Blog

DIKALA SEMESTA MEMANGGIL

Dikala semesta memanggil. Guys, percayakah kamu bahwa kita terhubung antara satu dengan yang lainnya dalam dunia quantum? Sebuah dunia yang tak terlihat namun memancar energi yang saling mengikat.

Pernahkah ada masa saat engkau ingin bertemu dengan seseorang, kemudian orang tersebut Allah hadirkan dihadapan mu dengan caraNya? Pernahkah engkau mengharapkan sebuah benda, kemudian ada yang memberikannya padamu?

Pernahkah engkau ingin pergi ke suatu tempat, lalu ada orang yang mengajakmu kesana. Bahkan saat engkau ingin impianmu segera terwujud, tiba-tiba jalan menuju mimpimu itu terasa kian dekat dan jalannya terbuka lebar?

Pernahkah semua itu engkau rasakan, guys? Saya pernah, bahkan sering banget. Dulu saya pikir itu hanya sebuah kebetulan belaka. Ternyata tidak, ada tangan Allah yang bekerja atasnya melalui makhluk-makhlukNya bernama energi di dunia quantum.

Ini persis seperti saat kita ingin menuju ke sebuah tempat dengan sebuah labi-labi (nama salah satu transportasi umum di kota Banda Aceh), kita berjalan dari rumah menuju ke persimpangan, dan pas di persimpangan tersebut sebuah labi-labi pun baru saja berhenti. Harapan kita sebagai penumpang akan adanya transportasi untuk bisa berpergian bertemu dengan harapan si supir labi-labi yang mengharapkan adanya penumpang. Dititik itulah kedua harapan bertemu, yang pertemuan tersebut terjadi melalui aliran energi di dunia quantum terlebih dulu.

Begitu juga pertemuan dua jiwa. Almarhum Ustad Jefri Bukhari pernah berucap, “Jika Allah menginginkan dua hati untuk bertemu, maka ia akan mengerakkan keduanya, bukan salah satunya” sebab mahligai hidup baru hanya akan tercipta disaat kedua jiwa telah menyatu di alam quantum, barulah aqad bisa terucap dan mengetarkan semesta. Baca juga The Symbol of Couple

Begitulah juga saya memaknai panggilan semesta dalam diri ini sejak bulan Maret lalu, guys. Entah kenapa air mata terjatuh dengan sendirinya tiap kali mendengar lantunan ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan saat tilawah sendiripun butiran-butiran bening itu tak terbendung mengalir. Ada malu menyelusupi diri, karena hafalan Qur’an yang tak kunjung bertambah. Malah yang sudah dihafal justru terlupakan.

Dalam sujud panjang, terbersit dalam hati ingin menjadi penghafal Al Qur’an. Eh ga tahunya beberapa hari berselang ada info di group madrasah tentang MTN (Mukhayam Tahfidz Nasional). Ga tahu kenapa tanpa pikir panjang hati langsung tergerak untuk mendaftarkan diri, padahal biayanya lumayan besar. Bismillah saja, walau sadar diri mungkin akan menjadi peserta yang paling awam, karena biasanya yang ikut MTN begini pastilah mereka yang sudah punya sedikit bekal hafalan Qur’an. Biarlah, niat hati paling tidak hafalan yang pernah ada bisa kembali jika pun tidak bertambah.

Faktanya, metode hafalan yang digunakan cukup baru bagi saya, Alhamdulillah bisa menyesuaikan diri walaupun secara pribadi targetnya kurang tercapai, namun banyak hal-hal baru yang saya dapatkan dari MTN ini. Yakni berupa keluarga baru yang datangnya dari berbagai tempat. Mandi bersama di pemandian besar. Wah ini awalnya risih banget. Saya bukan anak pondok yang terbiasa beginian, dulu waktu kost pun mandinya privasi, punya kamar mandi tersendiri. Namun saya belajar kebersamaan disini. Menariknya lagi makanannya boleh order sesuai selera asalkan tidak melebihi budget, panitianya menerima request menu dari para peserta. Jarang banget ada karantina bisa beginian. Hehehe…

Saat masa karantina hampir berakhir. Sebuah informasi daurah kembali terbaca oleh saya. Sebelum masuk karantina MTN saya sudah tahu informasi tersebut dan memang berniat ikut, namun waktu pendaftaran early birdnya tidak terkejar untuk transfer. Saat itu saya berkata dalam hati. Jika Allah ridha saya ikut Daurah tersebut, insyaAllah akan ada jalan. Alhasil tiga hari sebelum karantina MTN berakhir info terbaru saya dapati. Masa early bird Daurah Tajwid International (DTI) diperpanjang. Alhamdulillah sebuah tanda dari Allah bahwa ini pun akhirnya menjadi rezeki saya untuk lebih dekat dengan Alqur’an.

Semesta memanggil, sungguh siapakah yang menghubungkan kita dengan orang-orang yang sevisi dan sehati, serta dengan benda-benda yang kita ingini, plus tempat-tempat yang ingin kita datangi selain Allah SWT?

Saya jadi teringat novelnya Paulo Coelho, “The Alchemist”. Ada quote terkenal dari novel tersebut, “if you really want something and you work hard for it, the universe will conspire to achieve your dream.”

Jika non muslim saja menyakini akan hal tersebut, apalagi kita sebagai seorang muslim. Semesta ini milik Allah, mudah bagi Allah memerintahnya untuk memenuhi apa yang kita mau. Syarat utamanya, BELIEVE! Read FAITH

Sepanjang saya mengikuti Daurah Tajwid Iternational (DTI), ada haru yang luar biasa melihat peserta dengan beragam usia, yang paling muda kelas empat SD, dan yang paling tua usianya mencapai 70 tahun lebih, namun semangat belajarnya masyaAllah. Saya beruntung Allah satukan dalam keluarga besar DTI.

MasyaAllah-nya lagi guru kami, Syaikh Sayyid Harun. Beliau orangnya disiplin, humble, dan role model banget (memberi keteladanan). Mengsetting sendiri suasana ruang belajar agar beliau mudah memaparkan materi dan kami juga mudah menerima materinya. Kedisiplinan beliau terkesan strict pada awalnya, namun justru dari sanalah kami termotivasi untuk lebih serius belajar dan membangun kedisiplinan diri. Kami menikmati hari-hari belajar bersama beliau walaupun ada yang tak mengerti bahasa Arab sama sekali, namun sanggup bertahan dari pagi hingga sore hari selama 10 hari.

Dalam tiap sesi ada canda dan senyum yang membuat suasana belajar menjadi lebih rileks plus keteladanan yang jarang saya dapati pada sosok guru yang lainnya. Salah satunya adalah, beliau langsung sujud ketika membaca ayat-ayat sajadah. Dedikasinya cukup tinggi. Wajah beliau terlihat lelah sebenarnya, sebab selain mengajar pagi hingga sore, malamnya beliau juga menjadi Iman Tawawih di sebuah masjid, namun demikian beliau totalitas dalam mengajar. Melihat wajah yang lelah itu tulus mengajar plus kadang tersenyum, hati siapa yang tidak tersentuh untuk serius belajar, guys?

Mata saya berkaca-kaca dihari wisuda mendengar tausyiah singkat dari beliau. Syaikh mengatakan tiap musim haji hanya dua jama’ah dari dua negara yang sering beliau perhatikan, yakni jama’ah Indonesia dan jama’ah Turkey. Beliau terkesan karena kebersamaannya. Kemana-mana selalu bersama-sama. Pertahankan kebersamaan, karena itulah kita menjadi kuat.

Pertama kalinya beliau ke Indonesia, beliau langsung ke Aceh. Dan selama di Aceh beliau senang sekali melihat kebersamaan dan kekompakan tiap tempat yang beliau datangi. Dalam sebuah kepanitiaan or acara apapun jarang ada yang menonjolkan diri, semua dilakukan atas dasar kesepakatan bersama. Hal ini mengingatkan beliau akan Sirah Nabawiyah, dimana saat Rasulullah Saw berselisih ide dengan para sahabat beliau sering mengalah padahal beliau seorang qudwah.

Beliau menangis saat melihat peserta daurah ada yang usianya lanjut. Dan ketika ditanya kenapa mau ikut Daurah dan tidak pernah absen sehari pun walaupun tidak mengerti bahasa Arab. Dan peserta tersebut menjawab, “agar menjadi saksi dan bukti bahwa ianya pernah belajar Alquran saat ditanya di Yaumil akhir kelak.” Beliau terharu sekali, sebab ditempat lain tidak beliau dapati semangat begini. Yang muda bersemangat itu biasa, namun sudah tua masih semangat belajar itu luar biasa.

Syaikh berpesan, menghafal Al-Qur’an itu baru permulaan, selanjutnya belajarlah Qiraat dan tafsir agar semakin cinta dengan Al Qur’an. Jangan hanya pandai menghafal dan meniru irama bacaan saja, namun pahami juga bagaimana cara suara tersebut keluar dan apakah sudah tepat pada tempatnya.

Saya bersyukur bisa belajar langsung sama Syaikh Sayyid Harun yang merupakan pemegang sanad qira’at ke 28 dari Rasulullah Saw. Dan proses belajar Al Qur’an ini juga memberi ilmu yang lainnya pada saya pribadi. Seakan-akan Allah hadirkan saya dalam beberapa event Al Qur’an ini selain belajar Qur’an juga untuk mempertemukan saya dengan beberapa sosok yang dari mereka saya dapati ilmu dasyat tentang keluarga.

Saat di MTN, saya bertemu dengan seorang ibu yang entah gimana caranya topik bahasan bisa ke perihal jodoh dan akhirnya beliau berbagi rahasia keharmonisan rumah tangga pada saya. Sebuah rahasia yang tak pernah saya dengar dari siapapun sebelumnya, plus membuka cakrawala saya tentang hakikat pernikahan itu apa. Dan ketika di DTI saya bertemu dengan beberapa orang ibu yang memberikan saya beberapa doa, diantaranya doa ketenangan batin dan doa jodoh plus arahan gimana mendidik anak sejak dari kandungan.

Saya merenung, apakah ini kebetulan? Tidak! Ini bukan sebuah kebetulan. Dikala semesta memanggil! Allah yang melangkah kaki saya ke acara-acara ini, terutama DTI. Awalnya saya pikir mungkin saya tidak bisa ikut lagi, namun kalau Allah sudah berkehendak everything is easy. Saya bukan hanya sekedar bisa belajar untuk bisa dekat dengan Al Qur’an, namun Alhamdulillah juga bisa belajar ilmu baru tentang berkeluarga.

Apakah ini pertanda sudah waktunya hamba mengendapkan Dien, ya Rabb? Hamba percaya ya Allah, jodohku tidak akan menjadi jodoh orang lain. Tidak akan tertukar! Engkau maha kuasa atas segalanya. Dengan siapapun jodohku ta’aruf saat ini. Jika ia memang takdirku, maka ia akan kembali padaku, namun jika ia bukan untuk ku, bagaimana pun hamba mempertahankan, ia akan pergi juga. Hamba tahu ya Rabb, engkau tak pernah kehabisan cara mendekatkan mereka yang berjodoh dan sebaliknya menjauhkan mereka yang tak berjodoh. Baca DESTINY

Menikah bukan hanya penyatuan dua jasad untuk berada dibawah satu atap, namun juga penyatuan dua hati untuk bisa saling bersinergi menuju surgaNya. PadaMu hamba berserah dan pasrah ya Rabb. Yang terbaik akan datang insyaAllah. Ia yang akan mendapatkan ku hanya ia yang mau berjuang. Sebab padanya akan kuserahkan hidupku, dan kukerahkan segenap potensi ku untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpinya tumbuh nyata dan berkembang. Dijalan cinta para pejuang, insyaAllah kan ku rengkuh Ridha mu ya Rabb.

2 Respon

  1. El- dudukpalingdepan berkomentar:

    MasyaAllah, tabarakallah mba (: hidayah hanya Allah berikan untuk orang-orang pilihan. Sangat menginspirasi tulisan ini. Semoga saya pun diberikan hidayah untuk belajr Al Quran lebih dalam.

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Aamiin ya Rabb, jazakaillah khair mba El sering datang berkunjung. 🙂
      Menjadi motivasi tersendiri nih didatangi senior 😀

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *