Blog

JIKA IA SEBUAH CINTA

Jika ia sebuah Cinta. Ia akan melampaui logika. Ia akan menghadapi tiap rintangan yang terbentang. Ia akan merobohkan semua tembok-tembok penghalang. Ia akan melawan segala prasangka dan ketakutan, apalagi keterbatasan, betapa pun besarnya. Baca bukan cinta biasa!

Hi Angkasa, bisakah engkau terangkan padaku tentang cinta semesta? Tiap kali ku memandang mu, kurasakan cinta tanpa batas dan tanpa syarat terserap. Seakan-akan Allah menciptakan dirimu memang untuk menghadirkan keteduhan bagi siapa saja yang menginginkannya. Aku yakin siapapun yang memandang mu bisa merasakan hal itu, kecuali mereka memang tak pernah punya waktu untuk menatap mu sejenak saja. Memandang mu menghadirkan kepasrahan, seperti kepasrahan mu tak kala siang dan malam datang menyapa. Engkau biarkan warna mu terang saat siang, dan engkau relakan gelap menghantui kala malam. Dan karena kepasrahan itu, Allah menghadirkan bintang untuk memberi cahayanya untuk mu. Kau tahu, sa? Bintang terlihat mempesona saat bersinergi dengan mu.

Indeed! Angkasa, memandang mu baik siang maupun malam rasanya sama, indahnya pun sama, dan cinta yang Allah hadirkan pun sama. Ajari aku mencintai setulus itu, sa. Tak perduli cinta itu akan membawa ku kemana. Cinta yang selalu ingin memberi apapun yang bisa diberi. Cinta yang selalu mengharap ridha Ilahi Rabbi. Cinta yang tertuju hanya karenaNya hingga kembali kepangkuanNya. Cinta yang menghadirkan kebaikan demi kebaikan. Cinta yang menumbuhkan kepercayaan. Cinta yang membangunkan potensi-potensi terbaik untuk siap melejit dan terbang tinggi.

 

Jika ia sebuah cinta, ia tidak mendengar, namun senantiasa bergetar. Ia tidak buta, namun senantiasa melihat dan merasa. Ia tidak menyiksa, namun senantiasa menguji. Ia tidak memaksa, namun senantiasa berusaha. Ia tidak cantik, namun senantiasa menarik. Ia tidak datang dengan kata-kata, namun senantiasa menghampiri dengan hati. Ia tidak terucap dengan kata, namun senantiasa hadir dengan sinar mata. Ia tidak hanya berjanji, namun senantiasa mencoba memenangi. Ia mungkin tidak suci, namun senantiasa tulus. Ia tidak hadir karena permintaan, namun hadir karena ketentuan. Ia tidak hadir dengan kekayaan dan kebendaan, namun hadir karena pengorbanan dan kesetiaan.

 

Cinta kadang bisa hilang dan kita butuh cita-cita untuk bertahan, sambil menunggu cinta kita mekar. Cita-cita kadang layu, dan kita butuh cinta untuk menyiram dan membuatnya kembali segar. Persis seperti Rumus Fisika punya-nya Albert Einstein. E = m.c2

Energy = Mahabbah (love) x Cita-cita(goal).  Artinya energi berbanding lurus dengan cinta dan cita-cita yang dikuadratkan. Keduanya mesti berjalan beriringan, keduanya saling melengkapi dan mengisi. Jika salah satunya hilang, energi yang didapat hanya setengah dari kekuatan, namun ketika keduanya bertemu dan menyatu, kekuatan bisa datang berkali-kali lipat dan insya Allah banyak hal hebat yang bisa terwujudkan secara cepat.

Cinta dan cita-cita bukanlah sesuatu yang harus dipilih salah satunya. Justru ketika keduanya terpisah, perjuangan menjadi kurang terarah. Ketika cinta patah, ia butuh cita-cita untuk bertahan agar tak kehilangan arah. Saat cita-cita gagal, ia butuh cinta untuk bangkit dari rasa down yang membuatnya lemah. Sebaliknya saat keduanya menyatu, perjuangan seperti menemukan muaranya untuk bangkit  dan  terus melejit. Begitulah cara Allah menjaga tiap langkah dalam kesinergian. Perpaduan keduanya menjadi senjata ampuh untuk melewati badai apapun yang menghadang.

Jika ia cinta, ia tidak akan membenturkan, sebaliknya ia akan mencari jalan untuk bisa menyatukan, mencari peluang untuk bisa terus beriringan, dan memupuk kekuatan untuk berani menjadi sekutu abadi hingga ke negeri keabadian (JannahNya).

 

Beragama itu bukan hanya sekedar bisa shalat, ngaji dan puasa. Namun juga tentang bagaimana menjadikan Allah sebagai cinta pertama, menjadikan Rasulullah sebagai panutan mulia, dan menjadikan Al Qur’an sebagai rujukan kehidupan.

 

“Ketika berbicara dengannya lebih nikmat dibanding berbicara denganNya, maka ketahuilah kita tidak sedang jatuh cinta.” (Rezha Rendy dalam bukunya Pesan CintaNya)

bisa jadi, kita terlalu sering berbicara tentangNya, namun sedikit sekali berbicara denganNya. True or true? Jujurlah! Hadirkan-lah IA dalam tiap aktivitas dan bicaralah padaNya kapan saja dan dimana saja. Agar cinta itu kian merekah dan engkau pun menemukan cinta dari makhlukNya, atau ditemukan oleh ia yang mencintai mu karenaNya.

Jika ia sebuah cinta karenaNya, Allah akan menunjukkan jalan dan mengiring keduanya untuk bisa bersanding karenaNya. Maka kepada siapakah lagi engkau gantungkan harap mu selain kepadaNya?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *