Blog

BERCOCOK TANAM DENGAN IMAN

Bercocok Tanam dengan Iman. Hi Angkasa! Izinkan diri ini berbagi cerita sejenak. Ah kamu pasti sudah tahu pekan lalu aku kemana, kan? Tak apalah, kan dirimu just melihat dari kejauhan saja, bisa jadi tidak mendengar diskusi seru kami, hihihi.

Sa, awalnya ku pikir perjalanan trip ku kali ini bakal membawa angan ku melayang ke negeri Timur Tengah, soalnya tempat yang aku dan teman-teman datangi itu “Perkebunan Kurma”. Kebun kurma kan identik dengan negeri Arab kan yah. Tentunya ceritanya seputar Arabia-lah, eh ternyata aku keliru sa, pak Mahdi, owner kebun kurma tersebut justru mengajak angan kami menelusuri sejarah Islam di benua biru, Eropa.

 

Barbate, ku pikir itu memang nama lembah ditempat tersebut, sa. Ternyata nama Barbate adalah nama yang pak Mahdi dan petani kurma sematkan untuk perkebunan kurmanya. Dan tahukah kamu sa, asal dari nama Barbate tersebut? Barbate adalah sebuah lembah di dataran Eropa. Tepatnya terletak di propinsi Cadiz, Spanyol. Merupakan tempat yang sarat akan sejarah Islam. Di lembah Barbate inilah pernah terjadi pertempuran terhebat setelah perang Yarmuk. Dimana Pasukan Thariq bin Ziyad yang hanya 12.000 orang berhasil mengalahkan pasukan Roderick yang berjumlah 100.000 orang. Sebuah pertarungan dasyat yang memberi kemenangan bagi kaum muslimin, sehingga kita mengenal Thariq bin Ziyad sebagai penakluk Andalusia.

Kata-kata penyemangat Thariq yang cukup terkenal kala itu ku yakin semua kita ingat. Thariq memerintahkan untuk membakar semua kapal, lalu berpidato didepan anak buahnya, “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut dibelakang kalian, dan musuh didepan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.”

Aku memaknai ungkapan Thariq tersebut wujud dari totalitas perjuangan, sa. Hidup mulia atau mati syahid. Hanya itu pilihannya. Jika ingin hidup maka pastikan menang, jika tidak, pastikan mati sebagai syuhada. Alhamdulillah strategi Thariq ini membakar spirit pasukannya sehingga mampu menaklukkan bumi Andalusia.

Apa yang dilakukan Thariq setelah kemenangannya? Mereka menghidupkan tanah yang mati. Allah berfirman dalam Al Qur’an di surat Yasin (36:33-34) yang berbunyi;

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari biji-bijian itu mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan kami pancarkan padanya beberapa mata air.”

Aku terdiam saat ayat itu dibacakan sa, mataku berkaca. Sekiranya diri ini tidak sedang berdiskusi dengan laki-laki, butiran kaca dimata ku pasti sudah meleleh. Aku tersentuh dengan mereka yang melakukan sesuatu acuannya Al Qur’an, sa. Sungguh! Al Qur’an itu benar-benar pedoman hidup. “Zalikal- kitabu la raiba fihi hudal lil-muttaqin.” (Kitab Al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.) Surat Al Baqarah ini sering banget kita baca, namun adakah kita meresapi maknanya dalam hidup keseharian?

Maka Thariq dan kaum muslimin menanam kurma dan anggur di lembah Barbate, spanyol sebagaimana petunjuk yang Allah berikan dalam Al Qur’an. Lembah Barbate dikelilingi oleh gunung dan laut, didepan kebun kurmanya ada sungai. Maka lihatlah lembah Barbate Perkebunan kurma Aceh ini, sa. Persis di sulap seperti lembah Barbate di Cádiz, Spanyol. Ada danau di depan kebun kurmanya, dan dibalik perbukitannya terhampar lautan luas. Sudah dua kali ku lewati lembah ini sa, dan aku baru tersadar kalau geografi lembah ini benar-benar mirip lembah Barbate di Spanyol. Sungguh! Luar biasa tafakur alam pak Mahdi dan pak Syukri sehingga punya ide besar yang dasyat begini. Kebun kurma ini bukan hanya berpotensi menjadi Agrowisata, sekaligus menjadi pengingat sejarah Islam di Spanyol yang berjaya selama 800 tahun lamanya.

Aku mengambil gambar ini dari atas bukit sa, pas didepan mushala/masjid Barbate. Engkau bisa lihat kan sa ada danau disana. Ada juga vila kecil tempat kami duduk berdiskusi. Adzan ashar berkumandang saat kami masih asyik bertanya, maka pak Mahdi pun bergegas menuju mushala/masjid yang letaknya diatas bukit ini, kami pun menyusul memenuhi panggilanNya. Mushalanya kecil, namun bersih dan rapi, dari dalamnya bisa memandang perkebunan kurma seluas mata memandang, menariknya lagi, dinding Mushala nya dihiasi dengan ayat-ayat Al Qur’an tentang kurma.

Kamu tahu sa, ada rasa yang sulit ku lukisan dengan kata-kata. Berjumpa dengan banyak pengusaha itu biasa, namun bertemu dengan pengusaha yang usahanya acuannya Alqur’an itu luar biasa sa. Rasa-rasanya Allah kembali menegur ku, sudah sedekat apa hubungan ku dengan surat-surat cintaNya itu. Disaat banyak orang kehilangan ide, Al Qur’an justru memberikan banyak ide, namun kitanya saja kurang peka sebab masih menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup hanya sebatas di mulut.

Kenapa memilih kurma pak, kenapa tidak tanaman yang lain?” Tanyaku.

Pertama, karena sejarah Islam di Spanyol tersebut yang nama tempatnya juga diberi dengan nama yang sama.

Kedua, Dalam Alquran Allah menyebut kata kurma itu lebih 20 kali. Nama-nama yang disebut dalam Al Qur’an tentunya istimewa, bukan? Misalnya saja kita menghadiri sebuah acara, sering kali ada kata sambutan yang terhormat bapak ini, ibu ini, hanya sedikit nama yang disebut, yang lainnya hanya disapa dengan hadirin/hadirat (umum), maka ini pun demikian kata pak Mahdi. Jika nama yang disebut saat sambutan itu istimewa, maka nama-nama yang disebut langsung dalam Al Qur’an pun istimewa.

Ketiga, kurma merupakan makanan pokok. Buktinya kurma juga mengeluarkan zakat.

Keempat, Kurma pohon yang berkah, usianya bisa lebih 100 tahun, anggur usianya bisa 56 tahun, bahkan zaitun bisa mencapai usia 1000 tahun. Maka jika kita mendapati kurma, anggur atau zaitun dari spanyol, itu hasil dari penanaman puluhan atau ratusan tahun yang lalu, yang hasilnya masih bisa dinikmati hingga hari ini. Pohon-pohon yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah pohon yang berkah, usianya panjang, sehingga kita tidak perlu bolak balik bercocok tanam. Cukup sekali tanam, tinggal perawatan dan kita bisa fokus mengerjakan hal lainnya, tidak melakukan hal yang sama berulang-ulang. Namun lihatlah apa yang kita lakukan sekarang? Adakah kita selalu disibukkan dengan bercocok tanam? Think about that!

Kelima, hasil panennya bisa untuk persediaan jangka panjang dengan waktu yang cukup lama. Sangat cocok untuk bekal perjalanan jauh. Jika beras perlu dimasak lagi, setelah dimasak hanya bisa tahan sehari. Namun kurma tidak perlu perlakuan apapun, cukup praktis untuk dibawa kemana saja, dan kandungan gizinya juga kompleks.

Hmm, semakin lama diskusi kami semakin menarik, dan seiring itu pun kami mendapat tantangan dan PR dari pak Mahdi. Ini artinya ini bukan pertemuan pertama dan terakhir, akan ada pertemuan lanjutan insya Allah untuk sebuah misi kebaikan. Tidak semua mampu ku tuangkan disini sa, karena terlalu panjang. At least perjalanan ini bisa membuka cakrawala kami, bercocok tanam base on Al Qur’an itu amazing.

Namun sebelum ku akhiri ada yang cukup membuatku tergelitik, sa. Runtuhnya peradaban Islam di Eropa selama 800 tahun disebabkan oleh tiga faktor utama, yakni: food, fun, and fashion. Bicara food dengan terang Allah menjelaskan dalam QS. Abasa (80:23-32). Coba deh buka terjemahan Qur’annya, lalu renungkan.

Allah mengatakan bahwa manusia belum melaksanakan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Apa perintah itu? “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” Apa makna “memperhatikan” disini? Tentu saja, halal haramnya, sehat tidaknya, proses researchnya, proses penanamannya, etc. Lalu diayat selanjutnya Allah katakan, “Kami yang melimpahkan air hujan dan kami “belah” bumi dengan sebaik-baiknya.” Apa makna membelah bumi disini? Allah telah menciptakan berjuta-juta mikroba untuk menyuburkan bumi. Namun apa yang kita lakukan? Justru saat bercocok tanam kita berikan pupuk kimia yang malah membunuh jutaan mikroba yang telah Allah ciptakan. Lantas kita mengeluh kenapa lahannya kurang subur, kenapa hasil panen tidak balik modal. Ya gimana mau balik modal, beli pupuk mahal-mahal yang justru membunuh mikroba penyubur lahan. Think about that!

Bercocok tanam dengan iman. Sungguh beruntung mereka yang tiap melakukan sesuatu mengunakan imannya, sa. Aku kembali teringat kata-katanya Jendral Sudirman, “segala sesuatu bisa diselesaikan dengan iman”. Semoga aku, kamu, dia dan mereka bisa senantiasa memperbaharui iman untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak perlu menjadi sempurna, karena tiap kita istimewa, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cukuplah punya semangat untuk terus belajar dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab dengan belajar kita akan selalu ingat, diatas langit ada langit. Baca juga cerita lainnya disini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *