Blog

AKU, AYAH dan IBU kembali ke RUMAH

Aku, Ayah dan Ibu kembali ke Rumah. Sa, aku sedang memutar waktu, menelusuri lorong-lorong kehidupan. Tahukah kamu apa yang ku dapatkan? Lembar-lembar kenangan. Potret kesedihan dan kebahagiaan semua melebur menjadi satu. Dan dari tiap episode itu aku belajar sa, tentang transformasi sebuah nilai.

AYAH

Pada sosok ayah aku belajar tentang kemandirian. Aku masih ingat sa, bagaimana kemandirian itu dibentuk. Aku masih di tingkat Sekolah Dasar waktu itu, mendapat PR pelajaran Bahasa Indonesia untuk menuliskan sebuah telegram. Sudah ku baca buku pelajarannya, namun diri ini masih belum mengerti bagaimana menuliskannya. Lalu ku datangi ayah ku dan bertanya, “Bagaimana menulis sebuah telegram, yah?”, namun ayah bukannya mengajariku, melainkan berkata, “ini bukunya ada contoh disini, baca, lalu kerjakan”. Aku balik ke kamar dengan air mata berlinang. Aku sungguh tak mengerti gimana caranya menyelesaikan PR ku, sa. Namun diriku tidak punya pilihan lain selain mengerjakannya sendiri, menyelesaikan masalah ku sendiri. Begitulah kemandirian ku terbentuk sa. Duka anak pertama, tak punya kakak atau pun abang tempat bertanya, sedangkan orang tua sudah cukup capek bekerja di luar rumah, yang ketika pulang ke rumah mereka sudah cukup lelah untuk membantu/menemani anak-anaknya belajar.

Pada ayah aku juga belajar tentang kerja keras, sa. Hari itu aku ikut ayah ke kebun, kebiasaan ayah ku setelah pulang dari sekolah siang harinya, beliau istirahat sejenak, lalu berangkat ke kebun. Nah hari itu aku ikut beliau ke kebun. Kebunnya tidak jauh dari rumah sich, letaknya di desa sebelah. Jadi kami pergi dengan motor, aku duduk di depan. Bagiku itu piknik, pergi berdua dengan ayah ke kebun walau pun panas matahari menyergap dan kadang-kadang digigit nyamuk juga, rasanya berbeda. Aku sich hanya duduk menyaksikan apa yang ayah lakukan saja dari pondok kecil di kebun itu. Aku masih kecil dan dianggap anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menemani dan menghibur saja. Jadi apalagi tugasku selain duduk manis kan.

Pulang dari kebun hari sudah jelang sore, seperti biasa aku tetap duduk dibagian depan motor, sedangkan dibagian belakang motor hasil kebun berupa sayuran. Pas sampai ditikungan jalan, sebuah mobil melaju kencang menyerempet kami sehingga ayah kehilangan kendali motor, dan akhirnya motor kami menabrak pagar berduri dipinggir jalan Banda Aceh-Medan, sa. Aku menangis karena goresan kawat berduri mengenai tubuhku. Aku lihat tangan ayah juga berdarah. Namun beliau berusaha mendorong motor ke jalanan lagi, lalu mengendong ku menaiki motor untuk kemudian pulang ke rumah. Tak ada seorang pun yang melihat kecelakaan itu. Sedangkan mobil yang menyerempet kami mungkin juga tidak melihat jika kami terjatuh karena ulahnya.

Inilah dua kenangan masa kecil ku yang paling melekat dengan sosok ayah. Disatu sisi beliau tegas, namun disisi yang lain, aku tahu ayah menyayangi ku, terlihat jelas dari tatapan matanya saat ibu mengobati lukaku waktu itu.

Dari ayah, aku juga belajar tentang sosok laki-laki itu seperti apa sa, biasanya laki-laki itu rasa sayang mereka tidak terdeteksi, sebab mereka tidak terbiasa menunjukkan perasaannya, walaupun sebenarnya jauh di dalam hati rasa sayang mereka besarnya luar biasa meski pun ekspresi mereka biasa/datar saja. Are you agree?

Kata orang pantang bagi seorang laki-laki menangis, seakan-akan air mata hanya milik mereka kaum perempuan. Dan mungkin karena itu jarang banget air mata keluar dari matanya laki-laki. Namun aku pernah melihat ayah menangis sa, tepatnya saat bermunajat (berdoa) kepadaNya, aku melihat ayah larut dalam linangan air mata sambil tangan menengadah keatas. Disunyi malam itu aku melihat sesuatu yang tak biasa, itu pertama kalinya aku melihat beliau mengeluarkan air mata, didepan sang penciptaNya, Allah. Ada beban berat dipundak laki-laki yang tak mampu ia bagi pada orang-orang yang mereka cintai, dan jika beban itu tak sanggup lagi ia hadapi, kepadaNya lah tempat berlari untuk berbagi.

Pernah juga aku melihat ayah sedang rehat di depan televisi, namun matanya berkaca, air mata mengalir dipipinya, ketika beliau sadar aku melihatnya, dengan cepat air mata itu dihapusnya. Ku lihat layar kaca sedang tidak ada siaran yang memicu emosional. Lantas kenapa ayah menangis? Biasanya jika siaran TV emosional, penonton ikut terbawa. Nah ini siarannya lagi siara berita, tak ada berita duka juga. Dan itu bukan hanya sekali, pernah sekali lagi aku memergoki ayah begitu. Aku mulai membaca keadaan dan memperhatikan gerak-gerik ayah sejak saat itu.

Aku menemukan jawaban bahwa, disaat seorang lelaki merasa dirinya sudah tak memiliki sesuatu yang menurutnya patut dibanggakan, maka saat itu ia menjadi lebih sensitif. Pantas saja, rasa itu menghantui ayah ku, sebab beliau baru saja pensiun waktu itu. Merasa tak punya daya lagi untuk memberi untuk keluarga, sebab gaji pensiunan tentu berbeda dengan gaji saat kondisi masih bekerja aktif. Belum lagi kadang ketika berbicara dengan ibu, ada kata-kata ibu yang menurut beliau menyinggung perasaannya yang akhirnya justru berujung pada pertengkaran. Aku yang menyaksikan hal tersebut tahu letak permasalahannya dimana, ayah yang tiba-tiba sensitif karena belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri yang baru saja pensiun, sedangkan ibu yang tak mengerti keadaan sosok yang diajaknya bicara sedang dalam keadaan butuh perhatian lebih, bukannya mencoba memahami kondisi justru malah memancing emosi karena miskomunikasi diantara keduanya. Begitulah kondisi yang acapkali terjadi disekitar kita, right?

Alhamdulillah, sejak pensiun ayah rajin shalat Dhuha dan tilawah Qur’an. Sesuatu yang dulu jarang beliau lakukan, namun sekarang setiap lepas shalat Dhuha beliau tilawah Qur’an. Ada haru dalam hatiku melihat dan mendengar ayah menjaga kedekatan denganNya seperti ini. Dulu tiap Ramadhan khatam Qur’an saja tidak, namun sejak ayah pensiun aku dan ayah berlomba untuk khatam Qur’an di bulan Ramadhan. Kau tahu sa, ada bahagia yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kebersamaan ini nilainya tak bisa diuangkan. Ingin sekali rasanya bilang ke ayah, “tidak mengapa punya uang sedikit yah, asalkan bisa merasakan kenikmatan bermunajat dan berkahnya waktu bersamaNya.” Namun kata-kata itu hanya mampu ku simpan dalam hati saja. Aku bahagia di usia senjanya ayah ku memperkuat ikatan hubungan denganNya.

IBU

Pada Ibu aku belajar tentang semangat perjuangan. Menjadi anak yatim sejak bangku SMP plus dari keluarga yang cukup sederhana membuat ibu ku hidup dengan tempaan perjuangan yang panjang. Aku tak kuasa menahan air mata tak kala ibu bercerita tentang kisah hidupnya. Lengkapnya disini Perempuan Luar Biasa

Pada Ibu, aku juga belajar tentang pengorbanan dan ketulusan. Saat menikah dengan ayah, beliau relakan cincinnya dijual sebagai modal ayah bercocok tanam. Saat itu, ayah belum lulus PNS, hanya seorang petani hortikultura. Duluan ibu yang memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup memadai, baru kemudian perjalanan waktu membuat ayah dan ibu masing-masing memiliki pemasukan yang cukup untuk kebutuhan keluarga.

Pada Ibu, aku juga belajar memiliki hati yang kuat. Orang bilang, rumah tangga itu akan langgeng jika seorang lelaki memiliki sifat penyabar, dan seorang perempuan memiliki hati yang kuat. Sungguh! Aku melihat hal ini dari kedua orang tuaku. Ayah ku cukup penyabar menghadapi ibu ku, dan ibu memiliki hati yang cukup kuat dalam menyikapi setiap tindak tanduk ayah ku.

Seperti halnya ayah yang mendekat kepadaNya sejak masa pensiun, Alhamdulillah ibu juga demikian. Dulu, tiap diriku mengajak ibu ke pengajian, seminar atau apapun, beliau jarang mau ikut. Alasannya sibuk, capek, ga sempat. Ada aja alasannya. Aku sengaja mengajak ibu ke banyak acara agar beliau bisa belajar, jika aku sendiri yang menyampaikan takutnya terkesan mengurui. Lagian aku juga ingin ibu ku berkembang dan tahu perkembangan zaman, tidak hanya tahu urusan dapur saja.

Alhamdulillah selama pensiun ibu sudah mulai mau pergi pengajian rutin tiap pekan. Pemahaman agama ibu dulu minim, namun ibu punya jiwa belajar yang kuat. Aku senang ketika tempo hari ibu minta dibelikan Alqur’an terjemahan yang besar agar mudah belajar arti perkata. Alhamdulillah, hanya itu yang mampu terucap dalam hati. Dulu rumah sepi, bak kuburan kesannya. Semua sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Ketemuan di malam hari just sekedar sapaan ala kadarnya, lalu tenggelam dengan tugas masing-masing. Namun kini, sejak kedua orang tua pensiun, kebersamaan itu indah banget rasanya. Apalagi melihat keduanya memperkuat interaksi denganNya. Alhamdulillah, ayah dan Ibu kembali ke rumah.

Orang bilang pasangan hidup itu mirip karakternya, sepertinya memang demikian, ibu ku kalau marah itu mirip banget dengan ayah saat lagi tegas, namun disisi lain kasih sayang ibu juga tidak terbatas. Ibu orangnya kreatif, terkadang ada saja ide yang muncul dikepala beliau, sedangkan ayah punya jiwa seni yang tinggi. Kertas layangan saja bisa menjadi ukiran yang memukau di tangan ayah. Dan kertas tersebut bisa dipakai buat hantaran nikahan saudara waktu itu. Awalnya aku tak tahu itu hasil karya ayah jika tidak melihat sendiri bagaimana beliau melakukan potongan demi potongan. Tulisan tangan ayah juga bagus banget, namun sayang darah seni ini turun pada ku just setengah saja. Alhamdulillah juga diturunin setengah, dari pada tidak sama sekali, hehehe.

Katanya, pasangan hidup itu saling melengkapi. Aku melihat hal ini pada kedua orang tua ku. Kadang ide muncul dari ibu, namun ayah yang mengesekusi ide tersebut. Kadang ayah punya kemauan akan sesuatu, eh ibu yang mewujudkan keinginan ayah tersebut. Begitu pula dalam hal keuangan, kadang uang ayah tidak mengcukupi untuk kebutuhan bulanan, ibu yang kemudian melengkapi kekurangan. Pasangan hidup itu satu team kehidupan, tidak perlu saling gengsi, namun yang perlu dikedepankan adalah komunikasi, walaupun kadang juga miskomunikasi, namanya juga manusia, right?

Aku tahu orang tuaku tidaklah sempurna, banyak banget kekurangan mereka, namun justru dari kekurangan mereka itu aku bisa belajar banyak hal agar kedepannya tidak mengulang kesalahan yang sama. Aku bersyukur Allah menganugerahi ku keduanya. Jika merujuk pada konsep ilmu parenting saat ini. Orang tua ku memang punya banyak PR pengasuhan pada anak-anaknya. Namun mereka sudah cukup memberi apa yang mereka bisa beri. Semoga Allah memberi kebaikan yang banyak pula untuk keduanya di dunia dan juga di akhirat kelak. Aamiin…

 

AKU

Allah yang Maha Baik menjaga ku dengan baik. Walau masa kecilku lebih banyak bersama nenek karena kedua orang tua ku sibuk bekerja di luar rumah. Aku tetap belajar banyak nilai-nilai. Dan nilai-nilai itu tidak ku dapati dalam bentuk kata-kata, melainkan dalam bentuk tindakan yang ku lihat dalam keseharian. Dari kecil, aku terbiasa membaca keadaan dan berdialog dengan hati ku sendiri, lalu menuangkannya dalam lembaran-lembaran kertas.

Allah menuntun ku pada hidayah sejak aku menginjakkan kaki di tingkat SLTA. Tepatnya melalui sebuah pasantren kilat azzam ku untuk mengunakan hijab dimana pun berada, menguat. Hijrah ku memang bertahap, saat itu aku baru istiqomah berhijab. Baru saat kuliah aku hijrah berbusana Muslimah. Ah ini cerita yang cukup panjang jika dituangkan disini, biarlah menjadi kisah tersendiri dalam bentuk buku nantinya, insya Allah.

Seperti halnya ayah dan ibu yang dulu sibuk dengan kerjaan. Aku pun demikian. Hari-hari ku jarang di rumah. terutama sejak SLTP. Kelar jam sekolah, aku tidak pulang ke rumah, sebab ada kelas tambahan. Jarak rumah yang cukup jauh, sangat melelahkan di jalan jika harus bolak-balik pulang. Apalagi andalannya waktu itu just labi-labi (transportasi umum di Aceh), belum boleh bawa motor ke sekolah. Begitu pun saat menginjakkan kaki di SLTA, lagi-lagi aku jarang pulang lepas jam sekolah selesai, sebab siangnya ada les untuk anak-anak kelas inti. Jadi pergi pagi, pulangnya sore hari ke rumah. Begitulah setiap hari. Tugas ku di rumah dengan jam kepulangan seperti itu ya cuma cuci piring saja.

Saat kuliah apalagi, dengan kesibukan praktikum ini dan itu, aku ngekost selama dua semester pertama dekat kawasan kampus agar tidak terlambat masuk laboratarium. Pulang ke rumah just waktu weekend, itu pun jika tidak ada agenda organisasi. Hari-hari ku sibuk dengan belajar dan berorganisasi. Namun justru saat ngekostlah diri ini mulai terjun ke dapur untuk memasak, sebab hidup sendiri semua mesti diurus sendiri. Saat masih tinggal di rumah soal masak sudah ibu yang menghandle. Baru pada semester ketiga aku berhenti ngekost karena ayah sakit parah, ga bisa lagi keluar rumah, jadi ibu meminta diriku pulang dan kuliah boleh bawa motor agar mobilitasinya cepat.

Selama kuliah aktivitas ku dominasinya belajar dan berorganisasi. Belum kelar sidang tawaran kerja sudah memanggil, namun ibu tidak mengizinkan ku menerima tawaran tersebut sebab lika liku perjuangan study ku cukup panjang dan berliku. Ibu khawatir kalau nantinya aku tertahan lagi untuk lulus sehingga terpaksa tawaran kerja tersebut ditolak dan fokus menyelesaikan study yang tinggal selangkah lagi.

Alhamdulillah satu bulan setelah sidang tawaran kerja di NGO asing kembali hadir. Alhamdulillah saat itu ibu mengizinkan ku untuk menerima tawaran tersebut sambil mengurus berkas skripsi dan persiapan untuk wisuda. Jadi selepas kuliah aku sibuk bekerja, waktu di rumah just sebentar saja, apalagi jika kerjanya harus keluar kota. Kadang sempat juga diri ini berfikir, kapan punya waktu untuk keluarga (orang tua), dari dulu sibuk sendiri, belum sempat berbakti. Dan mungkin karena itu juga proses ta’aruf ku gagal berkali-kali, karena jika jadi, pastinya waktu ku untuk berbakti pada orang tua tak mungkin ada lagi. Sebab bagi seorang perempuan, setelah menikah suami menjadi prioritas utamanya, baru kemudian orang tua, berbeda halnya dengan laki-laki yang orang tua tetap menjadi prioritas utamanya selain keluarga sendiri.

Aku bersyukur atas semua anugerah ini ya Rabb, dan kini hampir empat tahun lamanya diri ini di rumah, membersamai orang tua dan bekerja dari rumah. Aku bisa merasakan nuansa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Aku menikmati keberadaan ku di rumah sa, sebuah rasa yang dulu ku berpikir how can I can stay at home? Ternyata berada di rumah itu menyenangkan, dan aku bisa belajar banyak hal; how to be a child, a wife, and a mom. Semoga ini menjadi pertanda dariNya, bahwa waktu untuk memiliki keluarga sendiri sudah dekat insya Allah. Aamiin…

Sa, aku, ayah dan ibu kembali ke rumah setelah sekian lama kami sibuk dengan urusan masing-masing di luar sana. dan kini rumah menjadi pusat aktivitas kami semua. Alhamdulillah atas nikmat ini ya Rabb. Semoga kami semua bisa menjadi a Home Team to Jannah insya Allah. Aamiin…

Baca juga The Power of Together

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *