Blog

BEHIND THE VIEW

Behind the view. Mega sudah tenggelam di angkasa, saat Ara keluar dari rumah kostnya menuju jalan raya Margonda. Ia ada kelas Conversation Bussiness in English malam itu. Dan kelas malam itu adalah kelas perdana di level 6.

Level 6 Conversation Business in English adalah level terakhir untuk mendapat sertifikat kelulusan. Dimana pada level ini mereka belajar tentang negoisasi, meeting, arrange agenda, making appointments, presentation, etc, dan semuanya dalam bahasa Inggris.

Ara mahasiswi pertama yang masuk ke dalam kelas. Ruangan kelas masih sepi dan terasa begitu dingin, ia tidak tahu remote control AC-nya dimana. Beruntung ia membawa jaket malam itu. Sambil menunggu yang lain datang ia  pun tilawah Qur’an.

Satu persatu mahasiswa lain masuk ke kelas, beberapa diantaranya sudah ia kenal karena pernah sekelas saat level 5. Tiap ada yang datang membuka pintu kelas Ara menoleh, berjaga-jaga jika gurunya muncul. Tepat pukul 19.00. Pintu kelas terbuka dan sosok lelaki dengan tubuh cukup proporsional masuk ke dalam kelas sambil tersenyum. Good evening guys!

“Hmm, kata pembukanya bukan salam, rupanya guru di level 6 ini seorang Nasrani.” Lirih hati Ara. Ia join kelas Conversation Business in English dari level 3. Saat itu gurunya seorang perempuan, Miss Lily, juga seorang Nasrani. Saat di level 4, gurunya seorang laki-laki, pak Arya, seorang muslim. Dan saat level 5, gurunya Bu Ratna, juga seorang muslimah. Apakah ini sebuah kebetulan guru kelasnya selang seling begini, baik dari sisi gender dan juga religion? Entahlah.

Suara hati Ara terhenti. Guru barunya memperkenalkan diri, “My name is Daniel, nice to meet you guys. I have a game, who get my ping pong ball (Mr. Daniel shows the ping pong ball on his hand) introduce yourself first, and then thrown it to your friend, okay?” “Yes sir,” jawab kami serentak.

Suasana kelas penuh tawa dan lemparan ping poll ball. Ada sekitar 15-20 orang mahasiswa/i dalam kelas tersebut. Giliran Ara memperkenalkan diri, cukup mendapat perhatian, terutama dari Mr. Daniel sebab ia satu-satunya mahasiswi dari luar pulau Jawa. Malam itu tidak ada materi, hanya perkenalan dan membuat kesepakatan tentang aturan dalam kelas, plus sedikit pengantar dari Mr. Daniel tentang apa saja yang akan mereka bahas selama kelas berlangsung hingga masa ujian kelulusan tiba.

Saya pikir Mr. Daniel cukup pantas mengikuti stand up comedy guys, karena ia punya bakat membuat seisi kelas terpukau hingga detik terakhir. Bel kelas pun berbunyi, tanda waktu pelajaran habis. Kelas malam itu berakhir, baru akan bertemu lagi lepas weekend.

And you know what? Jika kelas dimulai selepas weekend, jangan berharap pelajaran akan segera dimulai. Kebiasaan Mr. Daniel diawal pertemuan akan selalu bertanya one by one mengenai agenda apa yang dilakukan para mahasiswa/i  nya saat weekend. Tidak ada yang tahu soal ini.

Ara beruntung walauPUN sempat terkejut ketika Mr. Daniel mengintrogasi mereka one by one tentang kegiatan weekend saat kelas berikutnya berlangsung. Alhamdulilah, ia ada agenda meeting dengan komunitasnya saat weekend, sehingga punya bahan apa yang hendak diceritakan di kelas. So pastikan kamu punya agenda tiap weekendnya jika masuk kelas Mr. Daniel, guys. Jika tidak, kamu akan menjadi orang linglung yang tidak tahu mau bercerita apa saat ditanya. Dan kamu juga akan menjadi bulan-bulanan Mr. Daniel selama kelas berlangsung, pilih mana? Hehehe…

Kelas di level 6 ini berbeda, selain banyak diskusi, thema bahasannya juga beragam. Mr. Daniel tidak terpaku pada text book. Ia justru memancing diskusi dengan thema-thema terkini dan beragam, baik tentang bisnis, politik, cinta, artis, cuaca, etc. Semuanya ia kuasai, bukan hanya berita-berita dalam negeri, namun juga berita luar negeri.

Hal ini bikin Ara bertanya-tanya dalam hati, “berapa banyak waktu yang gurunya ini pakai untuk membaca setiap harinya untuk up date informasi. Sedangkan ia juga punya jadwal mengajar yang lumayan padat tiap pekannya.”

Pagi itu, suasana setelah shubuh masih agak gelap, Ara dan teman kostnya Rama berencana joging di seputaran kampus UI. Tiap weekend memang banyak yang joging dan melakukan olah raga lainnya di kampus UI. Saat mereka sudah memasuki dan mengitari kampus beberapa kali, sambil melepas lelah dipinggir lapangan Ara bertanya pada Rama tentang sebuah jembatan yang ia dengar kisah horornya dari Mr. Daniel. Ara sudah sering keliling UI, namun ia belum pernah melihat jembatan itu. Ia penasaran jembatan tersebut letaknya dimana. Akhinya Rama mengajak Ara ke jembatan tersebut.

Jembatan Teksas

Inilah jembatan Teksas yang terkenal angker itu. Teksas adalah singkatan dari Teknik dan Sastra. Sebab jembatan itu berdiri diantara Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra UI. Langit sudah mulai agak terang saat Ara dan Rama sampai kesana, burung pun berkicauan dengan riangnya. Hmm, malam hari jembatan ini terkenal angker, ada banyak penampakan kata Mr. Daniel. Namun jika dilihat pagi begitu, viewnya sungguh menawan. Siapa tahu ada cerita horor dibalik view indah begini.

Kejahatan bisa dilakukan oleh seseorang pada seseorang, namun pada akhirnya berimbas pada banyak orang. Setidaknya begitulah Ara menyimpulkan. Kejahatan menular, begitu pun halnya dengan kebaikan. Semua kembali kepada kita, hendak menularkan apa.

Mr. Daniel bercerita ada seorang wanita yang pulang di malam hari dari kampus waktu itu melintasi jembatan tersebut, lalu perempuan tersebut diperlakukan dengan cara yang sangat tidak baik hingga menghembuskan nafas terakhirnya dan di lembar ke bawah jembatan. Pasca kejadian itulah jembatan tersebut ada penunggunya. Perempuan yang tewas dengan cara yang tidak baik itu sering kali menganggu siapa saja yang melewati jembatan tersebut di malam hari. Begitulah cerita yang beredar.

Terlepas cerita tersebut benar atau tidaknya. Ara menatap mentari yang mulai menyembul di balik awan di angkasa. Matahari itu memberi sinar yang sama. Ia tak perduli apakah tempat tersebut angker ataupun tidak. Ia tetap meyinarinya. Ia tak pernah membedakan tempat mana yang pantas mendapat cahayanya. Ia menyinari dan membagi kehangatannya sama pada setiap sisi bumi.

Manusia, seharusnya juga begitu kan? Tak melihat perbedaan status, ras, suku, atau apapun. Toh perbedaan itu indah, seperti langit yang terlihat biru, warna awan yang putih, jembatan Teksas yang merah, terasa indah laksana taman yang dipenuhi dengan bunga warna warni. Namun jika semuanya senada, keindahannya menjadi berkurang, bukan?

 

Behind the view you can learn something. Maybe a story that make you sad or happy, but keep smile and be spirit. Thank to Allah for everything, because each story teach you more about life. How life must be going on…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *