Blog

KETIKA ALAM BERBICARA

Ketika alam berbicara. Saya masih ingat 14 tahun silam (26 Desember 2004 – 26 Desember 2018) saat alam menunjukkan sisinya yang berbeda di negeri Serambi Mekkah. Satu hari sebelum peristiwa nash itu, saya dan teman-teman sedang asyik belajar renang di laut, di sebuah kolam tidak jauh dari pabrik Semen Andalas, Lhoknga. Saya merasakan air laut tiba-tiba pasang, sehingga saya memutuskan untuk berhenti dan hanya duduk di batu karang melihat teman lainnya berenang. Entah kenapa perasaan saya waktu itu menjadi tidak enak, saat memandang lautan sensasinya berbeda. Air laut terus pasang, batu karang yang saya duduki mulai tenggelam. Saya ajak teman-teman untuk segera pulang. Sekitar pukul 12 siang hari itu kami beranjak pergi dari tempat tersebut, dan esok paginya Tsunami menguncang Aceh dengan dasyatnya.

Pagi itu, saya sedang sibuk di dapur memasak, sedangkan kedua sahabat saya sedang menonton televisi. Mereka menginap di rumah untuk menemani saya karena kedua orang tua saya sedang berada di Penang, Malaysia. Saat saya hendak menuju ruang tengah untuk memangil sahabat saya sarapan pagi, baru beberapa anak tangga, saya merasakan goncangan yang membuat saya hampir terjatuh, saya buru-buru naik. Goncangan makin kuat. Sahabat saya teriak gempa dan mereka langsung berhamburan keluar, adik saya pun demikian. Saya matikan televisi dan ikut keluar rumah.

Kami semua duduk dijalanan. Saya lihat tetangga juga demikian, kami semua duduk di jalanan depan rumah masing-masing. Saya lihat rumah saya bergoyang dasyat, belum pernah saya melihat gempa sedasyat itu, sangking kencangnya goyangan dan goncangannya pucuk daun pisang disamping rumah bisa menyentuh tanah. baru kemarin rasanya saya mendengar kabar gempa dasyat menguncang Tidore di televisi, dan hari itu kami mengalaminya sendiri. Cukup lama gempa terjadi, suara gemerincing di dalam rumah terdengar oleh kami, seperti botol kaca yang pecah dan benda yang terjatuh. Saya was-was jika tanah tempat kami berpijak ikut terbelah, sambil dalam hati terus berdzikir.

Gempa mereda, saya dan sahabat serta adik saya masuk ke dalam rumah. Saya melihat kipas angin sudah tercabut kabelnya dari stock kontaknya dan terjatuh ke lantai. Begitu pun televisi kabelnya sudah tercabut dan berpindah tempat dari posisinya semula. Saya turun ke dapur, saya lihat pecahan kaca botol sirup berhamburan di lantai, begitu juga kulkas yang posisinya sudah bergeser. Kami berberes, sahabat saya berberes ruang tengah, dan saya berberes di dapur. Saat saya sedang menyapu dan mengumpulkan serpihan botol kaca. Saat itulah bibi saya datang dan mengatakan, “na bungkus bajunya, kita mengungsi.” Hah? Saya terpana, ngapain mengungsi bi? Bibi saya hanya mengatakan cepat bungkus bajunya dan ambil apa yang penting saja, terus saya di minta datang ke tempat sepupu saya karena air laut naik katanya. Bibi meninggalkan saya dalam keadaan bengong.

Saya bingung, air laut naik? Lautnya kan jauh, saya meneruskan berberes pecahan kaca. Saat bibi datang lagi melihat saya masih saja di dapur, bibi mencubit saya sambil marah-marah. “keras kali kepala, dibilang bungkus baju kita mengungsi masih aja kerja. Itu orang semua pada pergi, air laut sudah mau sampai ke sungai Lambaro.” Dalam keadaan bingung saya naik ke atas menyampaikan ke sahabat saya untuk siap-siap mengungsi. Kami pergi ke rumah sepupu saya yang jaraknya beberapa rumah dari tempat saya karena hanya beda lorong. Saat itu saya bisa melihat simpang desa saya crowded dengan lalu lalang kendaraan. Huff, semua menuju ke arah Medan, apa sebenarnya yang terjadi, jalanan desa kami yang jarang dilewati kendaraan umum pun menjadi ramai sekali. Hampir satu jam kami duduk di depan rumah sepupu saya dalam keadaan bingung hingga akhirnya bibi saya mengatakan, “kita tidak jadi mengungsi, air lautnya sudah surut, jadi boleh balik ke rumah lagi.”

Kami kembali ke rumah, saat itulah saya sadar ada banyak panggilan tak terjawab yang belum saya konfirmasi dari seorang sahabat, saya tidak bisa call back ianya karena setelah gempa sinyal menghilang seketika, listrik pun padam. Malam itu rumah saya terbuka, tetangga ikut menginap di rumah, kami semua berkumpul di ruang depan dan tengah. Pintu depan sengaja tak dikunci, lalu lalang kendaraan di depan rumah pun tak henti-henti bahkan hingga jelang pagi hari.

Kedua Sahabat saya masih belum bisa menghubungi keluarganya, pastinya keluarga mereka sangat khawatir karena tempat kost kedua sahabat saya termasuk daerah terparah terjangan Tsunami. Bahkan presiden PEMA (Pemerintahan Mahasiswa) Unsyiah waktu itu mengira kedua presidiumnya ini sudah tiada, baru lega ketika dapat kabar mereka menginap di rumah saya. Begitulah cara Allah menyelamatkan, ketika waktu belum tiba, ada saja jalan keselamatan.

Hari kedua Tsunami, bibi (adik mamak saya) mengajak saya ke kota untuk mengecek rumah bibi saya yang lain (kakak mamak saya) dikawasan Asrama tentara, Kuta Alam. Sampai di Lambaro saja suasananya terasa mencekam, jalanan sepi penuh terpaan debu yang menusuk. Bismillah, saya melajukan motor lebih kencang, sesampainya di Simpang Surabaya mulai terlihat mayat bergelimpangan di jalan dengan tubuh penuh lumpur, bahkan ada yang tak berbusana. Kami langsung ke Asrama tentara, rumah bibi (kakak mamak saya) kosong, terlihat air memang memasuki rumah tersebut selutut dari dinding rumahnya, namun sudah surut. Kami memutuskan ke Masjid Kuta Alamnya, berharap bibi dan paman ada disana. Alhamdulillah dugaan kami benar. Bibi dan paman selamat.

Namun paman dan bibi memutuskan untuk tetap disana (masjid), agar bisa melihat rumah sambil membersihkan lumpur, tidak mau pulang ke kampung. Lalu saya mengajak bibi saya untuk keliling sebentar sebelum balik pulang ke rumah . Saya ingin tahu kondisi kost sahabat saya yang menelpon saya di pagi hari sebelum tsunami menerjang.

Mulai dari Jambo Tape hingga Simpang Mesra, penuh dengan pepohonan yang tumbang, sampah rerentuhan bangunan dan mayat-mayat yang bergelimpangan. Bau kurang sedap menyergap hidung, rasanya seperti tidak memakai masker walaupun udah saya lapisi tetap saja tercium. Motor tidak bisa lewat, karena jalanan dipenuhi sampah berlumpur. Akhirnya saya tinggalin motor di Masjid dekat Polda, memutuskan jalan kaki hingga ke Jeulingke. Jalan masuk ke perumnas Lingke masih belum bisa ditembus, masih ada air tergenang sepinggang. Hati saya bergemuruh, bagaimana nasib sahabat saya ya Allah. Bagaimana keadaannya saat menelpon saya tadi pagi.

Baca Memories of Ulele Beach

Hari ke empat, sekitar pukul empat pagi. Alhamdulillah kedua orang tua saya sampai di rumah setelah menginap semalam di Bandara Polonia, Medan. Tidak ada jadwal penerbangan karena kondisi sibuk dengan pengiriman bantuan dan evakuasi korban, akhirnya bisa pulang ke Aceh menggunakan pesawat tentara. Ibu sudah tidak betah di Penang, pikirannya mau pulang terus karena kami tidak bisa terhubung untuk saling memberi kabar satu sama lainnya setelah tsunami menerjang.

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari yang penuh pilu. Saya mendapat kabar sahabat saya yang menelpon saya pagi hari itu salah satu korban yang jasadnya dan keluarganya tak ditemukan. Ada sedih yang sulit saya lukiskan, sebab saya belum sempat meminta maaf padanya karena saya iseng menggodanya di hari ultahnya waktu itu, niat hati saat lebaran mau cerita keisengan tersebut, namun justru Allah memanggilanya sebelum lebaran tiba. Saya kapok mengerjain teman setelah itu, takut nyesal. Kabar yang juga sangat mengejukan saya adalah pembimbing utama skipsi saya juga meninggal dunia. Malamnya beliau pulang dari Medan, paginya Tsunami menerjang. Padahal sebelum beliau pergi ke Medan beliau sudah mengatakan kalau sepulangnya nanti saya sudah bisa seminar proposal penelitian. Namun nyatanya beliau pulang selama-lamanya tanpa sempat mendampingi saya menyelesaikan study. Ah perjalananan panjang study saya yang penuh hikmah mungkin dilain kesempatan saya ceritakan.

Ketika alam berbicara, menunjukkan sisinya yang berbeda, adalah tanda bagi kita manusia, betapa kita sudah melewati batas-batas yang ada. Inilah yang membuat alam murka dan berang ingin meluluhlantakkan semua yang ada. Seakan-akan ia berkata, “apa sich yang kurang yang telah Allah berikan untuk kalian? Kenapa kalian masih menjadi hamba yang kurang bersyukur dan tak tahu terima kasih? Kenapa terus saja menabung dosa bukannya bertaubat?” Mungkin begitulah amarah semesta.

Aceh (Sumatera) adalah awal dari Tsunami di Indonesia setelah sekian lamanya, dan setelah itu wilayah Sulawesi (Palu) yang mendapat teguran semesta, dan baru beberapa hari yang lalu, tepatnya 22 Desember 2018, giliran pulau Jawa yang mendapat teguran Allah melalui Tsunami di selat sunda yang membuat Banten dan Lampung berduka.

Ustad Arifin Ilham mengatakan dalam taujihnya, ada 7 sebab mengapa bencana datang bertubi-tubi:

Pertama, Banyak pelaku maksiat. Hal ini sangat jelas tercantum dalam Qs. Yasin: 19.

Kedua, Banyaknya orang yang berbuat dzalim. Tertuang dalam Qs. Al Qasas: 59.

Ketiga, Karena Kelakukan tangan-tangan manusia. Dijelaskan dalam Qs. Ar Rum: 41)

Keempat, Karena para tokoh melakukan kejahatan dan kedzaliman (Qs. Al Isra: 16)

Kelima, Karena Orang-orang sholeh diam melihat kemaksiatan dan kedzaliman (QS. Al Anfal: 25)

Keenam, Karena Rahmat Allah sebagai peringatan (Qs. Al Baqarah: 155, 156, 157).

Ketujuh, Karena kuasa Allah (Qs. Hud: 15-16)

Ya Rabb, ampuni kami, ampuni kekhilafan kami. Terimalah mereka yang telah kembali kepangkuan Mu, berilah tempat terbaik untuk mereka disisi-Mu. Dan jagalah kami ya Rabb selalu di jalan Mu hingga waktu kami kembali. Kepada siapakah lagi kami memohon perlindungan dan pertolongan selain kepada Mu. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *