Blog

LOGIKA MANUSIA

Logika manusia. Sa, entah kenapa roda perjalanan ini mengelitik saya untuk merenungi tentang logika-logika manusia. Sebuah logika, yang realitanya jauh dari apa yang manusia asumsikan/prediksikan sebelumnya. Bukan hanya dalam satu lini, namun justru dalam banyak lini. Bukan hanya sekali, kadang berkali-kali. Entah renungan saya yang keliru, atau daya nalar saya yang kelewatan. Namun bagi mu yang berbeda pandangan, mari kita diskusikan secara bijak dengan bahasa yang santun, untuk kita sama-sama belajar dan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi, insya Allah.

PROFESI

Ada banyak profesi di dunia ini, dan saya pikir tidak perlu menyebutkannya satu persatu, karena bukan itu yang menjadi esensi dari pembahasan ini, namun lebih kepada apa yang terjadi didepan mata atau disekeliling kita. Guys, adakah engkau mengenang sahabat-sahabat mu? Sahabat di sekolahan ataupun sahabat di kuliahan. Coba ingat sejenak mereka oleh mu. Apa yang terbayang?

Adakah engkau ingat sahabat mu yang biasa saja dari segi akademisi, tidak begitu menonjol prestasinya, namun sekarang justru menyandang status Dosen? Adakah engkau ingat sahabatmu yang pendiam selama masa sekolah, eh sekarang malah menjadi Anggota Dewan? Adakah engkau ingat sahabat mu yang kuliahnya tidak selesai, namun sekarang ini statusnya PNS? Dan kamu sendiri, apa anggapan orang tentang diri mu dulu? Adakah persepsi mereka menjadi nyata? Atau sebaliknya kamu menjadi sosok yang jauh dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya?

Saya sendiri, dari dulu di gadang-gadang jadi Dosen karena sejak kuliahan sudah menjadi asisten Dosen dan juga Asistan Laboratarium. Namun adakah logika itu sepenuhnya benar? Menjadi PNS memang bukan impian saya, namun menjadi Dosen ya saya menikmati itu. Empat tahun lebih diri ini menjadi akademisi hingga akhirnya berhenti mengajar karena sesuatu yang sifatnya principle. Hati sudah minta pindah, sebab bekerja bukan hanya untuk dunia, namun juga untuk akhirat, kenyaman hati penting bagi saya. Alhasil logika itu terbantahkan saat ini. 😀 Bisa jadi suatu hari akan kembali ke ranah itu lagi Insya Allah, wa’allahu a’lam.

Saya juga pernah diragukan membangun sebuah hubungan kerja, dianggap tidak bisa bernegoisasi dan mengoalkan sebuah project. Namun faktanya, Alhamdulillah bisa membangun kerjasama dengan lembaga nasional selama kurang lebih lima tahunan, dan bahkan sekarang aktivitas saya justru di perusahaan jaringan. Artinya, diri ini diharapkan bisa membangun dan mengembangkan jaringan big and bigger. So, benarkah diri ini tidak bisa membangun hubungan kerja? Manusia bisa berlogika apa saja tentang diri kita based on opini mereka, namun Allah selalu punya rencana yang jauh dari logika-logika tersebut pada akhirnya. Allah knows best, so just focus on Him, right?

KELUARGA

Apa yang terpikirkan oleh mu tentang logika manusia soal keluarga, guys? Banyak yang bilang, menikahlah cepat agar bisa cepat juga punya anaknya. Kalau nikahnya telat nanti susah punya anaknya. Adakah statement itu sering kamu dengar, guys? Namun di lapangan, logika itu juga terbantahkan. Nyatanya ada yang nikah sejak usia 20 tahun, namun hingga kini belum Allah berikan momongan. Namun ada yang nikahnya di usia 37 tahun, eh sudah Allah anugerahi dua buah hati. Lagi-lagi Allah menegur logika kemanusian kita untuk bergantung hanya kepadaNya saja, sebab anak mutlak urusan Allah, bukan soal cepat atau lambatnya menikah. Jika Allah berkehendak apapun bisa terjadi, bukan?

Begitu juga soal pasangan hidup, orang-orang bilang baiknya perempuan nikah dengan laki-laki yang lebih tua bukan yang lebih muda agar bisa dibimbing dan lebih dewasa dalam menyikapi biduk rumah tangga nantinya. Sedangkan laki-laki baiknya nikah dengan perempuan yang lebih muda bukan dengan yang lebih tua agar nahkoda rumah tangga tidak dipimpin oleh istri nantinya.

Hmm, kening saya sedikit berkerut mendengar logika manusia yang ini, guys. Karena didepan mata saya kekhawatiran yang didengungkan itu kurang terbukti kebenarannya. Saya justru melihat dan bertemu langsung dengan seorang kakak yang menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda darinya, justru rumah tangga mereka awet benar, bahkan kedua pasangan tersebut terlihat seusia, tidak kelihatan perbedaan usianya walaupun yang laki-lakinya lebih muda 7 tahun dari kakak tersebut. Sang suami bisa menjadi iman yang baik bagi beliau, dan si kakak juga sangat menghormati suaminya. Begitu juga sebaliknya, ada seorang laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan yang lebih tua darinya, namun tetap saja nahkoda rumah tangga mereka si lelaki yang mengendalikannya walaupun penghasilannya lebih rendah dari istrinya, dan istrinya juga sangat menghormati si suami.

Soal kepempinan dalam keluarga ini sudah sangat jelas tertuang dalam Al Qur’an, dan mereka yang memiliki keimanan yang kuat tentunya menjadikan Alqur’an sebagai rujukan kehidupannya. Jadi tolak ukur keharmonisan rumah tangga itu based on keimanan pasangan serta kesesuaian visi misi dalam membangun sebuah keluarga, bukan pada bedanya usia dari pasangan yang menikah. Jika komunikasi bisa dibangun dengan baik, maka perbedaan usia lebih muda or lebih tua insya Allah tidak akan menjadi persoalan kursial.

Ada juga yang bilang, baiknya punya anak perempuan yang banyak biar nanti ada yang jagaiin saat sudah tua. Namun lagi-lagi logika ini berbeda dengan fakta yang ada, sebab banyak juga keluarga yang memiliki anak perempuannya banyak, justru pada akhirnya anak perempuan tersebut setelah menikah diboyong oleh suaminya sehingga orang tuanya justru tinggal dengan anak laki-laki pada akhirnya. Right or right?

Hidup itu akan terlalu melelahkan jika kita terus mendengar kata-kata orang, apalagi kata-kata dari orang-orang yang memang tidak mengenal diri kita sama sekali. Atau kalau pun kenal tidak menerima dan memahami kita sama sekali. Jadi wajar saja jika jalan pikiran kita kadang tidak nyambung dengan orang-orang tersebut. So santai saja yah guys. Karena biasanya orang yang kurang senang terhadap diri kita itu hanya karena dua hal saja: karena kita menikmati hidup kita, dan karena mereka tidak menikmati hidupnya. Done!

MIMPI

Bicara mimpi, seringnya kita dihadapkan pada dua opini yang berkembang, yang satu mengatakan, “Bermimpilah setinggi langit, jika tidak sampai ke langit ke tujuh at least sampai di langit pertama”, sedangkan yang satunya lagi berucap, “kalau mimpi jangan tinggi-tinggi, nanti kalau jatuh sakit”. Logika mana yang lebih sering kamu dengar, guys?

Tiap kita terlahir dengan keunikan masing-masing, namun lingkungan disekitar kita suka sekali membanding-banding. Hal inilah yang akhirnya menciptakan persepsi yang menjatuhkan seseorang ketika orang tersebut berbeda pandangan dengan orang-orang kebanyakan. Pernah merasakan atau menjumpai kasus seperti ini, guys?

Sebelas tahun yang lalu adalah awal mula saya berani menulis mimpi-mimpi saya. Sebelumnya mimpi itu hanya saya pendam saja dalam diri, tak pernah berani mengungkapnya pada siapa pun, tak berani juga saya tuliskan. Namun pasca mengikuti Training Operacy (Operasi Mindset) bersama pak Christopher Lee, saya tersentak. Itulah sentakan pertama dalam hidup saya untuk berani bermimpi, entah mimpi itu akan terealisasi semuanya atau tidak saya tidak perduli. Yang penting bagi saya berani bermimpi. Toh bermimpi gratis kan yah.

Setahun setelah saya menuliskan lima mimpi tersebut secara general, Alhamdulillah ajaibnya tiga diantaranya terwujud. Bagaimana caranya hal itu bisa terjadi? Saya juga tidak tahu tepatnya guys, yang saya tahu Allah mengiring saya lebih dekat ke mimpi-mimpi tersebut setahap demi setahap sehingga pada akhirnya saya bisa merealisasikannya. Saya hanya percaya saja padaNya bahwa apa yang IA takdirkan untuk saya akan menjadi milik saya. Dan setiap tahunnya mimpi-mimpi itu saya review, yang telah terwujud saya check list, sedangkan yang belum terealisasi saya tulis ulang. Diantara mimpi-mimpi itu, ada satu mimpi yang terus saya tulis ulang hingga kini, karena ianya belum terwujud. Dan saya percaya kepadaNya, hanya IA yang tahu waktu yang paling tepat. Sebab dalam hidup, tak selamanya bisa dihitung secara logika atau pun matematika, terkadang justru terjadi melalui hal-hal yang hanya bisa kita resapi dengan keimanan saja. The last, I would like to say, “Be brave, fight for what you believe in, and make your dream your reality.”

In dreams, we plant the seeds of our future.

Baca Titik Balik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *