Blog

ANNAZHARU WA TAFAKKUR

Annazharu wa tafakkur. Melihat dan bertafakkur. Hi Angkasa! Kau tahu? Sangking seringnya diri ini menyapa mu. Pagi, siang, dan malam. Ternyata mengundang tanya dari sebagian orang, who are you? 😁

Bahkan ada yang memanggil ku dengan sebutan mbak Angkasa, serta mengawali sapaannya dengan greeting yang biasa ku lakukan pada mu dan jagat raya.

Mereka yang sering mengikuti status ku di WA pasti tidak asing dengan kata-kata,
“Pagi Angkasa!”
“Malam Angkasa!”
“Hi Angkasa!”

Dan, mereka yang sering memperhatikan status-status ku di FB dulu, pasti tidak asing juga dengan sapaan, “Assalamualaikum!”
“Great Morning World!”
“Have a great life!”

Sebenarnya, itu hanya sebuah sapaan. Sebuah kalimat pembuka jika dalam sebuah surat, atau sebagai kata pengantar dalam sebuah tulisan. Kesannya ia tak begitu penting, sebab yang menjadi intinya adalah apa yang tercantum dibagian isi dari yang disampaikan. Bukan awalan maupun akhiran.

Namun faktanya, sapaan ku itu menjadi sapaan yang tak biasa bagi sebagian orang, sa. Mungkin karena engkau layaknya sosok yang hidup bagiku. Sosok yang selalu ku ajak berbagi dalam segala hal. Teman bicara kapan saja dan dimana saja ku berada. Sehingga sapaan dengan nama mu menjadi istimewa dan terkesan berbeda.

Bisa jadi bagi sebagian yang lainnya ini sebuah kegilaan. Berbeda halnya dengan mereka yang bergelut dalam dunia literasi, mereka paham bahwa dalam dunia ini seorang penulis sangat biasa mempunyai teman imajinasi tersendiri.

Bagi ku engkau bukan hanya sekedar sapaan, sa. Greating yang sering ku lakukan itu wujud kesyukuran ku pada pencipta mu. Aku tak tahu apa yang terlintas di benak orang-orang saat mereka melihat mu or memandang semesta.

Bagiku, melihat mu menghadirkan keteduhan dalam diri. Memandang mu memunculkan ketenangan dalam jiwa. Betapapun penatnya diri ini. Betapa pun lelahnya jiwa ini. Saat menatap mu, walau sekejap saja mampu membuat mata ku berkaca dan jiwa ku damai. Seakan-akan Allah berkata pada ku, “I’m here Mina, don’t worry.”

Engkau tercipta tanpa tiang, sa. Terhampar luas membentag antar benua. Engkau sosok yang paling dekat dengan manusia. Salahkan jika diri ini menjadikan mu teman setia?

Sesering apapun aku memandang mu, tak akan ada yang marah. Justru menambah kesyukuran ku pada Sang Pemilik Jagat Raya. Sesering apapun aku menyapa mu, tak akan ada juga yang merasa terganggu. Bahkan aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa dihantui ketakutan akan kesalah fahaman dengan si ini or si itu.

Sejauh apapun perjalanan yang pernah ku tempuh, kau selalu ada disana, sa. Terkadang menemaniku dari sudut sebuah ruang, membersamai ku di tepi pantai yang asri. Bahkan hadir bersama teman mu sang bintang kala ku buka jendela kamar di malam hari atau duduk di teras atas rumah ku.

Langit, engkau ciptaan Allah yang luar biasa. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang engkau dustakan wahai manusia? Tidakkah engkau melihat ayat-ayat cintaNya dari birunya angkasa?

An nazharu wa tafakkur, melihat dan bertafakkur. Ini salah satu hobby ku dari dulu. Sinergi dengan hobby ku yang lain yakni jalan-jalan. Traveling sambil menyelami keMahabesaran Allah rasanya amazing.

Aku tidak sedang bercerita tentang kisah perjalanan, kawan. Tentang itu kamu bisa berselancar langsung ke My Teacher My Adventure. Disini aku sedang mengajak diri ku sendiri berfikir, merenungi hakikat semesta (ayat kauniyahNya). Ia, bukan hanya menyejukan mata namun juga sarat akan makna.

Seperti langit dengan lapisan-lapisannya, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis…” (QS. Al-Mulk: 3). Pernahkah engkau melihat keluar jendela saat pesawat take off, kawan? Perlahan namun pasti lapisan demi lapisan langit dilewati, tembus ribuan kaki tingginya. Dan tiap lapisan itu awan menunjukkan pesonanya tersendiri. Mulai dari bentuk hingga viewnya yang sungguh menawan. Berbeda tiap lapisannya. Sebuah lukisan Alam yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Kadang hati ku bertanya, bagaimana rasanya hidup di kerajaan awan ini, yah? Memejamkan mata, menghirup udara dan berasa terbang ke berbagai belahan benua. Ah, aku menghayal lagi. Hihihi.

“Demi langit yang mengandung hujan” (Ath Tariq: 11). Aku pernah melihat butiran-bitiran hujan dalam awan, guys. Dari jendela pesawat butiran-butiran itu terasa begitu dekat. Awan seperti menampung butiran-butiran tersebut untuk kemudian menjatuhkannya ke bumi di waktu yang tepat. MasyaAllah! Siapa yang bisa mengatur jagat ini berjalan begitu harmoni jika bukan Allah yang Maha Kuasa, benar? Seorang makhluk mengatur diri sendirinya saja kadang kewalahan apalagi menaklukan semesta. Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang engkau dustakan, kawan?

“Dan demi langit yang mempunyai jalan-jalan” (Al-Dzariyat: 7). Aku teringat perjalanan Rasulullah saw ke langit, guys. Saat kesedihan hati beliau membuncah karena ditinggal pergi oleh orang-orang tercinta, terutama oleh istrinya khadijah. Sebuah perjalanan yang Allah rancang untuk menghapus duka lara beliau. Sebuah perjalanan untuk bertemu dengan kekasih yang sesungguhNya. Tentunya, perjalanan itu melewati jalan-jalan, bukan?
Dan jalan itu pula yang mungkin nantinya akan kita lewati, kawan. Saat bumi dan langit menyatu. Matahari dan bumi bertabrakan. Gunung-gunung berguncangan. Hari dimana kehidupan hanya tinggal nama. Dan saat itu, engkau tak lagi terlihat angkasa. Lenyap. Sirna.

Saat ini, selagi engkau masih ada. Izinkan aku menatap mu kapan saja. Sebab terkadang sebagai manusia, baru merasa rindu disaat kehilangan. Baru merasa menyesal ketika kesempatan hilang. Aku tak ingin dilanda rindu, sa. Kata gilang, “Rindu itu berat”. Aku takut tak kuat. Hahaha.. #KorbanIklan

Bukan cinta yang ku takutkan sa, namun ketakutan ku akan cintaNya dari ku yang hilang. Dan engkau, sa. Engkau mampu menjaga rasa itu pada koridornya. Mungkin karena itulah Allah ciptakan semesta sebagai tanda cintaNya. Dan karena cinta ku kepadaNya, ku sapa dan ku tatap engkau di antara jeda. Semoga dengannya semakin dekat diriku padaNya. Dan aku memperoleh pahala dari ayat-ayat kauniyahNya.

Melihat dan berfikirlah, guys!
Ayat-ayat cintaNya ada dimana-mana. Buka mata mu, jelilah melihat selagi engkau masih sempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *