Blog

MENIKAH ITU IBADAH

Menikah itu ibadah. Saya yakin kita semua setuju. Amalan yang satu ini memiliki nilai ibadah yang tinggi dimata Allah SWT. Sangking tingginya syaitan aja berkerja extra agar kedua insan yang ingin merajut mahligai hidup baru tidak jadi untuk menikah. Mulai dibikin ragu-ragu hingga berprasangka ini dan itu hingga menghadirkan rasa benci antar keduanya. Bukan hanya itu, bahkan saat aqad nikah terucap pun semesta raya bergetar hebat. Luar biasa, bukan? Apa ada ibadah yang seperti ini? Yang ketika engkau jalani separuh agamamu terlengkapi? Nothing!

Namun tunggu dulu, pemahaman akan “menikah itu ibadah” bisa beragam dari banyak orang. Semua bergantung pada cara pandang dan harapan yang digenggam saat rencana menikah itu diputuskan. Yuk kita bahas one by one:

Pertama, menikah itu ibadah jadi jangan banyak pilih-pilih, ingat usia.
Pernah mendapati anggapan begini, guys? Saya sering banget berhadapan dengan orang-orang yang berargumentasi begini. Mungkin bagi mereka, menikah ya menikah saja. Status berganti, selesai. Selanjutnya ya jalani sebisanya.

Saya kurang setuju dengan argument seperti ini, justru karena menikah itu ibadah, kita harus benar-benar memilih. Sebab ia yang akan kita ajak hidup bersama benar-benar orang yang bisa “seiya sekata” menuju JannahNya. Jika menikah hanya sekedar pergantian status dari single menjadi married, apa dengan begitu separuh agama bisa terpenuhi?

Betapa banyak saya melihat pasangan yang justru setelah menikah tujuan utama dari pernikahan tak terperhatikan sama sekali. Katanya menikah itu ibadah, namun setelah menikah justru amalannya semakin menipis. Padahal berkeluarga itu untuk saling menguatkan menujuNya. Memang amalan suami istri dengan amalan mereka yang belum menikah berbeda. Namun dalam konteks interaksi dengan sang Khalid menurunnya drastis, bro and sis. Bukan saya yang mengira-ngira yah, namun begitulah fakta yang terjadi ditengah masyarakat kita.

For example aja nih: ada seorang Ikhwan mengeluh, “saya sejak menikah susah sekali tilawah Qur’an berjuz-juz seperti dulu, jangankan satu juz, setengah juz saja repot”. Ada juga akhwat yang ngeluh, “saya sejak nikah jadi jarang bisa tilawah Qur’an, waktu habis didapur terus.” Kata-kata ini terucap dari mulut seorang Ikhwan dan seorang akhwat, guys. Could you imagine that? Ini baru satu amalan yah, belum yang lain-lainnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena itu tadi, menikah ya menikah saja. Jadi kalau ada yang datang terima saja, saat ta’aruf lupa menanyakan tentang visi berkeluarganya apa. Misi berkeluarganya gimana. Kira-kira rumah tangganya nanti mau dibawa kemana. Baca a household: which one model do you want?

Aktivitas rutin menjadi berbeda setelah menikah itu wajar banget. Namanya juga hidup baru. Dulu sendiri, sekarang berdua. Dulu suka-suka mau lakuin apa, sekarang ada tanggung jawab yang harus dipegang teguh. Namun itu hanya sebentar saja terjadinya, jika punya visi misi keluarga yang jelas insyaAllah penyesuaian akan lebih cepat tercipta. Bukan kata saya yah, namun kata mereka yang sudah berpengalaman dan berhasil membawa mahligai yang mereka bangun sesuai dengan visi misi yang mereka goreskan.

Kedua, menikah itu ibadah, buruan dah biar diri terjaga dari dosa dan maksiat.
Hmm, ini dijadikan salah satu tujuan dari pernikahan boleh-boleh saja. Sebab sabda Rasulullah saw sendiri mengatakan bahwa jika seseorang sudah layak untuk menikah dan ia takut dirinya terjerumus dalam kemaksiatan, sedangkan puasa tidak lagi bisa menjadi solusi baginya, maka menikah wajib hukumnya bagi dirinya. Namun demikian ada hal-hal yang perlu diperhatikan juga disini. Agar mahligai kehidupan berumah tangga bisa abadi. Jika orientasinya hanya sekedar penyaluran seksualitas, maka mahligai ini rapuh sekali pondasinya, guys.

Saya bicara atas nama fakta, seorang Ikhwan yang menikah karena ia tak kuasa lagi menjaga nafsunya. Namun tanpa disertai dengan konsep berumah tangga yang jelas, yang terjadi kemudian ia justru mengabaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Tidak pernah berfikir mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga, hari-harinya hanya sibuk mengomentari isu-isu di sosmed, ngumpul-ngumpul dengan teman-temannya hingga malam di warung kopi. Begitu tiap harinya. Bahkan ketika punya anak pun kondisinya tidak berubah, Alhamdulillahnya istrinya punya kenalan sehingga sang suami bisa mengajar walaupun sepekan hanya tiga kali. Namun kebiasaan menghabiskan waktu di luar rumah masih tidak berubah, anak tak ada yang bantuin jaga sedangkan si istri sebagai PNS sering pulang sore.

Mungkin anda bertanya, kok mau sich nikah dengan lelaki “penganguran (tidak punya pekerjaan sama sekali)”? Guys, Seorang wanita sholihah memang tidak pernah takut menikah dengan laki-laki manapun asalkan agamanya baik. Namun ternyata beragama saja tidak cukup. Saya jadi teringat kata-kata bibi saya, “selain beragama, carilah ia yang amanah juga.” Jika tidak seperti kasus diatas.

Kadang saya sedih dan merenung sendiri ketika selesai ditelpon seorang teman yang curhat tentang kondisi keluarganya, jika bukan karena anak mungkin sudah lama ia minta cerai. Ini bukan faktor ekonomi ya guys, jarang banget seorang muslimah mengeluh soal keuangan keluarga. Sebab jika keuangan kurang, seorang muslimah cukup sigap untuk bisa membantu suaminya mencari income tambahan. Apalagi di dunia digital seperti sekarang ini. Bahkan ada akhwat yang ditinggal lari suaminya ke pulau lain, menolak dikasih bantuan dana untuk pengembangan usahanya karena ia punya prinsip ga mau dikasihani. Jika mau bantu, beli dagangannya saja. Dan sekarang beliau menghidupi ketiga anaknya seorang diri. Luar biasa, bukan? Jangan tanya saya Ikhwan seperti apa yang bisa meninggalkan istri sholihah seperti ini. Jadi ini bukan soal ekonomi yah, yang sering menjadi keluhan itu justru soal mindset dan karakter. Benar banget kata quote dibawah ini:

“You may fail in love with the beauty of someone, but remember that finally you have to live with the character, not the beauty.”

Saya suka kali dengan kutipan jenderal Sudirman berikut, bukan karena nama ayah saya Sudirman yah, hahaha. Beliau bilang, “Segala sesuatu bisa diselesaikan dengan iman.” Dan kutipan ini saya pikir bisa masuk dalam segala lini kehidupan, baik dalam hal berumah tangga, berbisnis or apa saja. Jadi jika seorang istri tidak bisa menghargai suaminya yang sudah pontang panting berjuang untuk keluarga, imannya dipertanyakan. Jika ada seorang suami meninggalkan tanggung jawabnya atas keluarga, imannya juga dipertanyakan. Bukan soal ia seorang akhwat or Ikhwan yah. Zaman sekarang mah kalau dari segi pakaian sudah tak lagi berbeda, namun dari segi pemikiran dan karakter kita akan tahu kualitas iman itu seperti apa.

Ketiga, menikah itu ibadah, jadi ga usah banyak mikir.
Hmm, saya kok bingung yah dengan statement ini. Justru karena menikah itu ibadah, dari awal kudu dipikirin. Gimana sich, asal ngomong aja ni orang. Memangnya ucapan kalimat dalam satu tarikan nafas itu gampang apa? Lo pikir itu kalimat biasa, hah? Itu janji suci bro and sis, berat konsekwensinya. So kudu dipikirin donk konsep keluarga yang mau dibangun gimana, kudu dipilih juga pasangan hidupnya bisa bersinergi or tidak. Kalau ga bisa bersinergi konsepnya ya tinggal konsep doank entar.

Ada banyak keluarga ngeluh, hidup rumah tangganya lama-lama menjadi hambar. Ya iyalah jadi hambar. Jika suami sibuk sendiri dan istri juga sibuk sendiri. Ketemu sekedar basa basi dan rutinitas rumah yang itu-itu aja. Tak ada inovasi dan program up grade diri. Lama-lama suami mikir, “istrinya ga asyik diajak diskusi.” Dan si istri mikir, “ah suaminya kurang peka dan tak lagi romantis dan perhatian.” Ini terjadi karena masing-masing tenggelam dalam aktivitas yang kurang membangun. Coba suaminya edukasi si istri jika memang aktivitasnya ga mungkin up grade ilmu. Paling bagus lagi jika punya jadwal belajar bersama. Begitu pun si istri sesekali hadirkan kejutan untuk suami, sehingga punya momentum untuk bicara dari hati ke hati. InsyaAllah hal-hal kecil bisa menjadi perekat dan pengikat untuk terus lebih dekat walaupun tahun berganti dan usia menua. Yang begitu-begitu kan kudu dipikirin, guys.

Ketakutan terbesar saya memutuskan untuk menikah itu adalah apakah saya bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya? Apakah saya bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami? Apakah saya bisa menjadi menantu yang baik bagi mertua saya? Apakah saya bisa membuat orang tua saya bahagia dengan pernikahan tersebut? Apakah Allah senang dengan pernikahan ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu kerap kali menghantui saya. Dan yang bisa saya lakukan saat ini just learning to be better aja. Saya akan menikah dengan seseorang yang saya yakin bisa bersabar dengannya. Saya akan menikah dengan seseorang yang bisa saling support dalam hal apapun. Saya akan menikah dengan seseorang yang melihatnya saja bisa bikin saya tersenyum. Saya akan menikah dengan seseorang yang bukan hanya pandai bicara, namun juga mampu mewujudkan kata-katanya itu dalam tindakan nyata. Nah ini ada doa yang bagus buat dapatin jodoh, guys.

Bagi laki-laki, tinggal ganti kata-kata (suami) menjadi (istri) aja.

Huff, panjang yah, belum lagi mikirin saat nikahnya nanti, pakaiannya syar’i or tidak, hiasan wajahnya tabaruj or tidak. Plus walimahanya bercampur antara laki-laki dan perempuan tidak. Dan masih banyak lagi yang kudu dipikirin. Jadi gimana ceritanya menikah itu ibadah ga usah banyak mikir. Hadeuh, capek deh!

Menikah itu ibadah. Sebab aku tidak sempurna, dan engkau pun tak sempurna. Allah menyekutukan kita untuk bisa saling menyempurnakan menuju surgaNya.

Menikah itu ibadah, selama kita punya semangat yang sama untuk membuat hidup kita lebih baik, punya sikap positive yang sama untuk menghadapi tantangan apapun didepan nantinya, punya keberanian yang hebat untuk membuat mimpi-mimpi kita bersama menjadi nyata, serta punya komitmen yang sama untuk memberi yang terbaik untuk keluarga besar kita.

My life partner, whoever and wherever you are right now, I’m waiting you enter to my life soon. If you sure we can grow together, come to my home and meet my parents!

3 Respon

  1. enny luthfiani berkomentar:

    Bagus banget opininya mba, kritis terhadap slogan pernikahan yang digaungkan atas nama ibadah. Memang tidak salah namun kalau ditelan mentah-mentah dan pada akhirnya banyak trouble di rumah tangganya justru esensi ibadah itu akan berkurang dan hilang. Paling pas memang sembari menunggu jodoh yang diberikan Allah memperbanyak ilmu dan memperkuat mental (:

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Alhamdulillah mba terbiasa jadi diri sendiri. Iya terus berbenah dan berbenah mba. Hingga Allah ketuk hati sang pejuang untuk berani unjuk diri, hihihi.

      Kata orang jodoh itu ada “disekeliling” kita. Masalahnya terlalu banyak orang disekeliling, jadi bingung nebaknya 😀 Padahal orang sendiri, saya sendiri, hahaha. Cukuplah doa jadi senjatanya. Hanya ia yang berani datang ke rumah saja entar tandanya berjodoh. Doaian yah mba. 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *