Blog

MENJADI BIDADARI

Menjadi bidadari. Siapa sich yang tidak mau menjadi seorang bidadari? Saya rasa, semua perempuan di dunia ini tanpa ditanya pun sudah terucap kata “mau” di dalam sanubarinya, right? Namun bagaimana perjalanan menjadi bidadari itu bermula dan berakhir. Ini yang bisa jadi tiap perempuan berbeda-beda cerita dan lika likunya.

Ukhtifillah, tulisan ini saya goreskan untuk mu, yang hari ini masih yakin akan kemahabesaran Ilahi Rabbi. Zaman boleh berubah dan tahun boleh berganti, namun tidak dengan keimanan mu, tidak dengan prinsip-prinsip hidup yang dari dulu engkau pegang teguh. Tetaplah kokoh, tetaplah tersenyum, tetaplah bergerak, berkarya, dan menjadi  pribadi yang menjadikan Allah tetap yang paling utama di atas apapun jua. Agree?

Well, tahukah kamu saudara ku? Hidup ini penuh dengan keajaiban, bahkan setiap hari keajaiban itu terjadi di sekitar kita. Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang sebuah kisah nyata, bagaimana Allah menunjukkan kemahabesarnNya atas tindakan manusia yang sering kali bertuhankan logika.

 

Kisah nyata seorang perempuan berusia 35 tahun. Kisah ini saya sadur dari statusnya Ustad Zulkifli yang dishare oleh seorang teman saya di FB. Suatu hari, datanglah seorang pemuda ingin meminang perempuan tersebut. Usianya lebih muda dari perempuan itu. Pemuda itu dari keluarga kurang mampu, namun perempuan tersebut menerimanya dengan ikhlas.

Mereka mulai merancang rencana pernikahan, pemuda tersebut meminta data-data seperti foto copy KTP, foto, etc untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Namun dua hari setelah itu, ibu dari si pemuda ini menelpon perempuan tersebut dan mengajaknya untuk bertemu. Perempuan itu menemuinya. Tiba-tiba ibu pemuda itu mengeluarkan foto copy KTP perempuan tersebut.

Ibu itu bertanya kepadanya, “Apakah tanggal lahirnya di KTP itu benar?”

Perempuan tersebut menjawab, “benar”.

Si ibu lalu berkata, “Jadi umur mu sudah mendekati 40 tahun?”

Perempuan itu menjawab, “usia saya sekarang 35 tahun.”

Si Ibu berkata lagi, “Iya sama saja. Usia mu sudah lewat 30 tahun. Itu artinya kesempatan mu untuk memiliki anak semakin tipis, sedangkan aku ingin sekali menimang cucu.”

Ibu itu terus bicara dan bersikeras membatalkan pinangan anaknya pada perempuan tersebut. Masa-masa sulit itu berlalu hingga enam bulan. Akhirnya si perempuan memutuskan untuk pergi ibadah Umrah bersama ayahnya. Ia  berlutut di depan Ka’bah menumpahkan semua rasa sedihnya, memohon kepada Allah agar diberikan jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, ia melihat seorang perempuan membaca Al Qur’an dengan suara yang sangat merdu. Perempuan itu membaca;

“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepada mu itu sangat besar.” (An Nisa: 113)

Air mata perempuan itu menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an tersebut. Tiba-tiba perempuan yang sedang membaca Al qur’an tersebut merangkulnya. Dan mulai mengulang firmanNya yang lain;

“Dan sungguh, kelak Tuhan mu pasti memberikan karunia Nya kepada mu, sehingga engkau menjadi puas.” (Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seketika perempuan itu menjadi tenang, seolah-olah ia baru kali itu mendengar ayat tersebut seumur hidupnya. Pengaruhnya luar biasa bagi jiwanya. Selesai Umrah, ia kembali ke Cairo. Di pesawat ia duduk di sebelah kiri ayahnya, sedangkan di sebelah kanan ayahnya duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di Bandara, ia pun turun. Di ruang tunggu, ia bertemu dengan suami salah seorang temannya. Ia bertanya kepada suami temannya tersebut, “dalam rangka apa ke Bandara?” Suami temannya itu menjawab bahwa ia sedang menunggu kedatangan seorang teman yang kembalinya dengan pesawat yang sama seperti dirinya tumpangi. Tidak lama kemudian, tiba-tiba teman dari suami temannya itu datang. Dan ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayah perempuan tersebut.

Perempuan tersebut dengan ayahnya lalu berlalu. Baru saja ia sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asyik-asyiknya beristirahat, temannya yang suaminya ia temui di Bandara tadi menelponnya. Langsung saja temannya itu mengatakan kalau teman suaminya yang tadi satu pesawat dengannya tadi sangat tertarik dengan dirinya. Pemuda itu ingin bertemu dengan dirinya di rumah temannya malam itu juga. Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantung perempuan itu berdenyut kencang akibat kejutan yang tidak pernah ia bayangkan. Ia meminta pertimbangan ayahnya terhadap tawaran suami temannya itu. Sang ayah memberi semangat padanya untuk memenuhi ajakan tersebut. Hanya beberapa hari setelah itu, si pemuda sudah datang melamar perempuan tersebut secara resmi. Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan tersebut mereka benar-benar menjadi pasangan suami istri. Allahu Akbar!

 

Kehidupan keluarga mereka dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan. Perempuan itu bahagia, karena mendapatkan suami yang benar-benar sesuai dengan harapannya. Suaminya sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhnallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Waktu demi waktu pun berlalu namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya, sedangkan usianya waktu itu sudah memasuki  angka 37 tahun. Ia meminta suaminya membawa dirinya ke dokter untuk memeriksakan diri. Ia dan suami pergi ke dokter kandungan terkenal ahli dan berpengalaman. Sang dokter memintanya untuk mengecek darah. Ketika menerima hasil cek darahnya, sang dokter berkata, “tidak perlu pemeriksaan lanjutan karena hasilnya sudah jelas.” Langsung saja sang dokter mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Mereka bahagia luar biasa, namun si perempuan merasakan kepayahan yang tidak biasa selama masa kehamilan. Ia merasa kandungannya terlalu besar, mungkin karena ia hamil di usia yang tidak begitu muda pikirnya. Menjelang hari melahirkan, ia harus melakukan persalinan secara caesar. Setelah sadar, sang dokter masuk ke kamarnya dengan senyuman mengembang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang ia harapkan.

Perempuan itu menjawab bahwa ia hanya mendambakan karunia Allah, tidak penting baginya jenis kelamin. Laki-laki atau perempuan akan disambutnya dengan beribu syukur. Dan ia dikagetkan dengan pertanyaan; “jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?”

Ia tidak paham apa yang diucapkan oleh sang Dokter padanya, karena penasaran ia meminta penjelasan. Lalu sang dokter menjawab sambil menenangkan dirinya agar tidak kaget dan histeris bahwa Allah telah menganugerahinya 3 orang anak sekaligus; 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan. Seolah-olah Allah memberi jawaban atas kegagalan rencana pernikahannya sebelumnya. Memberinya 3 anak sekaligus sebagai wujud kemahabesaran Allah untuknya dalam mengejar ketertinggalannya karena ia menikah di usia yang tidak lagi muda.

 

Sebenarnya dokter tersebut sudah tahu kalau perempuan itu mengandung 3 anak kembar, namun ia tidak ingin menyampaikan hal itu pada perempuan tersebut agar ia tidak merasa cemas dalam menjalani masa-masa kehamilannya.

Sambil menangis terharu, perempuan tersebut mengulang-ulang lagi ayat Allah,

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى  (Wala-saufa yu’tika rabbuka fatarda), “Dan sungguh, kelak Tuhan mu pasti memberikan karuniaNya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (Adh Dhuha: 5)

 

Uktifillah, penting sekali bagi kita untuk selalu berprasangka baik kepada Allah SWT setiap saat. Karena kita hanya manusia biasa yang tidak punya kuasa apa-apa, bahkan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita satu detik ke depan, maka bagaimana kita tahu apa yang akan terjadi dengan hari-hari dan tahun-tahun mendatang? Allah lah yang maha tahu, dan Allah selalu akan memberi yang terbaik untuk kita. Percayakan saja semua urusan kita kepadaNya, termasuk soal menjadi bidadari ini. Allah pasti akan memilih ia yang terbaik untuk agama, dunia dan akhirat kita.

Allah SWT berfirman, “Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan kami…” (Ath Thur: 48).

Menjadi bidadari bukan tentang cepat ataupun lambat status itu engkau dapatkan, namun tentang konsep diri untuk terus berbagi. Menjadi bidadari, adalah bagaimana menjadi pribadi yang tidak hanya berfikir tentang diri sendiri, namun juga bagaimana bisa menebarkan sayap-sayap kebaikan dimana pun berada dalam berbagai kondisi dengan cara yang Allah ridhai. Karena berjuang bersama dan menyatukan mimpi-mimpi kehidupan itu hanya dibenarkan setelah akad terucap dan semesta mengamini.

Berbagi, tidak mengenal istilah lapang atau sempit, tidak mengenal istilah kaya atau miskin, tidak mengenal istilah tua atau pun muda, dan tidak juga mengenal istilah dekat atau pun jauh. Jika ada kebaikan yang bisa kita beri, berbagilah. Mudahkan urusan saudara mu, maka Allah akan memudahkan urusan mu.

Saat Allah menginginkan mu menjadi seorang Bidadari, maka IA akan memudahkan jalan mu menuju ke sana, akan Allah berkahi tiap ikhtiar mu dalam meraihnya. Dan akan Allah tunjukan keajaiban-keajaibanNya saat Engkau pasrahkan dirimu kepadaNya.

 

Ukhtifillah, cerita di atas hanyalah penggalan sebuah kisah nyata, masih banyak kisah nyata lainnya yang kesemuanya Alhamdulillah berakhir indah walaupun lika-liku perjalanannya berbeda-beda. Ada yang jalannya mulus seperti jalanan tol, baru pertama kali ta’aruf langsung saja status bidadari tersemat pada dirinya. Ada juga yang gagal ta’aruf berkali-kali, ada juga yang kembali minta ta’aruf dengan orang yang sama lalu membangun mahligai rumah tangga. Ada juga yang pasangan hidupnya itu, justru orang yang sama sekali belum pernah berteman dengannya di sosial media apapun. Saat sudah menjadi sang bidadari baru keduanya saling berteman di sosmed.

Sungguh! Skenario Allah itu indah. Tugas mu hanyalah berbenah. Sebab ibadah terlama itu adalah berumah tangga, maka carilah pasangan yang siap untuk selalu belajar dan berbenah bersama.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *