Blog

MEMILIH MISI ATAU AMBISI

Memilih misi atau ambisi. Dear angkasa! Saya seperti diajak berkontemplasi, kembali menelusuri puzzle-puzzle kehidupan dan mengulik lembaran-lembaran perasaan dari masa kecil. Jujur saja, kelas parenting online lumayan sering saya ikuti, namun seminar parenting offline, baru kali ini saya hadiri. Bukan apa-apa, tema kali ini benar-benar mengusik emosi dan kepenasaranan saya. Baiklah, saya share deh biar kamu juga ga ikut penasaran karenanya yah. 😁

“Membebaskan Inner Child dan Mengoptimalkan Potensi Diri.”

Ini tema bahasan pertama di Seminar Parenting yang saya ikuti, Sabtu, 23 Maret 2018 di Training Center Banda Aceh, bersama bapak Muhammad Firman (Praktisi Talents Mapping, Bandung).

Inner child merupakan rekaman proses kehidupan masa kecil, khususnya terkait bagaimana orangtua, saudara, dan orang lain di lingkungan menghadirkan pengalaman dan perlakuan kepada diri kita. Rekaman perlakuan itu kemudian membangun SKEMA. Suatu pola aksi reaksi dalam prilaku.

Pribadi yang tumbuh dengan penerimaan, pemahaman, dan dukungan akan memiliki  Inner Child yang bahagia, penuh emosi dan skema positif akan menguatkan bakat dan kepribadiannya. Sebaiknya pribadi yang tumbuh di tengah penolakan, kesalahpahaman, pengabaian, akan menyimpan Inner Child yang negatif, dan terus terbawa ke masa dewasa, lalu mempengaruhi perilakunya. SKEMA negatif tersebut akan memunculkan pola emosi yang merusak ke dalam atau pun ke luar.

Jenis-jenis Inner Child;
• Vulnerable Child : sosok anak yang gelisah dan merasa rentan karena kurang dukungan penerimaan.
• Angry Child : sosok anak yang marah karena merasa direndahkan, diperlakukan tidak bernilai, dan tidak mendapatkan apa yang ia yakini sebagai haknya.
• Playful Child : sosok anak yang bebas ceria dan ekspresif, penuh limpahan emosi positif.
• Creative Child : sosok anak yang cerdas dan kreatif produktif.
• Spiritual Child : sosok anak yang memiliki kesadaran akan ketuhanan dan nilai-nilai kebaikan.

Siapapun! Mengakuinya atau pun tidak, pasti mempunyai inner child dalam dirinya. Jika Inner childnya bahagia tentu tidak menjadi persoalan. Namun jika inner childnya negatif, tentu ini perlu diselesaikan agar tidak menjadi penghambat di masa depan. Materi ini memang bukan hal yang asing bagi saya. Di kelas parenting online sudah pernah dibahas, namun kepenasaranan yang berkaitan dengan potensi diri dan tema kedua “Merancang Misi Keluarga-lah” yang menjadi alasan kuat saya untuk berpartisipasi dalam seminar ini.

Well, kita awali dari kaitan Bakat dan Inner Child;
• Anak lahir dengan sifat bawaan. Setiap kita terlahir dengan sifat bawaan masing-masing.
• Sifat bawaan itu memunculkan kepribadian dan perilaku yang unik, yang akan direspon oleh orangtua / orang lain dengan sikap tertentu.
• Respon orangtua terhadap dirinya akan memberi bekas yang kuat pada diri anak, membentuk Inner Child yang akan terus terbawa seiring anak bertambah dewasa.
• Inner Child akan mempengaruhi ekspresi, bakat dan kepribadian unik sang anak saat ia dewasa.
• Mempengaruhi otentisitas & produktivitas hidupnya.

Apa itu Bakat ?
Kita biasa menyebut anak yang bisa melakukan sesuatu dengan sangat bagus secara alami : Anak Berbakat.
Bakat : sifat dan karakteristik unik, positif, dan produktif yang ada dalam diri seorang manusia sejak lahir.
Bakat terekspresi sebagai cara berpikir, merasa, dan berperilaku yang alami serta konsisten.

Kata Ahlinya :
Bakat adalah “Pola pikir, perasaan, dan tindakan yang alami, muncul berulang-ulang, dan dapat digunakan untuk sesuatu yang produktif”, Donald O Clifton (Profesor Psikologi Nebraska – Lincoln, University Founder of Gallup Organization).

Bakat : Sifat Bawaan
Melalui sebuah penelitian panjang selama 23 tahun terhadap 1000 anak-anak di Negara New Zealand didapatkan kesimpulan bahwa : kepribadian seorang anak di usia 3 tahun menunjukkan kesamaan yang sangat jelas dengan ciri-ciri kepribadiannya di usia 26 tahun. Nah loh?

Inilah salah satu alasan saya mengikuti seminar ini, sa. Agar saya menemukan inner child dalam diri saya. Alhamdulillahnya pasca simulasi dalam seminar tersebut saya menemukan solusinya juga untuk segera diesekusi.

5 Tanda Bakat;
1. Yearning. Nagih. Sifat alami yang akan selalu muncul dan butuh penyaluran.
2. Rapid Learning. Cepat memahami dan menguasai sesuatu dengan baik.
3. Flow. Perasaan mengalir saat tercerap/tenggelam dalam suatu aktivitas. Waktu tidak terasa.
4. Satisfaction. Adanya kepuasan saat sedang dan setelah selesai melakukan suatu aktivitas.
5. Glimpses of Excellence. Sejak awal melakukan sesuatu sudah langsung terlihat keunggulannya.

Inilah kenapa penting sekali bagi kita menemukan inner child dalam diri, agar tidak menjadi penghambat dalam mengembangkan potensi diri, dan juga untuk memutuskan pola rantai pengasuhan yang kurang baik yang pernah kita dapati dari orang tua kita dulu, guys. Diri kita adalah lembaran-lembaran perasaan. Beda gerak tubuh, beda pesan yang diberikan.

Menyalahkan, bukanlah sebuah solusi. Sebab Jika kita menyalahkan orang tua, maka orang tua kita akan menyalahkan kakek nenek kita lagi, begitu seterusnya. Lantas kapan ada titik temunya? Namun bagaimana kita yang sudah mengerti pola pengasuhan yang benar, kini berusaha menyembuhkan diri dari trauma inner child negatif agar kita kelak saat menjadi orang tua tidak terbawa oleh pola pengasuhan dari orang tua kita dan menciptakan trauma inner child yang sama pada generasi kita nantinya.

Next, kita masuk ke tema yang kedua yah, “Mengali dan Merumuskan Misi Keluarga”

Berkeluarga itu perlu ilmu, agar kita tahu bagaimana bersinergi menuju surga bersama sekutu abadi kita, kelak. Agar kita paham, mau kita bawa kemana mahligai yang akan kita bangun nantinya. Sebab tentu riak dan gelombang pasti akan menghantui seiring perjalanan. Apakah misi yang akan menang, atau sebaliknya kita terjebak dalam ambisi yang menenggelamkan.

Alhamdulillah sekali saya bisa belajar ilmu ini justru dalam kondisi diri masih sendiri, sehingga saat tiba waktunya menikah nanti bisa berbagi dengan patner hidup akan Konsep Keluarga yang ingin dibentuk dalam membangun peradaban bernama rumah tangga. Sebab menemukan misi ini merupakan proses pencarian yang panjang, mulai dari sebelum berkeluarga hingga sudah berkeluarga.

Hmm, materinya cukup padat, tentu tidak mungkin dikupas tuntas semua disini. Namun izinkan diri ini berbagi poin-poin intinya saja untuk direnungi yah guys.

Mengenali Diri. Ini poin utamanya. Semua berawal dari diri kita sendiri. Sudahkah kita tahu kenapa kita diciptakan, guys? Dan apa misi yang kita bawa dengan keberadaan kita di dunia ini? Pernahkah merenungi hal tersebut?

Apakah kita sekedar lahir saja, lalu tumbuh, kemudian berkembang, selanjutnya tiada? Sesederhana itukah peran kita dalam kehidupan ini? Sekedar singgah, begitu? Tanpa ada tugas or nilai yang kita tinggalkan dimanapun jejak kaki kita tapaki?

“Katakanlah, tiap orang bekerja menurut keadaan dirinya masing-masing” (Qs. Al-Isra’: 84). “Dan setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Muslim)

Ayat dan hadits diatas secara tersirat mengungkapkan bahwa kita dihadirkan ke dunia ini dengan sebuah misi. Kita membawa misi kita masing-masing. Dan saat berkeluarga, kedua misi tersebut bertemu dan menjadi sebuah batu loncatan untuk terbang lebih tinggi dan melejitkan potensi lebih hebat lagi, atau sebaliknya menjadi ledakan yang menghanguskan semua yang ada. Teman perjalanan sangat menentukan bagaimana kita akan melewati dan menikmati perjalanan itu, bukan?

Bagi yang sudah berkeluarga, apakah terasa hambar selama ini? Apa berasa bosan dengan aktivitas sehari-hari? Kenapa hal itu bisa terjadi? Bukankah dulu saat anda memutuskan untuk berkeluarga agar bisa bahagia dan berdaya karena sudah punya teman hidup yang selalu mendampingi? Lantas kenapa seperti hidup dalam beban? Seharusnya senang, bukan? Karena beban itu bisa ditanggung bersama. Ketakutan itu bisa dibagi bersama. Kegalauan itu bisa didiskusikan bersama. Bukankah disitu letak kenikmatan dan keberkahannya? Karena menikah modalnya cukup niat (mau) dan nekad, bukan siap. Sebab ada banyak yang sudah siap, nyatanya belum menikah juga. Punya banyak harta, punya pengetahuan agama yang mumpuni, wawasan parenting yang memadai, namun belum menikah juga, lantas siap itu seperti apa? Karena faktanya masalah tetap akan ada, mau harta banyak, ilmu agama luas, tetap saja akan berhadapan dengan kondisi yang semuanya akan mampu dilewati jika keduanya mau saling belajar bersama.

Merumuskan misi diawali dari menerima dan mampu hidup bersama orang lain;
1. Menyadari adanya orang lain. Menikah itu menyadari akan adanya orang lain yang akan tahu diri kita luar dan dalam, bahkan dalam waktu 24 jam. Tak ada lagi rahasia, guys!

2. Menyadari perbedaan antar pribadi dan mau menyesuaikan diri. Laki-laki dan perempuan memang tercipta berbeda. Mulai dari Pola pikir hingga struktur tubuh. Namun seringnya kita membaca pasangan hidup kita dari kaca mata kita sendiri.

Ada sebuah kasus, sang istri merasa bahwa suaminya sudah tidak sayang lagi padanya. Padahal suaminya sayang banget sama istrinya. Namun rasa sayang itu diwujudkan dengan cara pandangnya sendiri. Dan bahasa itu yang tak dipahami oleh si istri. Misalnya begini, sang suami bukan tipe laki-laki yang romantis, sedangkan sang istri perempuan yang memang butuh kata-kata pengakuan apakah itu kata sayang, pujian or apapun.

Bagi laki-laki, jika seorang perempuan setia, percaya dan patuh padanya itu sudah cukup baginya untuk tahu kalau ia dicintai. Ia tidak butuh kata-kata lagi. Perempuan butuh kata-kata! Tidak cukup dengan tindakan bahwa ia berjuang untuk menyenangkan hati orang yang dicintainya. Itu tidak cukup. Sebab kedua makhluk ini titik kelemahannya berbeda. Laki-laki kelemahannya ada di matanya. Coba saja tatap matanya, laki-laki tidak akan sanggup bertahan lama. Dan seringkali, laki-laki hanya dengan melihat, langsung menyimpulkan tanpa bertanya. Sedangkan perempuan kelemahannya ada di telinga, itu sebabnya mereka butuh kata-kata. Sebab tindakan saja tidak cukup, telinga butuh mendengar kepastian yang terucap langsung dari orang yang dicintainya. Dan seringkali hanya dengan mendengar berita, perempuan sudah menyimpulkan tanpa tabayun terlebih dahulu. Disinilah terkadang miss komunikasi terjadi antar pasangan.

Bagi laki-laki, “aku menikahi mu itu tanda aku mencintai mu”. Dan itu sudah cukup. I love you forever! Cukup sekali, tidak perlu diulang-ulang. Namun bagi perempuan, itu tidak cukup, perempuan perlu pengakuan yang berulang-ulang. Hal ini pun terjadi dalam rumah tangga Rasulullah saw, dimana Aisyah ra, berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, “kata Aisyah, “bagaimana menurutmu apabila engkau singgah di sebuah lembah di mana di sana terdapat rerumputan yang telah dijamah oleh ternak gembala dan rerumputan yang belum dijamah. Di lembah manakah engkau melepas untamu?”

Rasulullah tersenyum lalu menjawab, “Di rerumputan yang belum dijamah.” Pertanyaan Aisyah tersebut di ulang-ulangnya sebanyak 20 kali selama hidup bersama Rasulullah saw di waktu yang berbeda. Aisyah butuh pengakuan bahwa dirinya yang utama. Dan Rasulullah saw menjawabnya juga dengan jawaban yang sama. Rasulullah saw paham, begitulah perempuan. Menyadari perbedaan salah satu kunci keselamatan pelayaran, kawan.

3. Menghargai dan bisa bekerjasama. Laki-laki butuh dihormati dan dihargai, sedangkan perempuan butuh dikasihi dan diperhatikan. Jika keduanya memahami ini maka keduanya bisa saling menghargai dan bekerjasama.
4. Memiliki kelimpahan jiwa untuk berbagi. Sadarilah bahwa engkau tidak lagi hidup sendiri, maka berbagilah dalam segala hal. Bagi laki-laki, jadikan istri tempat diskusi mu yang paling menyenangkan. Dan bagimu perempuan, jadikanlah suami mu tempat curhat mu yang paling dasyat. sehingga ikatan jiwa kalian berdua menjadi lebih kuat.

Merumuskan misi keluarga, menemukan panggilan dari misi kehidupan;
1. Menemukan tempat berperan Produktif. Maka kedua pasangan perlu bicara dan berdiskusi dibagian apa mereka bisa menjadi team kehidupan yang produktif. saling menguakan bukan hanya untuk keluarga intinya saja, namun juga memberi kemaslahatan untuk keluarga besar bahkan masyarakat.
2. Melatih ketulusan dan kesungguhan. Manusiawi jika rasa lelah terkadang menghampiri atau mengrogoti ketulusan dan kesungguhan, namun jika kedua pasangan memperkuat niat menikah karena Allah, maka ketulusan dan kesungguhan akan tetap terjaga hingga bersama menuju surgaNya.
3. Menjiwai hidup sebagai pemberian tugas dari Allah. Menyadari bahwa apapun yang terjadi dalam hidup adalah garis takdir yang harus selalu disyukuri kapan pun dan dimana pun.

Lantas apa hubungannya misi dengan ambisi? Erat sekali kaitannya, guys.

Pertama, temukan jawaban kenapa anda berkeluarga? Sebab ada banyak orang menikah, suami istri justru tinggalnya tidak serumah (LDR) karena mengejar karir. Berkahkah pernikahan tersebut?

Kedua, temukan jawaban apa tujuan dari pernikahan anda? Jika anda sibuk bekerja di luar rumah di daerah A hingga larut malam, dan istri anda juga demikian di daerah B, lalu saat pulang ke rumah sudah sama-sama kelelahan, dan anak kehilangan tempat untuk berbagi cerita. Berkahkah pernikahan itu?

Ketiga, Pernahkah anda berfikir untuk bekerja bersama dengan pasangan dari rumah? Keluar rumah juga bersama-sama, hanya sesekali saja pergi masing-masing untuk urusan yang tidak perlu ditanggani bersama. Inginkah anda memiliki aktivitas seperti itu sehingga bisa menjadi team kehidupan yang saling menguatkan dalam tiap kondisi serta selalu ada saat dibutuhkan?

Deal pernikahan or deal pekerjaan? Seringkali hal ini terjadi dan menjadi pilihan yang harus diambil salah satunya oleh tiap pasangan. Deal pekerjaan sifatnya sementara, just tahunan sesuai kontrak kerja, atau jika PNS selama batas waktu yang ditentukan. Namun deal pernikahan seumur hidup, saksinya semesta, dan tidak ada batas waktunya, sebab pernikahan yang barakah berlanjut hingga ke surga. Namun jika harus memilih seringkali orang memilih deal pekerjaaan dan mengabaikan dealnya pernikahan. Memilih misi atau ambisi, inilah yang harus dijawab dengan jujur kemudian.

Misi keluarga mu apa akan sangat menentukan bagaimana keluarga mu akan berjalan, guys. Apakah keluarga mu sudah on the track? Baca A household which one models do you want?

“Kelahiran itu membawa tugas,

Kematian itu bebas tugas,

Akhirat itu menuai pahala tugas.

Pertanyaanya apa tugasmu di dunia?”

(Ustad Harry Santosa)

Menemukan misi adalah perjalanan panjang. meniti jalan yang mungkin berliku, mengumpulkan petunjuk dan tanda atas tiap peristiwa hidup, mengemis panduan kepadaNya disetiap sujud, berbagi kesadaran untuk terus belajar, sambil menjaga diri tetap dalam koridorNya, agar senantiasa bersungguh-sungguh di jalan ini dengan itikad yang lurus. Bahasa dalam keluarga adalah bahasa CINTA, yakni sama-sama saling berharga dan menghargai, karena dalam Al qur’an sendiri Allah mengawali firmanNya dengan Bismillah…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *