Blog

BAHAGIA ITU ADA DISINI

Bahagia itu ada disini. Pagi Angkasa! Lama kita tak bicara ya, tenggelam dengan dunia kita masing-masing, sedangkan waktu berpacu begitu cepatnya.

Tak terasa sudah dipenghujung tahun lagi. 🙂 Tanda sebentar lagi tahun baru akan kita masuki insya Allah. Akan seperti apa tahun baru nanti kita ukir, sangat bergantung bagaimana tahun ini akan kita akhiri.

Di dunia ini banyak banget orang mencari kebahagiaan seakan-akan bahagia itu jauh sekali ya mesti dicari-cari segala, menurut mu bahagia itu apa sich, guys?

Ada seorang laki-laki dengan jabatan bergengsi, memiliki penghasilan tinggi dan istri serta anak yang juga berpendidkan tinggi. Saat ia melajukan kendaraannya seorang diri di area sebuah persawahan untuk melihat sebuah lokasi proyek yang akan ia bangun, ia melihat sebuah keluarga petani sedang duduk makan bersama sambil bercanda dengan riangnya dipinggir persawahan. Hatinya tiba-tiba berbisik, “Bahagia sekali keluarga petani tersebut bisa menikmati waktu bersama keluarga seperti itu.” Sedangkan ia siang dan malam sibuk bekerja bahkan sering keluar kota. Istrinya pun cukup sibuk dengan aktivitasnya, sehingga di saat dirinya free time justru istrinya tak bisa menemani, anaknya juga punya aktivitas tersendiri. Jarang sekali mereka bisa berkumpul bersama-sama. Secara materi mereka punya segalanya, bahkan berlebih, namun terasa masih ada yang kurang, yakni kebersamaan.

Sebaliknya, sang petani berucap pada istri dan anaknya, “Lihat mobil itu, keren sekali, bahagia banget jika kita bisa punya mobil begitu dan jalan-jalan bersama.”

 

Ada juga sepasang suami istri melihat pasangan lain bersama anak-anak mereka, berucap, “Bahagia banget mereka memiliki buah hati, sehingga punya regenerasi, sedangkan kita hingga kini masih berdua saja.”

Sedangkan si pasangan yang memiliki anak tersebut melihat pasangan ini berucap, “lihatlah pasangan itu, bahagia banget punya waktu berdua begitu, entah kapan kita bisa begitu lagi.”

 

Ada lagi, seorang ibu rumah tangga, melihat seorang wanita karir baru saja berangkat kerja, berujar dalam hatinya, “enak banget punya pekerjaan di kantor, bisa tampil trendy terus, punya kesempatan pergi ke banyak tempat, sedangkan ini yang diurusi rumah terus, ga pernah habis-habisnya kerjaan.”

Sedangkan si wanita karir justru berkata dalam hatinya, “wah enak ya jika bisa tinggal di rumah saja, tidak harus lelah-lelah keluar rumah mencari nafkah begini, mau kerja di rumah malah ga punya skill.”

Pernahkah engkau dapati hal-hal seperti diatas disekitar mu, guys? Lihatlah bagaimana mereka memandang kehidupan, mengukur kebahagiaannya based on kondisi dan profesi orang lain. Padahal jika mereka mau menikmati dan mengsyukuri nikmat yang telah Allah beri, mereka menjadi orang yang paling berbahagia di dunia. Apalagi jika masing-masing dari mereka bisa mendengar suara hati dari orang-orang yang mereka anggap bahagia. Tentu mereka akan sangat bersyukur dianugerahi nikmat seperti yang mereka rasakan saat ini, right?

 

Secara tidak langsung, lingkungan membentuk kita mengukur kebahagiaan diri kita sendiri berdasarkan apa yang orang lain miliki, dan juga berdasarkan apa kata orang terhadap kitanya, padahal tiap kita unik. Allah memberi kelebihan dan kekurangan pada tiap jiwa, dan tentunya setiap kita juga memiliki perannya masing-masing. Dan hanya Allah dan kita-lah yang paling tahu diri kita sendiri seperti apa, namun kenapa terkadang kita justru lebih mempertimbangkan kata-kata orang lain ketimbang kata-kata dari dalam nurani kita sendiri?

Baca juga Logika Manusia

Saya teringat taujih ustad Nasrullah tentang Definisi Dunia. Apa itu dunia?

Sebagian orang beranggapan dunia itu cuma sementara jadi jangan terlalu dikejar, akhirat yang lebih utama, sehingga akhirnya orang-orang prioritas utamanya hanya ibadah di masjid saja, takut kaya karena takut hisabnya lama. Alhasil banyak muslim yang lumpuh dari sisi ekonomi, dan kehidupan kaum muslimin tertekan dari berbagai sisi dan lini. Inilah yang terjadi ketika kita salah dalam mendefinisikan tentang dunia. Lantas apa itu dunia?

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, “Dunia itu terkutuk/terlaknat, dan terklaknatlah apa-apa yang ada didalamnya kecuali yang ditujukan kepada Allah Swt dan dicapai dengan cara Allah Swt.

 

Blog ini terlaknat guys, kecuali blognya ditujukan untuk mengajak kepada Allah Swt. Waktu kita terlaknat, kecuali yang ditujukan kepada Allah Swt. Uang itu tekutuk, kecuali yang ditujukan kepada Allah Swt. Ilmu itu juga terlaknat kecuali yang ditujukan untuk Allah Swt. Sandal, mobil, rumah, semuanya terlaknat kecuali yang ditujukan kepada Allah Swt. Kelihatannya dunia semuanya ya, namun ketika semua ditujukan untuk Allah Swt, maka ia menjadi amalan akhirat. Seperti sandalnya Bilal yang sudah berada di Surga. Begitu pun pekerjaan kita, dan yang lainnya terlaknat kecuali ditujukan hanya kepada Allah swt.

 

Jadi apanya yang seharusnya ditinggalkan dan tidak perlu dikejar? Hal-hal yang membuat kita jauh dari Allah Swt. Ibadah yang banyak, namun bukan untuk Allah, melainkan karena ria atau ingin dipuji oleh manusia. Walaupun kesannya itu amalan akhirat, namun ia tidak akan membuat kita menuju surga Allah Swt, guys.

Jadi bukan apa yang kita lakukan di dunia ini, namun untuk apa kita melakukannya dan karena siapa. Jika tidak ada Allah Swt disana, dan tidak sesuai dengan aturanNya semuanya itulah dunia yang fana.

Seorang teman pernah berkata pada saya, “jangan sampai dapat jodoh online yah.”

“Lah, kenapa kok tiba-tiba bicara begitu?” Tanya saya.

“Kan ga enak nanti jika ditanya sama orang, masak bilangnya ketemunya di dunia online”, kata kawan saya. Saya semyum, terus balik tanya ke teman saya, “What is wrong with that?”

“Ga ada yang salah sich, cuma kan lebih enak kalau ditanya itu jawabnya jumpa di Masjid, jadi kesannya lebih baik.”

Hmm, saya senyum lagi, terus saya sampaikan ke teman saya, “sebenarnya kita menikah itu untuk siapa dan karena siapa sich? Karena Allah atau karena penilaian manusia? Ridha siapa yang dicari?

Persis seperti definisi dunia diatas, kalau kita cari uang, mau kaya raya, memang kesannya kejar dunia. Namun jika itu semua dilakukan landasannya karena Allah agar bisa menyebar lebih banyak kebajikan pada sesama, jadinya amalan akhirat, right? Nah sebaliknya jika beribadah banyak, namun ria, itu amalan larinya kemana? Atau berzakat banyak terus ujub itu larinya kemana?

 

Begitu pun soal pernikahan. Jodoh itu Allah yang tentukan. Bertemunya dimana juga Allah yang rencanakan. Jika jumpa perdananya via online, dan onlinenya di kelas belajar online dalam rangka mempelajari ilmuNya. Lantas salahnya dimana? Apa hanya karena opini dari manusia yang tidak berdasar lantas kita menolak anugerah yang Allah berikan kepada kitanya? Sedangkan sosok yang datang memang sesuai seperti yang kita harapkan.

 

Haruskah seseorang itu menjadi jodoh kita ketemunya kudu di masjid agar terlihat, or terkesan jumpanya di tempat yang baik? Jadi ini niatnya karena Allah or karena manusia sich? Ayok jawab, guys? 😀

Tahukah kamu kisah Masjid Dhirar? Sejatinya sebuah masjid dibangun memang untuk Allah, dan untuk mendekatkan manusia kepada Allah. Namun masjid Dhirar dibangun oleh kaum munafik untuk menciptakan perpecahan diantara kaum muslimin, sehingga akhirnya masjid ini diperintahkan oleh Rasulullas saw untuk dirobohkan. Masjid itu baik, namun jika dibangun dengan niat yang tidak baik, musnahlah ia.

 

Nah, saya pikir soal jodoh ini pun demikian. Selama meluruskan niat karena Allah, dan membangun interaksi sesuai dengan anturan yang telah Allah gariskan, baik online maupun offline is fine. Bahagia itu ada disini, dihati kita sendiri.

 

Terlalu mendengar kata orang bikin pusing dan stress sendiri, guys. Belum lagi entar mikirin mau pestanya gimana, kalau kecil ga semua dapat undangannya, repot kan jika mikirin apa kata orang terus. Mending mikirin kadar kemampuan diri kita sendiri deh, jika rezekinya hanya cukup untuk nikah saja, ya nikah dulu, walimahan bisa belakangan. Ngapain juga pusing mikirin kata orang pestanya kapan. Jika semua acuannya Allah saja, aman dan nyaman, hihihi.

 

Tiap kita punya standarisasi masing-masing, dan kita yang paling tahu standarisasi diri dan keluarga kita. Jadi komunikasi yang harus dibangun itu tentu dengan diri kita sendiri, dan dengan orang yang akan kita ajak untuk hidup bersama, plus pertimbangan dari keluarga kitanya, selebihnya ga perlu dimasukin ke hati. Bahagia itu ada disini, di hati kita sendiri. 🙂

 

Hati kita akan bahagia saat kita melakukan sesuatu just focus on Allah. Apapun yang kita kerjakan tujukan hanya untuk Allah Swt. Hanya dengan begitu kita tidak akan dihantui oleh rasa kecewa, sedih dan putus asa serta merana. Hati kita menjadi lapang dan tidak akan tertekan oleh penilaian manusia. Lagian belum tentu opini mereka benar adanya. Dan kita pun tidak akan terdorong untuk membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain, sebab kita sudah cukup happy dengan apa yang Allah beri.

 

“…Bersyukurlah kamu, maka akan Ku tambah nikmat Ku kepada mu.”

(Qs. Ibrahim, 14:7)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *