Blog

BERDAMAI DENGAN WAKTU

Berdamai dengan waktu. Terkapar, terkulai, terlelap, mungkin kondisi begini yang kerap kali terasa saat malam datang setelah seharian sibuk bekerja di siang hari. Apalagi jika aktivitas mu super padat, bernafas saja terkadang ga sempat, benar? Hiperbola banget sich kalimatnya. 😅

Pernahkah kamu merasakan kondisi begitu, guys?
Every day? Every week? Every month or every year, maybe?

Waktu seakan terus berpacu.
Tak perduli kamu suka atau tidak.
Ia terus berlari.
Tidak open kamu siap atau pun tidak.
Ia terus berputar, mau kamu kesal karena agenda yang terabaikan. Mau kamu marah karena planning yang tertunda.
Mau kamu benci karena realisasinya tak seperti yang kamu harapkan.
Apapun itu waktu terus saja melaju.
Dan kamu hanya bisa mengerutu. Begitu selalu. Berulang terus hingga pergantian waktu tahun demi tahun.

Padahal dalam diri mu selalu berazzam, “bahwa hari esok harus lebih baik dari hari kemarin.” Namun faktanya kalimat itu seperti sulit untuk direalisasi.

Mau aktivitas mu di dalam rumah maupun di luar rumah. Sama saja. Semuanya seakan tak ada habis-habisnya.
Pernahkah kamu merasa demikian?
Kenapa yah?
Kok bisa begitu sich?
Solusinya gimana donk?

Terkadang kamu mencari jawabannya jauh entah dimana. Namun jawaban dari tiap pertanyaan mu itu seringnya ada dalam diri mu sendiri.

Guys…
Keberkahan waktu dimulai dari ketenangan jiwa.
Dan ketenangan jiwa didapati dari keikhlasan mu dalam menerima tiap kondisi diri. Baca mental dan bantal

Ingatkah kamu sabda Rasulullah saw tentang waktu?
Ingatlah lima hal sebelum datang lima hal;

Pertama, waktu sehat mu sebelum datang waktu sakit mu.

Allah tahu, betapa mahkluknya sering mengabaikan peringatanNya.
Karena itu kadang Ia uji kamu dengan sakit. Agar kamu ingat nikmat sehat, sekaligus bisa belajar bagaimana menyikapi sakit tersebut dengan positif thinking. Apakah yang sakit itu dirimu sendiri atau pun anggota keluarga mu. Namun nyatanya saat kamu sakit, atau anggota keluarga mu yang sakit justru kamu sering mengeluh, betul?
Waktu terlewat sia-sialah.
Kerjaan terbengkalailah.
Harus begini dan begitulah.
Ga sempat ini dan itulah.
Semua rencana berantakan.
Seribu keluhan keluar tanpa henti. Yang kesemuanya menunjukan bahwa kamu tidak terima dengan kondisi tersebut.
Kamu ga mau berdamai dengan diri mu sendiri dan mengkaji hikmah apa dibalik ujian tersebut.
Seringnya begitu, kan?

Kedua, waktu luang mu sebelum datang waktu sibuk mu.

Allah mengerti. Jika makhluknya yang satu ini (manusia) mesti digiring dalam dua kondisi (luang dan sibuk) agar makhlukNya ini bisa belajar mengsiasati waktu dengan lebih baik dan memanage hidup menjadi lebih teratur.

Namun faktanya, saat kamu lagi free time. Seringnya kamu habisin waktu itu untuk tiduran sepanjang hari. Kadang nonton tak henti-henti. Hang out dengan teman-teman mu tanpa arah dan tujuan.
Kamu hanya tahu gimana caranya bisa fun. Sebab bagi mu itu satu-satunya cara untuk mengusir rasa stress yang menyelimuti otak mu karena tak punya pekerjaan, omzet menurun, atasan marah-marah, orders telat sampai, etc. Jadi dengan bersenang-senang kamu berharap bisa melupakan kegalauan mu. Dan kesenangan yang kamu pilih acapkali kesenangan semu. Yang terasa sesaat lalu menghilang tanpa bekas. Right?
Jujur sajalah!

Dan saat waktu sibuk mu datang. Kamu berteriak lelah, capek, bosan. Kamu mengeluh kapan semua kerjaan mu itu kelar. Tangan mu bergerak, namun mulut mu pun tak berhenti bergerak mengutuk waktu.

Namun anehnya saat kondisi kembali berbalik. Saat waktu luang kembali menghampiri.
Lagi-lagi kamu lewati dengan cara yang sama tanpa sedikit pun berfikir gimana mengisi waktu luang mu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat.
Sebab bagi mu libur ya libur dan kerja adalah kerja. Entah dari mana muncul statment begitu.
Ya dari mindset kamu sendirilah.
Kan hidup mu terbentuk dari mindset mu sendiri.
Benahi mindset mu. Damai hati mu. Berkah waktu mu.

Ketiga, waktu kaya mu sebelum datang waktu miskin mu.

Roda kehidupan itu berputar guys. Berapa lama putarannya dan kapan, hanya Allah yang tahu.
Mungkin itu sebabnya Allah sering bersumpah demi waktu.
Agar kamu ingat. Bahwa ketika berada dipuncak kejayaan ingatlah diri untuk terus bersyukur. Sebab akan ada masanya kamu juga bisa tersungkur.

Dan ketika berada dibawah titik nadir, ingatkan diri untuk terus bersabar, sebab akan ada saatnya kesabaran mu berbuah manis.

Namun manusia hanyalah manusia. Penyakit alpa sering mendera. Mengeluh pun seakan menjadi habbit yang membudaya.
Teori ini dan itu dipelajari namun seringnya menguap entah kemana.
Saat kaya seringnya justru foya-foya. Saat miskin malah mengutuk dunia tak adil katanya. Oh manusia…

Keempat, waktu muda mu sebelum datang masa tua mu.

Aku masih muda katamu.
Biarlah ku nikmati masa muda ini.
Saat sudah tua nanti, baru deh lebih serius menjalani hari.
Begitulah slogan kebanyakan kamu disaat usia masih berasa muda. Seakan-akan waktu dalam genggaman mu. Bisa kamu perintahkan sesuka mu. Padahal justru waktu yang mengendalikan mu tanpa kamu menyadarinya.

Saat kamu bosan akan sesuatu, kamu begitu mudah beralih mencari hal-hal lain yang bisa bikin kamu happy. Kamu menghindari komitmen dan tanggung jawab. Sebab kedua hal itu bagi mu hanya milik mereka yang usianya tua. Anak muda seperti mu hanya ingin menikmati hidup tanpa beban. Namun saat usia mu beranjak dewasa, baru kamu sadar bahwa waktu yang kamu punya untuk belajar tinggal sebentar, sedangkan beban dipundak mu semakin besar dan butuh komitmen yang juga cukup besar. Kamu mulai stress. Kamu ingin menarik waktu muda mu kembali agar bisa belajar hal-hal yang dulu kamu abai. Namun waktu tak mengasihani mu sama sekali. Lembaran yang telah berlalu, tak bisa kamu buka lagi. Yesterday will always be yesterday.
Ia tak bisa kamu tarik mundur. Tangisan mu tak akan membuatnya kembali. That’s the reality. Are you aware about that? Think it!

Kelima, Waktu hidup mu sebelum datang waktu mati mu.

Guys, jika keempat waktu yang lainnya bisa berulang, maka yang ini tak mungkin berulang.
Sakit dan sehat bisa datang silih berganti. Kaya dan miskin pun demikian. Begitu juga halnya dengan waktu sibuk dan luang mu, serta waktu muda dan tua mu. Walaupun saat kamu tua, kamu tak bisa kembali muda, namun sifat kanak-kanak mu bisa kembali di usia tua. Namun hidup dan mati tak bisa saling berganti. Saat kamu masih hidup, itulah kesempatan terbaik mu untuk mengukir jejak-jejak prestasi. Saat kamu tiada maka tak ada lagi cerita kehidupan yang bisa kamu isi dengan penuh gairah. Everything the end.

Inilah waktu yang tak lagi perduli kamu mau berdamai dengannya atau tidak. Sebab saat usia mu sudah dipenghujung dan waktu mu kembali telah tiba. Sikap damai yang kamu tunjukkan tak lagi memiliki cukup arti untuk menabung amal sebagai bekal bertemu denganNya. Time is over!

Berdamai dengan waktu, hanya mungkin kamu lakukan pada keempat waktu sebelumnya, guys.
Berdamailah apapun kondisi mu saat ini. Kamu sedih or happy, saat kamu berdamai dengan diri mu sendiri. Kamu telah belajar hal baru untuk survive.

Allah knows best. He knows you better than other. Only Allah knows how to make you be a great guy. Whatever happens in your life, accept it and thank it . You will feel so different after that. Believe it!

3 Respon

  1. Dudukpalingdepan berkomentar:

    Such a reminder for me. Bagus bgt mba, menginspirasi. Betapa saya sering lalai oleh waktu sibuk mikirin harta dan anak huhu.

    Balas
    • Nur Azmina berkomentar:

      Saling mengingatkan dalam kebaikan mba. Note pengingat untuk diri saya sendiri. Alhamdulillah jika menginspirasi mba el juga 😊

      Balas
  2. Fabiola Standrod berkomentar:

    I like this web site very much so much great info .

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *