Blog

IDEALISME

Idealisme. Sa, aku tertekun oleh waktu. Perubahan zaman telah mengerus banyak hal. Terkadang aku hanya mampu menghela nafas panjang. Apa sebenarnya yang membuat idealisme sekarang ini menjadi barang langka? Atau diriku yang terlalu naif menilai zaman?

Aku sedih sa, ketika melihat pemandangan didepan mata yang bertolak belakang dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Demi uang ratusan ribu, gula 1 kg, sehelai jilbab, sebotol minyak makan, etc, mereka gadaikan aturan ya Rahman. Aku hanya bisa bicara sepatah dua patah kata sa, lalu terdiam. Paling tidak aku sudah mencoba, kau tahu itu kan?

Aku bisa mengerti sa, betapa urusan perut ini sangatlah pelik sekali, namun aku teringat Rasulullah saw sa, junjungan kita itu pernah berada dalam kondisi kelaparan. Bahkan disaat beliau memimpin shalat berjama’ah tulang sendinya berbunyi karena menahan lapar.

Selesai shalat para sahabat saling pandang, lalu Umar ra bertanya kepada Rasulullah,

“Apakah engkau sakit ya Rasulullah?”

“Tidak,” kata Rasulullah.

Dan berkali-kali para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw untuk memastikan kondisinya. Hingga akhirnya Rasulullah saw terdesak dan melepaskan balutan kain di perutnya yang berisi batu-batu kecil. “Apa yang engkau lakukan dengan batu ini ya Rasulullah?” Tanya Umar lagi. “Aku lapar, dan aku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan” jawab Rasulullah saw.

Dengan suara bergetar karena sedih Umar ra berkata, “wahai Rasulullah sehina itukah engkau memandang kami? Jika engkau berkata lapar, pasti kami akan memberi makanan yang lezat untuk mu. Wahai Rasulullah, kami ini sahabat mu hidup dalam kemakmuran.”

“Tidak Umar”, Jawab Rasulullah, “justru karena aku tahu bahwa kalian bukan hanya akan memberi makanan yang lezat untuk ku, namun juga nyawa kalian karena kecintaan kalian kepadaku. Namun bagaimana nanti aku menghadap Allah SWT dan menyembunyikan malu ku, jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi orang yang aku pimpin.” Lanjut Rasulullah saw.

Mendengar jawaban nabi tersebut, Umar dan para sahabat terdiam. Dan sekarang, di zaman kita ini, atas dasar miskin, kelaparan, kita menerima suap dan menjual suara? Beginikah cara kita memilih pemimpin, guys? Beginikah ajaran dari Rasulullah saw kepada kita?

 

Ribuan tahun silam, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita tentang keteladanan, namun kini, kita yang mengaku umatnya justru berpaling dari ajaran beliau. Inikah yang namanya cinta? Atas dasar apa kita memilih caleg hari ini? Karena hubungan family? Karena money? Karena ikut kata suami/istri? Karena suka-suka aja? Karena visi misi? Karena sudah istiqharah? Atau karena engkau melihat bahwa ia memang layak mendapat suara mu?

 

Hanya hati mu yang tahu jawabnya, guys. Politik dan cinta memang berkaitan. Baca 17 April. Ah idealisme. Berapa banyak orang yang masih menjadikan mu teman dekat? Hampir dalam setiap lini kehidupan kini engkau menguap, dari dunia politik hingga dunia cinta nilai mu mulai memudar.

Aku tak tahu kenapa. Dalam cinta pun, kita tahu apa yang pantas dan tidak pantas, kita paham mana yang sesuai dengan syariat dan mana yang tidak, namun yang terjadi kemudian kita justru menuruti hati tanpa berpegang pada kalam ilahi. Mungkin iman kita yang mulai menipis dan kempis. Wa’allahu alam.

Idealisme, mengapa engkau pergi? Apakah bumi ini sudah terlalu tua untuk memegang erat prinsip-prinsip ketauhidan dan nilai-nilai keislaman? Atau cara pandang ku yang terlalu kaku dalam membaca keadaan? Oh ya rahman, jagalah diri ini selalu di jalan kebaikan hingga waktu berpulang tiba. Hamba percaya keajaiban dan kemahabesaran Mu ya Rabb. Bimbinglah diri ini selalu dijalan Mu. Terima kasih ya Rabb, atas tiap teguran ketika diri ini khilaf dan lepas kendali.

Aku juga teringat novelnya Tere Liye, pertualangan Ali, Raib dan Sely, membuat mereka terdampar di sebuah pulau asing. Mereka sangat kelaparan, Ali yang tak sanggup lagi menahan rasa lapar saat itu, melihat sebuah perahu yang tertambat dekat lautan, lalu memutuskan mencari bahan yang bisa dimakan disana. Ia menemukan bekal makanan terbungkus di perahu tersebut. membukanya dan hendak memakannya. Ketika tiba-tiba Raib datang menyambar bekal makanan tersebut, membungkusnya lagi. Lalu meletakkan kembali di tempatnya.

“Aku lapar,” Raib. kata Ali. “Kelaparan bukan berarti kita boleh mencuri, Ali!” Ucap Raib. Sikap Raib tersebut membuat mereka lulus ujian kejujuran, dan bisa melanjutkan pertualangan ke tahap selanjutnya.

 

Idealime-lah yang membuat mereka bertiga bisa melewati ujian demi ujian ditahap berikutnya; ujian keperdulian, ujian kesabaran, ujian kecerdasan, ujian ketulusan, ujian ketangguhan, dan ujian melepaskan.

 

Novel memang hanyalah sebuah karya fiksi, namun bagi pengiat literasi, fiksi tetap saja ilmiah. Nilai-nilai yang ingin ditanamkan dan dikedepankan nyata adanya, yang berbeda hanya setingan tempat sesuai daya nalar masing-masing. Toh dari Novel banyak yang bisa mengambil ibrah dan berubah menjadi lebih baik. Alhamdulillah…

Ya Rabb, hamba mohon bimbing dan bantulah kami dalam melewati tiap ujian kehidupan, ingatkan diri kami pada nilai-nilai yang telah Engkau ajarkan melalui kekasihmu, Muhammad saw. Semoga kelak, surga Mu menjadi tempat reuni terindah untuk kami semua. Aamiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *