Blog

DUA SISI

Dua sisi. Kedua belah mata ku sudah redup sebenarnya, namun kedua tangan ku masih ingin menari_nari. Hati ku pun berbisik, “selesaikan satu note malam ini, Mina. Masak sich tak ada postingan di February?”

Luar biasa negoisasi-negoisasi yang tercipta dalam diri kita, bukan? Itu baru tentang apa yang ingin kita lakukan sendiri. Namun lintasan-lintasan pikiran saling menyahuti. Bagaimana halnya Jika apa yang ingin kita lakukan secara tidak langsung bersingungan dengan orang-orang disekeliling kita?

Hidup itu memang sering dua sisi. Jarang banget ia berjalan sendiri. Bahkan saat kita diciptakan dan terlahir ke dunia ini. Kita memegang tanggung jawab besar, yakni menyanggupi posisi sebagai khalifah di muka bumi.

Ini artinya apa? Bahwa sejatinya dalam kehidupan ini mau tidak mau kita kudu memikirkan tentang orang lain juga, terlebih mereka yang dekat dalam keseharian kita.

Contoh sederhananya soal baju. Saya suka banget pakai baju warna hitam, putih, maroon, ungu, coklat dan abu-abu. Baju-baju polos itu saya modifikasikan dengan berbagai warna jilbab sesuai kondisi. So warna baju saya ya itu-itu saja. Tampil sederhana itu nikmat rasanya. Nah pada suatu hari saya berbelanja dengan ibu, saya memilih sebuah model baju. Warna yang saya pilih lagi-lagi hitam. Sebab dalam banyak kegiatan warna itulah yang sering saya kenakan. Namun ibu saya berkomentar, “warnanya hitam melulu, pilihlah warna lain yang belum ada.”

Disatu sisi, saya memang sreg banget dengan warna hitam itu, namun disisi lain saya juga mesti mempertimbangkan keinginan ibu saya. Akhirnya saya memilih baju pilihan ibu. Ini untuk menyenangkan hati beliau. Namun dilain kesempatan saat kejadian yang sama kembali berulang, saya tetap memilih baju pilihan saya sendiri. Ini saya lakukan agar ibu saya juga bisa belajar untuk memberi anaknya privasi bahwa tidak selamanya anak harus mengikuti maunya orang tua. Sebab sisi-sisi hidup harus seimbang. Tidak boleh yang satu terlalu mendominasi yang satunya.

Begitu pun halnya dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan persahabatan, pernikahan, perkerjaan. Apapun bentuk hubungan itu. Jika balance antara satu dengan sisi yang lainnya. InsyaAllah hubungan itu biasanya lebih lama bertahannya. Bahkan abadi hingga ke surga. Baca two seas, the symbol

Dua sisi adalah simbol sinergi. Seperti langit dan bumi yang saling melengkapi. Laut dan pantai yang saling menjaga. Bulan dan Matahari yang saling berbagi. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?

Jika semesta bisa begitu harmoni dengan kedua sisinya. Tentu sebagai insan, manusia justru lebih mampu menciptakan melodi-melodi indah dari berbagai sisi yang ada.

Tentu saja sisi-sisi tersebut tetap menjunjung tinggi norma, memegang teguh prinsip. Dan menjadikan Allah sebagai acuan utama dalam tiap gebrakannya.

Dua sisi. Dua hati. Dua warna. Satu visi. Satu misi. Satu cinta. Bersama melebur, menebar manfaat sejagat raya. #BerkahLahirBatin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *