Blog

BELAJAR DARI PUSSY

Belajar dari Pussy. Saya tidak ingat kapan tepatnya kami bertemu, yang jelas saat itu ia masih kecil dan pussy kucing yang sangat menggemaskan. Jika ditanya ini kucing milik siapa, tidak jelas asal usulnya saat itu. Namun ia terlahir di gudang samping rumah saya. Kembar tiga. Diantara yang lain ia yang paling manja, dan tak segan-segan mendekati saya.

Tiap saya buka pintu rumah ataupun pintu garasi ia menyapa dengan suara lembutnya. Warna bulunya yang kuning campur putih begitu manis penampakannya. Apalagi ukuran tubuhnya masih kecil saat itu, serasa punya teman bermain. Dari pertemuan kami yang sederhana itu ikatan terjalin hingga kini sehingga saya memberinya sebuah nama, Pussy.

Setelah itu ia pun familiar dengan nama tersebut, saat saya memanggilnya ia langsung berlari, atau saat saya berlagak galak marah jika ia melakukan sesuatu yang kurang saya sukai ia langsung diam seakan mengerti jika saya sedang gambek. Terkadang saya geli dan senyum-senyum sendiri melihat tingkahnya.

Pernah suatu hari, ia berbaring ditengah jalan di depan rumah saya. Sebuah mobil hendak melintas membunyikan klakson agar ia beranjak pergi dari jalanan tersebut, namun tetap saja ia berbaring disana tanpa rasa takut tergilas. Lagi-lagi sang supir membunyikan klaksonnya, saya yang sedang menyapu didalam rumah jadinya keluar rumah karena mendengar suara klakson yang bertubi-tubi. Saat saya keluar, mobil itu sudah mau jalan, mungkin sudah tidak sabar karena dari tadi terhenti untuk melaju. Melihat si Pussy didepan ban mobil spontan saya teriak memanggil namanya. Langsung saja si Pussy berlari menghampiri saya. Dan sang supir tersenyum sambil bertanya, “ini kuncing kamu ya? Bukan pak, ga tahu kucing siapa, namun sering main di rumah saya.

 

Begitu mobil itu berlalu, saya menceramahi si Pussy. “Berapa kali dibilangin jangan main dijalan, kalau ketabrak gimana, bandel banget sich kamu.” Si Pussy malah duduk saja mangut, hahaha. Mungkin orang lain kalau lihat saya dikiranya saya orang gila, ini orang bicara dengan siapa sich, hihihi. Namun yang penting di Pussy ngerti. Terserah orang mau bilang apa. Toh semua makhluk Allah bisa bicara pada dasarnya, dengan bahasa mereka masing-masing tentunya. Hanya dengan hati kita bisa memahami, walaupun cara kita berkomunikasi berbeda. Agree or agree?

 

Hadirnya Pussy dalam hidup saya memberi nilai tersendiri. Bahkan tetangga pun sudah memanggilnya dengan sebutan Pussy, hehehe. Ini kucing sering main di rumah saya dan bibi saya, namun nginapnya sering di rumah tetangga, numpang tidur malam saja disana, sepanjang hari sering ia lewati di rumah saya dan rumah bibi saya. Sesekali aja ia nginap di rumah, jika dirasa banyak terlihat bayangan tikus berkeliaran.

Jangan dikira Pussy masuk ke rumah saya hanya karena materi berupa makanan, guys. Bahkan terkadang ia datang hanya sekedar ingin bermanja-manja saja, dikasih makan malah ga disentuhnya. Itu yang kadang bikin ibu saya kesel. Dikasih makan malah ga dimakan, justru makanannya di makan oleh kucing lainnya. Ia justru menjilat kaki ibu saya dan bikin beliau tambah kesel karena geli, hihihi.

Pussy dekat dengan semua anggota keluarga saya, memang awal-awalnya hanya saya dan adik bungsu saya yang sering bercanda dengannya, namun lama-lama ayah, ibu dan adik saya yang satu lagi ikut memperhatikannya. Sampai-sampai ayah pernah cerita, “ayah pulang dari tadi buka pintu bagasi, si pussy ga masuk ke rumah, namun begitu kamu pulang, dengar suara motor kamu saja ia sudah lari ke pintu bagasi, dan begitu pintu terbuka ia langsung nyelonong masuk.” Saya cuma bisa senyum aja lihat si Pussy melangkah dengan gontainya.

Well, pelajaran apa yang bisa diambil dari si Pussy, guys? Awal-awal si Pussy masuk ke rumah saya itu lewat jendela ruang tengah, ia masuk lewat gudang, lalu meloncat ke jendela ruang tengah rumah saya, terus lompat ke rumah. Akhirnya jendela ruang tengah tidak pernah dibuka lagi. Selalu ditutup rapat. Jangan tanya gimana panasnya. Namun itu satu-satunya jalan agar si Pussy tidak terlalu sering masuk ke rumah. Apakah Pussy menyerah?

Tidak, guys! Ia menemukan cara lain untuk bisa masuk ke rumah saya. Ia masuk lewat atas atap kamar adik bungsu saya, ada celah disana. Akhirnya celah itu pun ditutup, apakah Pussy menyerah? Oh, tidak guys! Ia mencari jalan masuk yang lain lagi. Ia masuk lewat jendela kamar orang tua saya, akhirnya jendela kamar orang tua saya pun sering ditutup. Namun ia tetap bisa masuk ke rumah, kami bingung lewat mana lagi ia masuknya. Rupanya ia masuk lewat lantai dua, entah gimana ia naik ke atap rumah, terus masuk ke kamar adik saya yang kedua, turun tangga ke ruang tamu, lalu masuk ke ruang tengah, lanjut ke dapur. Akhirnya pintu kamar adik saya sering ditutup juga jika ia lagi ga di rumah.

Namun bukan Pussy namanya jika menyerah, guys. Ia menemukan jalan lain, lewat atap dari bagasi, terus masuk lewat atap bagasi, terjun bebas ke lantai dekat sumur. Dan jalan ini pun kemarin ditutup oleh adik saya. Namun ia tetap bisa masuk ke rumah. Kami semua heran, lewat mana lagi ia masuknya.

 

Luar biasa, bukan? Katanya hewan itu tidak bisa berfikir, namun melihat Pussy, saya seperti melihat sosok manusia. Otaknya terus berfikir layaknya manusia berfikir, bahkan mungkin ia punya spirit yang jauh lebih dari manusia dalam hal never give up to try. Bukan hanya itu, saat suara orang tilawah dari radio terdengar sebelum shubuh dari meunasah dekat rumah saya, Pussy sudah bangun dan beraksi. Ia sudah naik ke atap rumah saya mencari jalan masuk ke rumah. Saat ada banyak manusia lainnya masih terlelap dalam tidurnya, Pussy sudah bangun, lebih pagi dari manusia lainnya. Terkadang, sebelum adzan shubuh berkumandang ia sudah masuk ke rumah.

Pussy juga rajin, kalau ia melihat tikus ada di rumah langsung dikejarnya. Bahkan ia cukup jeli mengawasi celah-celah dimana tikus-tikus itu sering muncul. Seperti halnya saat ia masuk ke kamar saya langsung deh duduk manis disudut ruang berjaga-jaga jika tiba-tiba tikus muncul. Lihatlah picture dibawah ini, guys. Gimana ga gemas coba sama si Pussy ini, hehehe.

Rumah saya dan bibi cukup berdekatan. Dari kamar adik bungsu saya, keluar sedikit langsung deh bisa masuk ke rumah bibi lewat pintu samping. Dan biasanya Pussy suka mangkal disitu. Jadi saat saya buka pintu kamar adik saya, lalu masuk ke rumah bibi, ia langsung mengikuti dari belakang. Saat saya dan bibi lagi asyik ngobrol, ia berbaring aja dilantai, seakan-akan ikut mendengarkan perbincangan kami.

Saat sepupu saya datang melihat si pussy, langsung ia ngomel, “ini kucing masuk lewat mana lagi sich?” “Pussy mah punya banyak jalan untuk masuk ke rumah.” Jawab saya. Sepupu saya tanya lagi, “kok dikasih nama pussy, ini kan kucing cowok.” Hah? Kucing cowok? Saya terkejut. Ah sudahlah nama itu sudah cukup melekat padanya, hehehe.

Setelah sekian lama saya baru nyadar kalau Pussy itu kucing cowok. Yang herannya jika ia lelah, ia langsung masuk kamar saya dan tidur diatas sajadah. atau tidur di ruang tengah diatas sajadah ibu saya. Pernah suatu hari saya pulang ke rumah ia sudah di kamar, tidur dari siang sampai sore. Terkadang disaat saya lagi mengetik atau menulis di ruang tengah menggunakan laptop, ia duduk disamping menemani saya saya sampil mengosokkan kepalanya di kaki saya. Apa memang begitu ulang kusing ya?

 

Ya Allah, ini kucing aneh banget, belum pernah saya jumoai kucing begini. Jika kucing peliharaan dan dirawat sedemikian rupa mungkin biasa bersikap begitu, namun ini, terlalu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Pernah suatu hari Pussy bikin ibu saya kesel, sangking keselnya ibu mengambil sapu lidi dan memukulnya. Pussy berlari keluar, duduk di gudang rumah saya meringkuk. saat pintu kamar adik saya terbuka, ia tetap saja meringkuk, biasanya sedikit pintu berbunyi ia langsung nyelonong masuk. namun hari itu ia tetap aja meringkuk.

Lalu ibu bilang ke saya soal Pussy meringkuk di gudang, pintu terbuka namun ia tetap ga masuk ke rumah pasca ibu memukulnya dengan sapu lidi. Karena penasaran saya melihatnya, saat saya datang ia menatap saya seakan mengiba, matanya berkaca. Saya ga tahan untuk tidak mengelus kepalanya sambil berkata, “jangan ngambek lah, habis tadi kamu bikin ibu kesel sich.”

Pasca itu saya masuk ke rumah, tidak sampai tiga menit, eh si Pussy udah masuk rumah lagi, hahaha, ngambeknya sudah mereda. Ah ada banyak cerita Pussy guys, ga sanggup saya urai semua disini, namun yang paling penting saya belajar untuk tidak pernah menyerah darinya. Disaat saya lelah dan malas lakuin sesuatu, melihat Pussy saya jadi termotivasi. Kadang pikiran liar saya mengkhayal, “andai Pussy manusia, saya punya teman bicara dan bertukar pikiran.” edan, hahaha.

 

Baca Juga My Red Sweetie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *