Blog

BUKAN KATA-KATA BIASA!

Bukan kata-kata biasa!
Kau tahu angkasa? Note ini dulu sengaja ku tulis untuk kedua sahabat ku yang hendak mengarungi bahtera rumah tangga. Alhamdulillah diri ini menjadi penghubung keduanya. Selamat memasuki 8 tahun usia pernikahan, sob. Semoga tetap sakinah mawaddah warrahmah dalam rajutan hari-hari. Dan semoga keberkahan senantiasa menghampiri dalam setiap lini. Aamiin…

Ku review tulisan ini agar kebermanfaatannya bisa tersebar ke berbagai pelosok negeri. Siapa tahu bisa menjadi solusi bagi mereka yang butuh penguatan dalam mengambil keputusan menempuh mahligai hidup baru.

Oh ya sa, aku masih ingat jawaban dari teman ku yang laki-laki saat dulu ku tanyakan keseriusannya kepada teman ku yang perempuan yang merupakan istrinya sekarang. Katanya, “Aku mencintai DIA, bukan USIAnya” 😁

So sweet banget kan, sa? Pantas saja saat kata-kata itu ku sampaikan pada teman ku yang perempuan wajahnya bersemu malu, memerah, plus lidah seperti kelu. Hahaha…suka banget lihat orang lagi berbunga-bunga. Dari wajahnya saja aku sudah tahu jawabannya, bersedia. 😀


Terima kasih sobat telah memberi ku kesempatan membangun rumah di surga, walau pun di dunia belum tahu akan menetap dimana.

Well, semua karena cinta. Begitulah kata Anis Mata dalam bukunya “Serial Cinta”.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan. Sebab pekerjaan cinta adalah siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh. Makanya setiap diri hendaklah berhati-hati saat ia menyatakan,
“Aku mencintaimu”, kepada siapa pun!

Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. Mencintai adalah keberanian untuk memberi. Memberi itu berarti memperhatikan dalam semua situasi untuk mengetahui apa yang orang kita cintai butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia.

Mencintai berarti berani memfasilitasi agar orang yang dicintai bisa tumbuh semaksimal mungkin, merawat segenap rasa sayangmu semaksimal mungkin.

Berani mengatakan dengan segenap cinta. Taruhannya adalah kepercayaan terhadap intergritas kepribadian kita. Sekali mengatakannya, maka ucapan itu harus dibuktikan.

Seharusnya, itu adalah “deklarasi jiwa”, bukan saja harapan bahwa kita akan mengeluarkan sejuta potensi kita untuk sebuah gebrakan dimasa depan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi.
Kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta : memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang. Lenyap.
Tidak ada cinta tanpa kepercayaan.

Jalan hidup yang mendaki or menurun tidak menjadi hambatan pekerjaan-pekerjaan cinta. Tapi disitulah tantangannya.
Membuktikan ketulusan ditengah situasi-situasi sulit. Disitu konsistensi teruji. Disitu juga integritas terbukti. Sebab berarti yang mampu membuktikan cinta ditengah situasi yang sulit, jauh lebih mampu membuktikannya dalam situasi yang longgar.

Siapa pun yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagianya. Puas sepuas-puasnya, sampai tidak ada tempat bagi yang lain.
Bahkan setelah “sang pencinta” mati.
Begitulah para sahabat, Rasulullah (Sang Pencinta Sejati) telah memenuhi seluruh jiwa sahabat dengan cinta. Maka mereka memutuskan untuk mengenangnya, mereka mendoakannya hingga merekapun mati karenanya. Karena setelah Rasulullah Saw mengatakan cintanya, langkah selanjutnya adalah bukti.

Seandainya aku mati syahid, maka aku dapat mensyahidkan 73 orang karib kerabat. Mudah-mudahan aku mati syahid. Dan mudah-mudahan anda pembaca salah satu orang dari 73 orang itu. Agar dapat kubuktikan, bahwa rasa cintaku bukan sebatas dunia, dan bukan sebatas kata-kata!

Hidup adalah sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada resikonya.

Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat. Bertemu dengan orang yang terasa cocok. Itulah kesempatan.

Ketika kita bertemu dengan seseorang. Yang membuatmu tertarik. Itu bukan pilihan, itu kesempatan.

Bertemu dalam sebuah peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, bahkan dengan segala kekurangannya. Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang, walaupun apapun yang terjadi. Itu adalah pilihan.

Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain. Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya dari orang yang kita cintai. Namun tetap memilih untuk mencintainya.
Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpati, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita. Namun cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.

Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada satu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat (aku lupa film apa, sa). Namun kutipan ini ku dapat saat Training Operacy bersama Mr. Christoper Lee, “Nasib membawa kita bersama, namun tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil”.

Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untuk mu. Namun tetap berpulang pada mu. Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkanya atau tidak.

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita. Namun mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita. Adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada didunia bukan untuk mencari orang yang “sempurna” untuk dicintai. Namun untuk belajar mencintai orang yang tidak “sempurna” dengan cara yang sempurna.

Setiap kita berhak untuk memilih dan dipilih. Setiap kita juga berhak untuk mencintai dan dicintai.

Indah seperti nyanyian nasyid berikut ini;

Aku ingin hidup secerah mentari.
Yang menyinar ditaman hatiku
Aku ingin seriang kicauan burung
Yang terdengar dijendela kehidupan.
Aku ingin segala-galanya damai.
Penuh mesra berbuah ceria
Aku ingin menghapus duka dan lara
Melerai rindu di dalam dada!
Sedamai pantai yang memutih
Sebersih titisan embun nan pagi
Dan ukhwah kini pasti berputih
Menghiasi taman kasih yang harmoni
Seharum kasturi, seindah pelangi
Segalanya bermula di hati
Segala bermula disini (dijalanNya).
***

Tuhanku…
Jadikan “aku” seorang hamba yang cukup kuat. Untuk mengetahui manakala “aku” lemah. Dan cukup berani untuk menghadapi diriku manakala..”aku” takut.

“Hamba” yang bangga dan tegar dalam kekalahan yang jujur. Dan rendah hati serta berbudi dalam kemenangan!

Karunialah “aku”, jadikanlah “aku” hamba yang mengenal Engkau. Dan sadar bahwa mengenal diri sendiri adalah landasan pengetahuan.

Bimbinglah “aku” bukan dijalan yang mudah dan mulus. Melainkan dibawah tekanan, kesulitan & tantangan.

Buatlah “aku” belajar bersimpati kepada mereka yang gagal.
Jadikanlah “aku” seorang yang hatinya bening. Yang cita-citanya tinggi, 

Seorang hamba yang sanggup memimpin diri sendiri. Sebelum “aku” mencoba memimpin orang lain.
Seorang yang akan mengapai masa depan. Tanpa melupakan masa lalu.

 

Ya Allah,

Berilah sesuatu yang kami dambakan dalam hidup ini,

kelurusan aqidah kami,

Petunjuk akan kekhusyukan dalam beribadah kepada-Mu,

Kebaikan akhlak kami,

Kekuatan jalani jabaran serta kesabaran raih kesuksesan,

Kemampuan untuk mengelola tiap urusan,

Keluasan wawasan dalam menapaki jalan panjang,

Kemampuan untuk berdikari dan memperoleh rezeki-Mu,

Kepiawaian untuk bermanfaat bagi orang lain sepanjang hayat kami,

Kesehatan fisik dan jiwa yang dapat tundukkan nafsu kami,

Kabulkan wahai ya Rahman ya Rahim.

 

 

Dan setelah ku gapai segalanya.
“aku” berdoa, berilah “aku” rasa riang
Sehingga “aku” bisa selalu bersikap serius. Namun tidak membuat diriku terlalu serius.
Hingga “aku” suatu saat
Akan sanggup mengatakan
“Hidupku tak sia-sia!”

Ya Allah, berilah kami cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu. Aamiin…

Sa, aku merinding membaca doa diatas. Karena ternyata panjangnya perjalanan hidup ku dan berlikunya jalan yang ku lalui merupakan jawaban dari doa ku dulu. Baru ku sadari sa, semuanya tiada lain pinta ku sendiri. Aku yang meminta dibimbing tidak dijalan yang mudah dan mulus. Aku yang memohon hidup penuh dengan tantangan. Dan Allah mengabulkannya dengan caraNya.

InsyaAllah aku pasti mampu kan, sa? Kau yang melihat sepak terjang ku selama ini dari atas sana. Kata-kata, punya effect yang luar biasa ternyata. Tak salah ku membaca buku, “Ajari aku mencintai kata”. Dan kata-kata juga yang meluluhkan hati teman ku untuk akhirnya mau menempuh hidup baru. Bukan kata-kata biasa!

Sa, makasih selalu memantau ku dari atas sana. Terima kasih selalu menjadi teman setia ku bercerita. Doain yah hari-hari ku kedepannya lebih baik dari saat ini. Ingatkan aku untuk terus meluruskan niat dan meluaskannya.

I know, kamu mau bilang aku romantis, kan? Hahaha…Dan karena itulah, Allah memperjalankan langkah ku di hamparan bumiNya ini dengan caraNya yang romantis pula. 😊

Menikah bukan balapan. Bukan juga soal menang kalah siapa duluan, atau siapa belakangan. Ada yang mapan dulu baru menikah. Ada juga yang berjuang dari awal bersama. Keduanya tidak bisa disalahkan atau dianggap benar salah satunya. Sebab masing-masing orang punya cara yang berbeda-beda dalam perjalanan menjemput belahan jiwa. Baca Love and Bus

Wahai jiwa yang rindu mengarungi samudera, bersabarlah! Orang yang tepat dan waktu yang tepat, datangnya insyaAllah selalu on time. Yang terbaik tidak selalu datang cepat, namun pasti diwaktu yang tepat.

6 Respon

  1. andika vebrina berkomentar:

    good idea

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Jazakilah khair for visiting my home, veb.
      Ide dari yang sudah berpengalaman tentunya lebih banyak 😀
      Diriku kan masih ada bawang yang baru bisa menghimpun teori demi teori, hihihi. 🙂

      Balas
  2. OJi Faoji berkomentar:

    wah sangat memberikan informasi dalam bentuk puisi atau cerita nih. mantap semangat berkarya ka

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Jazakallah khair mas Oji sudah datang berkunjung.
      Saya masih belajar nih, belum sekaliber mas oji dan yang lainnya.

      InsyaAllah step by step, cukuplah kematian menjadi pelecut diri untuk terus berkarya, apalagi yang bisa ditinggalkan ketika maut menghampiri jika bukan karya salah satunya…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *